SOCIAL MEDIA

[Bookish Talk] #FBBKolaborasi: 7 Manfaat Membaca Novel

10 September 2018


Selamat hari Senin, man-teman πŸ™‹


Sudah lama banget aku nggak update blog ini, sekitar empat bulanan ya. Andai kata ini rumah, debunya mungkin udah setebel novel Harry Potter #5 kali ya *ambilkemoceng πŸ˜‚

Anyway, ada yang tahu bulan September ini kita memperingati hari apa? Apa? Hari Aksara Internasional? Hari Gemar Membaca & Hari Kunjung Perpustakaan? Yup, bener banget. Hari Aksara Internasional jatuh pada tanggal 8 September, sedangkan Hari Gemar Membaca & Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap tanggal 14 September. Dan dalam rangka memperingati “hari besar”-nya para bookworm ini, Female Blogger of Banjarmasin mengadakan #FBBKolaborasi yang bertemakan all about books.





Para kutu buku, mana suaranyaaah…??? :D



Sebenernya aku bingung juga mau nulis apaan buat FBB Kolaborasi kali ini. Tapi, setelah bertapa (baca: leyeh-leyeh manjah) selama beberapa waktu, akhirnya aku putuskan untuk menulis tentang tujuh manfaat membaca buku, terutama novel. Dan ketujuh manfaat yang kutuliskan di sini berdasarkan apa yang aku pribadi rasakan selama ini.

[Baca juga: 7 Best Books I Read in 2017]


Kita semua tentunya sudah tahu bahwa membaca memberikan banyak manfaat. Dari membaca kita memperoleh beragam informasi. Namun, bagaimana dengan membaca karya fiksi seperti novel? Manfaat seperti apa yang bisa kita dapatkan? Baca terus tulisan ini sampai habis ya Qaqa~ 😁


Sebagian koleksi novelku
1. Memperluas wawasan


Beberapa orang mungkin masih terjebak dalam stigma bahwa membaca novel itu nggak berfaedah, sebab novel kan “hanya” produk khayalan dari penulisnya. Faktanya, menulis novel fiksi pun membutuhkan riset yang nggak main-main. Bahkan aku pernah membaca (maaf, aku lupa di mana), penulis serial Ther MelianShienny MS, menghabiskan waktu riset hingga 12 tahun untuk membangun dunia dalam novel ini *CMIIW

Contoh lainnya adalah novel Aroma Karsa karya Dee Lestari. Kalo kamu sudah baca novel teranyar dari Dee ini pasti langsung bisa melihat dan merasakan betapa ia sangat serius dalam riset dan penggarapan novel ini. Perpaduan antara kemampuan olfaktori dan legenda Jawa Kuno sebagai latar belakang ceritanya sukses menghadirkan aura mencekam sekaligus memikat.

Novel-novel yang sudah melalui riset mendalam semacam ini tidak saja menghibur kita para pembacanya, tapi juga bisa memberikan informasi baru. Beneran deh, kalau nggak baca Aroma Karsa, aku nggak bakal tahu kalau di dunia ini ada yang namanya kemampuan olfaktori πŸ˜…



[Baca juga: Resensi Aroma Karsa]


2. Memperkaya kosakata


Ini adalah manfaat yang benar-benar aku rasakan dari membaca novel, baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris. Sebagai seorang penerjemah buku-buku fiksi, membaca banyak novel dari berbagai genre dan gaya bahasa benar-benar membantuku dalam menjalani profesi ini. Bisa dibilang, novel sudah menjadi kamus penting layaknya KBBI dan thefreedictionary. Jadi, membaca novel bagiku, selain sebagai kesukaan, juga merupakan bagian dari profesi. Berfaedah banget kan? 😊


Novel terjemahanku yang terbit tahun 2017
[Baca juga: CMIIW - Tell Me about It]

3. Meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas


Membaca novel, terutama yang bergenre fantasi, akan membutuhkan daya imajinasi yang bagus agar kita bisa menikmati dunia yang dibangun oleh penulisnya. Ini berarti kita secara tidak langsung telah melatih daya imajinasi kita. Jika daya imajinasi bagus, maka kreativitas pun ikut menyusul. Daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi penting bagi kita, karena dari hal inilah kita dapat menghasilkan sesuatu. Contohnya, bagi penulis, mereka akan bisa melahirkan cerita-cerita baru yang segar.


Novel fantasi
Bagiku sendiri, menerjemahkan jadi lebih mudah jika aku bisa membayangkan dan masuk sepenuhnya ke dalam cerita dan setiap tokoh di novel yang sedang kuterjemahkan. Selain itu, dengan terus membaca berbagai macam bentuk kalimat, itu sama dengan mengasah kreativitasku dalam mengutak-atik kalimat agar tulisan dan terjemahanku jadi lebih efektif dan mudah dipahami oleh pembaca.

[Baca juga: Resensi An Ember in the Ashes]

4. Menumbuhkan empati

Pernah kan membaca novel yang mengaduk-aduk emosi? Kita dibuat termehek-mehek oleh tokoh utama yang dizolimi atau jengkel luar biasa gara-gara sikap ibu tiri yang jahat….



Lo kata ini sinetron? πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘





Becanda deng πŸ˜‹


Oke, serius. Pernah kan baca novel yang bikin hati serasa disayat-sayat? Nah, itulah empati. Saat kita bahagia, marah, atau sedih karena tokoh di dalam novel yang kita baca, secara nggak sadar kita sedang berempati. Novel fiksi memang efektif banget buat menumbuhkan sikap empati, karena, berdasarkan penelitian psikolog Raymond Mar, ternyata membayangkan cerita dalam novel fiksi dapat mengaktifkan bagian otak yang bertugas buat memahami orang lain. Keren ya.

Aku sendiri punya beberapa novel yang bikin aku baper berat, tapi yang paling membekas di ingatanku adalah Harry Potter dan Tawanan Azkaban punyanya J.K Rowling dan The Young Elites-nya Marie Lu. Kedua novel ini sukses bikin tenggorokanku tercekat menahan tangis karena sangat bersimpati pada Harry yang yatim piatu dan Adelina yang agak-agak psycho tapi hidupnya tragis *lapingus 🀧


5. Melatih kerja otak dan mempertajam ingatan

Bagi yang doyan melahap novel-novel bergenre kriminal, misteri, atau thriller, pasti terbiasa mengingat petunjuk-petunjuk yang tersebar di sepanjang cerita, lalu mengolah informasi itu untuk memecahkan teka-teki di novel tersebut. Novel-novel dari genre ini secara tidak langsung melatih kita untuk bersikap kritis, karena otak kita “dipaksa” bekerja keras untuk menganalisa informasi, menelusuri alur cerita, memahami logika, dan memikirkan berbagai kemungkinan penyelesaian dari misteri tersebut. Mungkin kedengarannya bikin pusing, tapi percaya deh otak kita akan jadi lebih terlatih dalam mengingat dan menganalisa.

Novel dari genre ini yang jadi favoritku adalah novel-novel karya Om Dan Brown. Semua novel karyanya aku suka banget, tapi yang jadi favoritku sepanjang masa adalah The Deception Point. Novel ini sangat menegangkan dan twist-nya pun luar biasa nggak disangka-sangka. Keren banget deh pokoknya.

[Baca juga: Hunting Buku Murah di Book Fair Banjarmasin]


6. Memberikan motivasi

Membaca karya fiksi juga bisa memberikan motivasi bagi pembacanya. Dulu aku suka banget baca komik Slam Dunk karya Takehiko Inoue dan serial Topeng Kaca dari Suzue Miuchi. Komik Slam Dunk bikin aku jatuh cinta sama olahraga basket dan dari komik ini pula aku banyak belajar soal teknik, strategi, dan peraturan dalam basket. Pun Topeng Kaca, memberiku banyak informasi terkait teknik akting. Sayangnya, ini komik nggak tamat-tamat juga sampai sekarang, padahal ini serial umurnya sudah puluhan tahun 😒

Komik Slam Dunk dan Topeng Kaca memberikan pelajaran yang berharga bagiku, yaitu untuk selalu berusaha dan tidak mudah putus asa dalam hidup. Kerasnya tempaan yang diterima Sakuragi dan Maya benar-benar jadi motivasi buatku di saat-saat aku merasa hampir menyerah. Kedua komik ini termasuk dalam daftar karya fiksi favoritku sepanjang masa dan sering kubaca ulang, bahkan hingga sekarang.



[Baca juga: Resensi Hopeless]

7. Mengusir kebosanan

Yep, karena fungsi utama novel dan karya fiksi lainnya memang sebagai alat penghibur di kala senggang atau bosan. Aku kalo ke mana-mana biasanya bawa satu novel. Kalo lagi males bawa novel yang ukurannya emang geday-geday, aku cukup bawa hapeku, soalnya ada iJak dan Playbook yang memuat banyak ebook kesukaanku. So, kalau ada keadaan yang memaksaku untuk menunggu lama, aku nggak perlu khawatir kebosanan karena ada bahan bacaan yang menemaniku. Ini lebih berfaedah daripada hanya main medsos buat stalking mantan, kecuali kalau kamu profesinya sebagai influencer yang memang harus selalu aktif di medsos πŸ˜€

Nah, itu dia manfaat membaca novel versiku. Kamu punya poin yang lain? Jangan ragu untuk tuliskan di kolom komentar ya πŸ˜‰


Seneng banget akhirnya bisa ikutan FBB Kolaborasi kali ini. Semoga bulan depan bisa ikutan lagi πŸ˜‡


 πŸŒΌ Selamat Hari Aksara Internasional 🌼
Hari Gemar Membaca & Hari Kunjung Perpustakaan
Sudahkah kamu membaca buku hari ini?




Hope it helps,


Gita 😘

14 comments :

  1. Waaahhh, Mbak Gita ini penerjemah ya? Kereeen, *two thumbs up*

    Andrea Hirata bilang, fiksi adalah cara terbaik untuk menceritakan fakta 😊, jadi untuk saya pribadi , membaca novel bisa membuat saya lebih sadar diri ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bgt. Nggak jarang dari novel yg kubaca, aku jadi dapat pencerahan dan cara pandang yg lebih baik.

      Dan setuju bgt sama Om Andrea πŸ˜„

      Delete
  2. Novel yg bikin aku gemar membaca kuinget bnget, yaitu Lima Sekawan : Di Pulau Harta. Novel pertama yg kubaca setelah lancar membaca, kelas 3 SD. Haha.. Selanjutnya novel2 mbah Enyd Blyton & Alfred Hitchcock jadi favorit. Kalo nggak ada penerjemah ky Gita mungkin aku belum bisa baca2 novel yg aslinya berbahasa asing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga suka bgt sama Lima Sekawan 😍😍😍

      Yup, kita memang harus banyak terima kasih sama para penerjemah yg sudah mengalihbahasakan novel2 keren kaya Lima Sekawan ini. Aku juga berharap bisa sekeren mereka suatu saat nanti 😁

      Delete
  3. Hello, mastah... I've just already be a novel-addict because of you

    Iya baru aja, karena waktu sekolah oleh bapak ga dibolehkan baca buku selain buku pelajaran, jadi aku baru tau ternyata seseru ini membaca novel... Karena yaah stigma baca novel sebagai bacaan unfaedah itu membekas di benakku krn pola parenting di rumah. Dan sekarang aku merasa novel banyak memberi perubahan di aku pribadi krn jadi lebih banyak mikir dan merenung dari cerita yang baru saja diselesaikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo aku dulu mamaku yg cemberut tiap liat aku baca komik ato novel. Ngga bisa bikin pinter, kata beliau πŸ˜… Untung Abah nggak ikut terjebak stigma itu. Yg penting jgn lupa belajar, kata beliau πŸ˜†

      Delete
  4. Membaca selalu berfaedah, bahkan novel. Karena novel fiksi pun perlu fakta-fakta yang sesuai dengan kenyataan terutama lokasi/landmark/dllnya. Iri sama rak bukunya. Lhaaa buku-buku saya simpan saja di lemari, hehehee.

    ReplyDelete
  5. Baca novel pastinya lebih ringan ketimbang baca buku psikologi atau pengembangan diri. Hehe. Aku juga dari dulu tim novel tapi sekarang mau belajar baca buku selain novel juga

    ReplyDelete
  6. Memperkaya imajinasi dan kreatifas itu bener banget. Kadang ya suka miris liat org2 tua pd bilang, "Iya anakku itu emang suka baca tp ga pinter soalnya yg dibaca novel bukan buku pelajaran." Well, pdhl dr novel banyak pembelajaran kehidupan yg bs kita dapet.

    ReplyDelete
  7. Poin yang nomor 2 tuh sangat aku rasakan apalagi karena peran sebagai penulis. Penulis yang kata-katanya luwes, ngalir , enak dibaca itu udah pasti sering baca. Pengen banget kayak Mbak Gita, bisa konsisten baca.

    ReplyDelete
  8. Setuju sama semua poinnya, terbukti semua soalnya. Poin nomor 4 itu, termasuk yang hang over parah kan Mbak? Ini aku banget. Padahal fiksi loh, tapi aku kok bisa segitu empatinya dengan si tokoh. Anak novel emang. Hehe.

    ReplyDelete
  9. Dari semua poin itu semuanya yang nisa dapat 😁 apalagi yang memperluas wawasan, benar banget waktu nisa baca novel itu pasti dapat wawasan yang baru, nama negara di luar sana, suatuadat dari mereka dan makanan atau ciri khas dari makanan itu sendiri, suka sering berfantasi, top deh manfaat novel. #timnovel😍😍

    ReplyDelete
  10. Ternyata banyak juga ya orang yang menghabiskan waktunya saat menunggu buat membaca. Apalagi aku, biasanya kalau mau jalan jauh pasti bawa novel minimal 1 ya kalau lagi bosan ada yang dibaca hahaha.

    Tapi, aku bingung ya sampai sekarang kenapa masih beum bisa jatuh hati sama novel fantasi. Apa mungkin karena imajinasiku belum terlatih hahahha.

    ReplyDelete
  11. Sepakat, siapa bilang fiksi tidak bemanfaat. Justru sy salut dengan para penulis fiksi. Mereka bisa menyampaikan masalah berat menjadi mudah dipahami. Menyampaikan nasehat tanpa menggurui. πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete