SOCIAL MEDIA


Akhirnya, kesampaian juga baca novelnya Dee Lestari. Iya, sebelum ini aku memang belum pernah baca karya-karyanya Dee. Entah kenapa belum tertarik aja, gitu. Tapi, pas baca blurb novel Aroma Karsa, ketertarikanku langsung terpantik. Aku rasa gara-gara aroma fantasi dan setting sejarah Jawa Kuno yang kental banget itulah yang menarik minatku. For your information, aku adalah penggemar kisah-kisah dengan setting sejarah, terutama sejarah kerajaan dan bangsawan-bangsawanan dari era Abad Pertengahan macam historical romance yang Medieval Era gitu.

Pas novel ini datang, kesan pertama yang aku rasakan ketika pegang novel ini adalah, "Gils, novelnya tuebeeelll 💓😍!" Aku emang penggemar novel-novel tebal, terutama kalo genrenya fantasi. Makin tebel novelnya, makin semangat aku bacanya, walau kecepatan bacaku masih saingan berat sama siput sih 🐌😂

Tapi, apakah isi novel tebal dan geday ini mampu membuatku terpikat seperti jumlah halamannya? Keep scrolling down, folks 😉


[Baca juga: Resensi Illuminae]

Detail Buku

Genre: fantasi, misteri, romance
Penerbit: Bentang
Penyunting: Dhewiberta
Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah
Ilustrasi sampul: Hezky Kurniawan
Ilustrasi isi: Hezky Kurniawan
Konsep layout isi: Febrian
Pemeriksa aksara: Achmad Muchtar, Mia F. Kusuma & Rani Nura
Penata aksara: Anik & Petrus Sonny
Foto penulis: Reza Gunawan
Cetakan pertama: Maret 2018
Tebal: 710 halaman
ISBN: 978-602-291-463-1

Blurb



Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia.

Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi.

Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum.

Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa dengannya.

Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu.

Sinopsis



"...Di sanalah tempat segala dewa-dewi tumbuhan menyebarkan serbuk mereka, salah satunya Puspa Karsa, yang memiliki daya pikat tiada duanya. Wangi kembangnya membuat apa pun dan siapa pun tergila-gila, bertekuk lutut pada kehendaknya..." hlm. 420.

Puspa Karsa adalah tanaman ajaib yang sering kali Raras Prayagung dengar dalam dongeng-dongeng yang diceritakan oleh neneknya. Konon, tanaman ini memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat. Siapa pun yang memilikinya akan dapat mewujudkan segala keinginannya. Akan tetapi, menjelang ajalnya, sang nenek berkata bahwa tanaman ajaib ini bukanlah dongeng semata, melainkan benar-benar ada di dunia nyata, dan Nenek meminta Raras untuk mencarinya.

Bertahun-tahun kemudian, Raras berhasil menjadi pengusaha yang luar biasa sukses. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang dia genggam di tangannya tidak lantas memadamkan obsesi lamanya yang terlahir dari amanat sang nenek. Raras masih berusaha untuk menemukan Puspa Karsa. Dan untuk itu, dia mengumpulkan orang-orang yang menurutnya mampu membantunya menemukan tanaman tersebut, salah satunya Jati Wesi si Hidung Tikus.


""Aku kenal banyak orang dengan penciuman luar biasa. Tidak pernah kutemukan satu orang pun seperti kamu. Cuma kamu yang kulihat bisa menikmati wangi-wangian surgawi dan punya kekuatan bertahan di neraka. Hidungmu tidak mendiskriminasi, Jati. Kamu orang yang kucari-cari."" hlm. 154.

Jati yang tumbuh di TPA Bantar Gebang yang penuh dengan sampah memiliki penciuman yang sangat tajam. Dia mampu mendeskripsikan aroma dengan sangat baik. Dan karena kemampuannya itulah dia akhirnya direkrut oleh Raras untuk bekerja di perusahaannya, atau begitulah yang Jati pikir.

Namun, Raras tidak pernah bermaksud mempekerjakan Jati di Kemara, perusahaan kosmetiknya yang juga memproduksi parfum. Dengan kemampuan olfaktorinya yang luar biasa itu, Raras ingin Jati membantunya mencari Puspa Karsa, karena tanaman legenda tersebut hanya bisa dilacak melalui aroma.

Yang tidak Raras sangka, Jati tidak tertarik sama sekali dengan misi Raras. Dia lebih suka meracik parfum. Justru Suma, putri tunggal Raras, yang bersemangat sekali untuk ikut dalam ekspedisi pencarian Puspa Karsa meskipun kemampuannya tidak sehebat Jati. Raras tidak menyerah. Walau Jati tetap teguh dengan keputusannya, Raras terus berusaha untuk mengumpulkan orang-orang yang dapat membantunya mencari Puspa Karsa.

Sementara itu, Jati pelan-pelan mulai menyingkap tabir misteri yang melingkupi masa lalunya. Tentang Anung, Randu, Malini, Ambrik, Dwarapala, dan di atas itu semua, Puspa Karsa.


[Baca juga: Resensi Boss and Me]

Ulasan




Sejak membuka halaman pertama novel Aroma Karsa, aku sudah merasakan semacam aura kelam dan mistis yang mendirikan bulu roma. Jalinan kata yang digunakan Dee untuk mendeskripsikan latar dan mengenalkan para tokohnya seperti punya sihir tersendiri. Halus dan memikat. Ditambah dengan penjelasan-penjelasan mengenai legenda tentang seorang raja dari kerajaan Majapahit yang dihapus dari sejarah, semakin membuatku terpesona.



Errr, tapi terus terang aja nih, aku sering roaming sama kata-kata yang ada di novel ini. Banyak kosakata bahasa Indonesia yang asing banget di telingaku atau nggak begitu lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari, setidaknya bagiku. Tapi, diksi yang digunakan Dee elegan sekali. Caranya menggambarkan latar atau situasi yang dialami oleh para tokoh terasa puitis. Bahkan, cara Dee menggambarkan hasrat yang dialami oleh tokoh laki-laki dan perempuannya indah dan memikat. Jauh banget dari kata vulgar, tapi tetep bikin panas dingin 😆😂



Namun demikian, yang paling aku rasakan selama membaca novel ini adalah progresnya yang macam jalannya kura-kura. Iya, plotnya lambat banget untuk ukuran seleraku. Penulis seakan benar-benar takes her time untuk membangun dunia Aroma Karsa dan mengenalkan masing-masing karakter di dalamnya. Anehnya, alurnya yang selow ini nggak bikin aku bosan. Sebaliknya, aku justru seperti tersihir untuk terus membuka halaman demi halamannya. Aku penasaran banget sama misteri Jati dan Puspa Karsa. Gemes banget rasanya sama petunjuk-petunjuk kecil yang dilempar penulisnya, bikin imajinasiku semakin liar menebak-nebak akhir cerita.



Karakter

Novel ini diceritakan dari sudut pandang orang ketiga serba tahu. Narasi tidak hanya dituliskan dari sudut pandang para tokoh utama, tapi juga dari para tokoh figuran. Tapi, yang membangun keseluruhan Aroma Karsa adalah tiga tokoh di bawah ini.

Jati Wesi adalah pemuda berumur 26 tahun. Karena kemampuan olfaktorinya yang luar biasa, dia dijuluki si Hidung Tikus. Jati digambarkan sebagai pemuda yang nggak banyak omong tapi berkemauan kuat. Sikapnya sedikit dingin, sering canggung, tapi otaknya tajam (kalau nggak mau dibilang sinting 😂). Di beberapa bab awal, aku kurang begitu bisa menangkap karakternya. Bagiku, dia seakan mengambang. Tapi, semakin jauh jalan cerita, karakter Jati pun semakin menguat. Overall, aku suka sama tokoh Jati, tapi, memang dia tidak termasuk tokoh favoritku. Namun, karakter Jati unik dan cukup menarik.


"...Jika ada manusia di Bantar Gebang yang mampu menghadirkan secercah kemungkinan di lautan ketidakmungkinan, manusia itu adalah Jati Wesi si Hidung Tikus..." hlm. 38.

Sejak awal, Raras Prayagung-lah yang menjadi penggerak cerita di novel ini. Bisa dibilang, karena obsesinya menemukan Puspa Karsa-lah cerita ini ada. Raras seorang wanita pebisnis yang sangat sukses. Dia cerdas dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Dia manipulatif tapi nggak kejam. Kemauannya teguh, tapi, sayangnya, itu bikin dia jadi obsesif.

Tanaya Suma adalah putri tunggal Raras sekaligus pewaris Kemara. Suma punya kemampuan yang sama seperti Jati. Bedanya, Suma tidak bisa mengendalikan kemampuannya. Penciumannya yang tajam justru membuatnya tersiksa dan terpenjara. Secara sifat, Suma mirip dengan ibunya: percaya diri, cerdas, berkemauan keras, tapi sedikit emosional. Dia juga adalah otak di balik rangkaian parfum Puspa Ananta yang membuat Jati sangat tertarik.



Editing dan Desain Sampul

Novel ini nyaris nggak ada typo, jadi proses bacanya nyaman banget. Yang jadi tantangan itu memang kata, nama, dan istilah dari bahasa Jawa dan Jawa Kuno yang sering bikin lidahku kepleset. Juga kosakata asing yang bertebaran di sepanjang novel ini. Selain itu, aku nggak ada masalah sih.

Untuk sampulnya, aku suka banget. Desainnya yang memuat lekukan-lekukan batang tanaman betul-betul menggambarkan isi novelnya. Jenis huruf yang dipakai pun serasi banget sama desain batang tanaman tadi. Warnanya juga aku sukaputih keabu-abuanmeskipun novel bersampul putih kayak gini riskan banget kena kotoran. Tapi, secara keseluruhan, kovernya instagrammable banget.



Final Verdict




Overall: 🌟🌟🌟🌟☆ (4.8 of 5 🌟)

Simpulan

Aroma Karsa ini novel yang unik banget, karena jarang sekali ada novel yang menyentuh indera penciuman sebagai objek utamanya. Lalu, perpaduan antara fakta ilmiah dan mitos dari Jawa Kuno juga menambah keunikan dan daya tarik novel ini. Melihat betapa rincinya deskripsi aroma yang dijabarkan, betapa detailnya setting yang melatarbelakangi setiap tokoh, betapa meyakinkannya jalinan mitos yang dituliskan oleh Dee membuatku berdecak kagum. Riset yang dilakukan Dee dalam menulis novel ini pastinya nggak main-main. Dan aku menghargai banget karya fiksi yang dilandasi riset mendalam seperti ini. Congratulations, Dee! You nailed it!

Rekomendasi

Kamu penyuka kisah fantasi berbalut mitos dan misteri? Novel yang satu ini wajib banget deh kamu baca. Dijamin nagih!

Novel ini sebenarnya aman dikonsumsi oleh remaja, tapi, menimbang beratnya diksi yang digunakan penulis, aku lebih merekomendasikan novel ini buat pembaca dewasa. Buat yang mau baca novel ini, aku saranin supaya siap sedia KBBI, baik yang cetak ataupun daring. Jaga-jaga aja kalo-kalo kamu roaming di tengah baca 😄


"Tan wěnang kinawruhan ng katrsnān, wěnang rinasan ri manah juga." hlm. 442.
Asmara. Tidak bisa dipahami, cuma bisa dirasakan akibatnya.


Hope it helps,

Gita 😉

[Blog Tour] Resensi Aroma Karsa – Dee Lestari

28 April 2018


Akhirnya, kesampaian juga baca novelnya Dee Lestari. Iya, sebelum ini aku memang belum pernah baca karya-karyanya Dee. Entah kenapa belum tertarik aja, gitu. Tapi, pas baca blurb novel Aroma Karsa, ketertarikanku langsung terpantik. Aku rasa gara-gara aroma fantasi dan setting sejarah Jawa Kuno yang kental banget itulah yang menarik minatku. For your information, aku adalah penggemar kisah-kisah dengan setting sejarah, terutama sejarah kerajaan dan bangsawan-bangsawanan dari era Abad Pertengahan macam historical romance yang Medieval Era gitu.

Pas novel ini datang, kesan pertama yang aku rasakan ketika pegang novel ini adalah, "Gils, novelnya tuebeeelll 💓😍!" Aku emang penggemar novel-novel tebal, terutama kalo genrenya fantasi. Makin tebel novelnya, makin semangat aku bacanya, walau kecepatan bacaku masih saingan berat sama siput sih 🐌😂

Tapi, apakah isi novel tebal dan geday ini mampu membuatku terpikat seperti jumlah halamannya? Keep scrolling down, folks 😉


[Baca juga: Resensi Illuminae]

Detail Buku

Genre: fantasi, misteri, romance
Penerbit: Bentang
Penyunting: Dhewiberta
Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah
Ilustrasi sampul: Hezky Kurniawan
Ilustrasi isi: Hezky Kurniawan
Konsep layout isi: Febrian
Pemeriksa aksara: Achmad Muchtar, Mia F. Kusuma & Rani Nura
Penata aksara: Anik & Petrus Sonny
Foto penulis: Reza Gunawan
Cetakan pertama: Maret 2018
Tebal: 710 halaman
ISBN: 978-602-291-463-1

Blurb



Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia.

Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi.

Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum.

Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa dengannya.

Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu.

Sinopsis



"...Di sanalah tempat segala dewa-dewi tumbuhan menyebarkan serbuk mereka, salah satunya Puspa Karsa, yang memiliki daya pikat tiada duanya. Wangi kembangnya membuat apa pun dan siapa pun tergila-gila, bertekuk lutut pada kehendaknya..." hlm. 420.

Puspa Karsa adalah tanaman ajaib yang sering kali Raras Prayagung dengar dalam dongeng-dongeng yang diceritakan oleh neneknya. Konon, tanaman ini memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat. Siapa pun yang memilikinya akan dapat mewujudkan segala keinginannya. Akan tetapi, menjelang ajalnya, sang nenek berkata bahwa tanaman ajaib ini bukanlah dongeng semata, melainkan benar-benar ada di dunia nyata, dan Nenek meminta Raras untuk mencarinya.

Bertahun-tahun kemudian, Raras berhasil menjadi pengusaha yang luar biasa sukses. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang dia genggam di tangannya tidak lantas memadamkan obsesi lamanya yang terlahir dari amanat sang nenek. Raras masih berusaha untuk menemukan Puspa Karsa. Dan untuk itu, dia mengumpulkan orang-orang yang menurutnya mampu membantunya menemukan tanaman tersebut, salah satunya Jati Wesi si Hidung Tikus.


""Aku kenal banyak orang dengan penciuman luar biasa. Tidak pernah kutemukan satu orang pun seperti kamu. Cuma kamu yang kulihat bisa menikmati wangi-wangian surgawi dan punya kekuatan bertahan di neraka. Hidungmu tidak mendiskriminasi, Jati. Kamu orang yang kucari-cari."" hlm. 154.

Jati yang tumbuh di TPA Bantar Gebang yang penuh dengan sampah memiliki penciuman yang sangat tajam. Dia mampu mendeskripsikan aroma dengan sangat baik. Dan karena kemampuannya itulah dia akhirnya direkrut oleh Raras untuk bekerja di perusahaannya, atau begitulah yang Jati pikir.

Namun, Raras tidak pernah bermaksud mempekerjakan Jati di Kemara, perusahaan kosmetiknya yang juga memproduksi parfum. Dengan kemampuan olfaktorinya yang luar biasa itu, Raras ingin Jati membantunya mencari Puspa Karsa, karena tanaman legenda tersebut hanya bisa dilacak melalui aroma.

Yang tidak Raras sangka, Jati tidak tertarik sama sekali dengan misi Raras. Dia lebih suka meracik parfum. Justru Suma, putri tunggal Raras, yang bersemangat sekali untuk ikut dalam ekspedisi pencarian Puspa Karsa meskipun kemampuannya tidak sehebat Jati. Raras tidak menyerah. Walau Jati tetap teguh dengan keputusannya, Raras terus berusaha untuk mengumpulkan orang-orang yang dapat membantunya mencari Puspa Karsa.

Sementara itu, Jati pelan-pelan mulai menyingkap tabir misteri yang melingkupi masa lalunya. Tentang Anung, Randu, Malini, Ambrik, Dwarapala, dan di atas itu semua, Puspa Karsa.


[Baca juga: Resensi Boss and Me]

Ulasan




Sejak membuka halaman pertama novel Aroma Karsa, aku sudah merasakan semacam aura kelam dan mistis yang mendirikan bulu roma. Jalinan kata yang digunakan Dee untuk mendeskripsikan latar dan mengenalkan para tokohnya seperti punya sihir tersendiri. Halus dan memikat. Ditambah dengan penjelasan-penjelasan mengenai legenda tentang seorang raja dari kerajaan Majapahit yang dihapus dari sejarah, semakin membuatku terpesona.



Errr, tapi terus terang aja nih, aku sering roaming sama kata-kata yang ada di novel ini. Banyak kosakata bahasa Indonesia yang asing banget di telingaku atau nggak begitu lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari, setidaknya bagiku. Tapi, diksi yang digunakan Dee elegan sekali. Caranya menggambarkan latar atau situasi yang dialami oleh para tokoh terasa puitis. Bahkan, cara Dee menggambarkan hasrat yang dialami oleh tokoh laki-laki dan perempuannya indah dan memikat. Jauh banget dari kata vulgar, tapi tetep bikin panas dingin 😆😂



Namun demikian, yang paling aku rasakan selama membaca novel ini adalah progresnya yang macam jalannya kura-kura. Iya, plotnya lambat banget untuk ukuran seleraku. Penulis seakan benar-benar takes her time untuk membangun dunia Aroma Karsa dan mengenalkan masing-masing karakter di dalamnya. Anehnya, alurnya yang selow ini nggak bikin aku bosan. Sebaliknya, aku justru seperti tersihir untuk terus membuka halaman demi halamannya. Aku penasaran banget sama misteri Jati dan Puspa Karsa. Gemes banget rasanya sama petunjuk-petunjuk kecil yang dilempar penulisnya, bikin imajinasiku semakin liar menebak-nebak akhir cerita.



Karakter

Novel ini diceritakan dari sudut pandang orang ketiga serba tahu. Narasi tidak hanya dituliskan dari sudut pandang para tokoh utama, tapi juga dari para tokoh figuran. Tapi, yang membangun keseluruhan Aroma Karsa adalah tiga tokoh di bawah ini.

Jati Wesi adalah pemuda berumur 26 tahun. Karena kemampuan olfaktorinya yang luar biasa, dia dijuluki si Hidung Tikus. Jati digambarkan sebagai pemuda yang nggak banyak omong tapi berkemauan kuat. Sikapnya sedikit dingin, sering canggung, tapi otaknya tajam (kalau nggak mau dibilang sinting 😂). Di beberapa bab awal, aku kurang begitu bisa menangkap karakternya. Bagiku, dia seakan mengambang. Tapi, semakin jauh jalan cerita, karakter Jati pun semakin menguat. Overall, aku suka sama tokoh Jati, tapi, memang dia tidak termasuk tokoh favoritku. Namun, karakter Jati unik dan cukup menarik.


"...Jika ada manusia di Bantar Gebang yang mampu menghadirkan secercah kemungkinan di lautan ketidakmungkinan, manusia itu adalah Jati Wesi si Hidung Tikus..." hlm. 38.

Sejak awal, Raras Prayagung-lah yang menjadi penggerak cerita di novel ini. Bisa dibilang, karena obsesinya menemukan Puspa Karsa-lah cerita ini ada. Raras seorang wanita pebisnis yang sangat sukses. Dia cerdas dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Dia manipulatif tapi nggak kejam. Kemauannya teguh, tapi, sayangnya, itu bikin dia jadi obsesif.

Tanaya Suma adalah putri tunggal Raras sekaligus pewaris Kemara. Suma punya kemampuan yang sama seperti Jati. Bedanya, Suma tidak bisa mengendalikan kemampuannya. Penciumannya yang tajam justru membuatnya tersiksa dan terpenjara. Secara sifat, Suma mirip dengan ibunya: percaya diri, cerdas, berkemauan keras, tapi sedikit emosional. Dia juga adalah otak di balik rangkaian parfum Puspa Ananta yang membuat Jati sangat tertarik.



Editing dan Desain Sampul

Novel ini nyaris nggak ada typo, jadi proses bacanya nyaman banget. Yang jadi tantangan itu memang kata, nama, dan istilah dari bahasa Jawa dan Jawa Kuno yang sering bikin lidahku kepleset. Juga kosakata asing yang bertebaran di sepanjang novel ini. Selain itu, aku nggak ada masalah sih.

Untuk sampulnya, aku suka banget. Desainnya yang memuat lekukan-lekukan batang tanaman betul-betul menggambarkan isi novelnya. Jenis huruf yang dipakai pun serasi banget sama desain batang tanaman tadi. Warnanya juga aku sukaputih keabu-abuanmeskipun novel bersampul putih kayak gini riskan banget kena kotoran. Tapi, secara keseluruhan, kovernya instagrammable banget.



Final Verdict




Overall: 🌟🌟🌟🌟☆ (4.8 of 5 🌟)

Simpulan

Aroma Karsa ini novel yang unik banget, karena jarang sekali ada novel yang menyentuh indera penciuman sebagai objek utamanya. Lalu, perpaduan antara fakta ilmiah dan mitos dari Jawa Kuno juga menambah keunikan dan daya tarik novel ini. Melihat betapa rincinya deskripsi aroma yang dijabarkan, betapa detailnya setting yang melatarbelakangi setiap tokoh, betapa meyakinkannya jalinan mitos yang dituliskan oleh Dee membuatku berdecak kagum. Riset yang dilakukan Dee dalam menulis novel ini pastinya nggak main-main. Dan aku menghargai banget karya fiksi yang dilandasi riset mendalam seperti ini. Congratulations, Dee! You nailed it!

Rekomendasi

Kamu penyuka kisah fantasi berbalut mitos dan misteri? Novel yang satu ini wajib banget deh kamu baca. Dijamin nagih!

Novel ini sebenarnya aman dikonsumsi oleh remaja, tapi, menimbang beratnya diksi yang digunakan penulis, aku lebih merekomendasikan novel ini buat pembaca dewasa. Buat yang mau baca novel ini, aku saranin supaya siap sedia KBBI, baik yang cetak ataupun daring. Jaga-jaga aja kalo-kalo kamu roaming di tengah baca 😄


"Tan wěnang kinawruhan ng katrsnān, wěnang rinasan ri manah juga." hlm. 442.
Asmara. Tidak bisa dipahami, cuma bisa dirasakan akibatnya.


Hope it helps,

Gita 😉

Oke, harusnya aku posting tulisan ini paling lambat Februari kemarin, tapi aku beneran lupaaa 🙈🙊😩

Jadi, bulan Desember 2017 sampai Januari 2018 yang lalu diadakan book fair di depan Perpustakaan Daerah Banjarmasin. Buku yang ada di book fair waktu itu jumlahnya ada deh kalo ribuan. Buaaanyak dan surga bangeeet buat para kutu buku 💓💓💓


Bookworms' heaven on earth 😍
Aku tahu tentang book fair ini dari temanku. Katanya, banyak banget buku yang diobral. Aku semakin ngebet kepengen ke sana pas lihat salah satu teman bookstagram-ku mengunggah foto buku-buku hasil buruannya di book fair itu. Salah satu dari buku-buku itu ada yang sudah masuk ke wishlist-ku sejak lama. Dan yang bikin aku semakin kebelet banget pengen ke book fair itu adalah harga-harganya yang murah gilak.


[Baca juga: Book Haul Terakhir di Tahun 2017]



Buku-buku yang dijual pun beragam. Fiksi dan non-fiksi. Buku-buku agama, pengetahuan, novel, komik, buku anak, lengkap dah. Tinggal kitanya aja lagi yang bingung mau beli yang mana. 

Buat yang nggak sempat ke sana, jangan khawatir. Aku kasih foto-fotonya nih. Biarpun nggak kebagian borong buku murah, paling nggak kamu bisa ngiler lihat foto-fotonya 😆😆😆






Days of Blood and Starlight karangan Laini Taylor yang sudah lama banget masuk dalam wishlist-ku. Sayangnya, buku pertamanya, Daughter of Smoke and Bone, nggak ada di book fair itu. Yah, nggak papa lah, nanti bisa dicari lagi di tempat lain. Oya, ini harga aslinya sekitar 70-100 ribuan, tapi di sini harganya dibanting banget jadi 20 ribu sajah, sodara-sodara. Bahagia hati dedeq~ 💓💓💓


Aku juga nemuin Harry Potter. Sayangnya, cuman ada buku ke-6. Kata paman penjaganya, yang lainnya udah habis. Harganya cuman 40 ribu lho buku ke-6 itu. Ish, andai aku tau novel-novel Harry Potter ikutan dibanting juga harganya di sini, pasti kubela-belain berangkat ke Banjarmasin buat ngedatengin book fair ini.


[Baca juga: Terjemahanku: Kissing the Maid of Honor]


Rows and rows of books 😍
Ada Champion, tapi Legend & Prodigy nggak ada 😢



Novel-novel historical dan paranormal romance lama terbitan Dastan Books. Pada suatu masa, aku pernah keranjingan baca novel-novel dari genre ini. Tapi, sekarang seleraku sudah berubah. Aku jadi lebih suka fantasi, terutama high-fantasy.

[Baca juga: Resensi The Wrath and the Dawn]


Cuman 10 ribuan saja qaqa~ 😆

Walaupun murah, kondisi buku-buku yang dijual rata-rata masih baik. Memang ada juga yang kotor dan lecek, tapi, mengingat harganya yang miring banget gitu, ya bisa dimaklumi lah ya. Yang penting semuanya buku ori.

Kekurangannya, menurutku, ada di displainya. Buku-bukunya disusun campur aduk. Jadi, fiksi dan non fiksi dicampur jadi satu sehingga dibutuhkan perjuangan dan waktu yang lama kalo mau nyari genre yang kita mau. Aku berharapnya, jika nanti diadakan book fair lagi, buku-bukunya disusun secara terpisah sesuai kategori fiksi dan non-fiksi. Kalau nyusunnya sesuai kategori kan jadinya enak, pengunjung bisa lebih menghemat waktu dengan langsung menuju rak buku-buku dari kategori yang mereka minati. Cuman saran sih 😀

[Baca juga: CMIIW: Tell Me about It]


Sayang sekali, book fair ini sepi pengunjung. Saat aku ke sana, hanya ada beberapa pengunjung saja, padahal bukunya banyak banget dan murah-murah. Aku kurang tahu di hari-hari sebelumnya, tapi kata teman-temanku book fair ini memang sepi. Mungkin karena kurang dipromosikan sehingga masyarakat banyak yang nggak tahu. Aku sendiri juga tahunya dari temanku di WAG. Mungkin lain kali pihak panitia bisa memanfaatkan para blogger buku dan bookstagrammer untuk promosi. Zaman now promosi dengan memanfaatkan social media influencers itu efektif banget dan cukup terjangkau. Kabar pun bisa tersebar dengan cepat.

[Baca juga: Bookish Haul Jan-Feb 2017]

Aku berharap acara-acara book fair yang menjual buku-buku murah tapi berkualitas semacam ini akan semakin sering diadakan di Banjarmasin dan daerah-daerah lainnya di Kal-Sel. Soalnya ini lumayan banget membantu kita-kita yang kepengen beli banyak buku tapi bajet terbatas. Secara ya harga buku di sini tuh mahal-mahal. Walau sudah diskon pun tetep aja mahal. Sedih akutu, Bang 😭

Selain itu, harus diakui bahwa minat baca masyarakat Banjarmasin pada khususnya dan Kal-Sel pada umumnya masih agak rendah. Jadi, dengan seringnya diadakan acara book fair, semoga saja bisa membantu meningkatkan minat baca masyarakat di provinsi kita yang tercinta ini 😊


See you on my next post,

Gita 😘

Hunting Buku Murah di Book Fair Banjarmasin

07 April 2018


Oke, harusnya aku posting tulisan ini paling lambat Februari kemarin, tapi aku beneran lupaaa 🙈🙊😩

Jadi, bulan Desember 2017 sampai Januari 2018 yang lalu diadakan book fair di depan Perpustakaan Daerah Banjarmasin. Buku yang ada di book fair waktu itu jumlahnya ada deh kalo ribuan. Buaaanyak dan surga bangeeet buat para kutu buku 💓💓💓


Bookworms' heaven on earth 😍
Aku tahu tentang book fair ini dari temanku. Katanya, banyak banget buku yang diobral. Aku semakin ngebet kepengen ke sana pas lihat salah satu teman bookstagram-ku mengunggah foto buku-buku hasil buruannya di book fair itu. Salah satu dari buku-buku itu ada yang sudah masuk ke wishlist-ku sejak lama. Dan yang bikin aku semakin kebelet banget pengen ke book fair itu adalah harga-harganya yang murah gilak.


[Baca juga: Book Haul Terakhir di Tahun 2017]



Buku-buku yang dijual pun beragam. Fiksi dan non-fiksi. Buku-buku agama, pengetahuan, novel, komik, buku anak, lengkap dah. Tinggal kitanya aja lagi yang bingung mau beli yang mana. 

Buat yang nggak sempat ke sana, jangan khawatir. Aku kasih foto-fotonya nih. Biarpun nggak kebagian borong buku murah, paling nggak kamu bisa ngiler lihat foto-fotonya 😆😆😆






Days of Blood and Starlight karangan Laini Taylor yang sudah lama banget masuk dalam wishlist-ku. Sayangnya, buku pertamanya, Daughter of Smoke and Bone, nggak ada di book fair itu. Yah, nggak papa lah, nanti bisa dicari lagi di tempat lain. Oya, ini harga aslinya sekitar 70-100 ribuan, tapi di sini harganya dibanting banget jadi 20 ribu sajah, sodara-sodara. Bahagia hati dedeq~ 💓💓💓


Aku juga nemuin Harry Potter. Sayangnya, cuman ada buku ke-6. Kata paman penjaganya, yang lainnya udah habis. Harganya cuman 40 ribu lho buku ke-6 itu. Ish, andai aku tau novel-novel Harry Potter ikutan dibanting juga harganya di sini, pasti kubela-belain berangkat ke Banjarmasin buat ngedatengin book fair ini.


[Baca juga: Terjemahanku: Kissing the Maid of Honor]


Rows and rows of books 😍
Ada Champion, tapi Legend & Prodigy nggak ada 😢



Novel-novel historical dan paranormal romance lama terbitan Dastan Books. Pada suatu masa, aku pernah keranjingan baca novel-novel dari genre ini. Tapi, sekarang seleraku sudah berubah. Aku jadi lebih suka fantasi, terutama high-fantasy.

[Baca juga: Resensi The Wrath and the Dawn]


Cuman 10 ribuan saja qaqa~ 😆

Walaupun murah, kondisi buku-buku yang dijual rata-rata masih baik. Memang ada juga yang kotor dan lecek, tapi, mengingat harganya yang miring banget gitu, ya bisa dimaklumi lah ya. Yang penting semuanya buku ori.

Kekurangannya, menurutku, ada di displainya. Buku-bukunya disusun campur aduk. Jadi, fiksi dan non fiksi dicampur jadi satu sehingga dibutuhkan perjuangan dan waktu yang lama kalo mau nyari genre yang kita mau. Aku berharapnya, jika nanti diadakan book fair lagi, buku-bukunya disusun secara terpisah sesuai kategori fiksi dan non-fiksi. Kalau nyusunnya sesuai kategori kan jadinya enak, pengunjung bisa lebih menghemat waktu dengan langsung menuju rak buku-buku dari kategori yang mereka minati. Cuman saran sih 😀

[Baca juga: CMIIW: Tell Me about It]


Sayang sekali, book fair ini sepi pengunjung. Saat aku ke sana, hanya ada beberapa pengunjung saja, padahal bukunya banyak banget dan murah-murah. Aku kurang tahu di hari-hari sebelumnya, tapi kata teman-temanku book fair ini memang sepi. Mungkin karena kurang dipromosikan sehingga masyarakat banyak yang nggak tahu. Aku sendiri juga tahunya dari temanku di WAG. Mungkin lain kali pihak panitia bisa memanfaatkan para blogger buku dan bookstagrammer untuk promosi. Zaman now promosi dengan memanfaatkan social media influencers itu efektif banget dan cukup terjangkau. Kabar pun bisa tersebar dengan cepat.

[Baca juga: Bookish Haul Jan-Feb 2017]

Aku berharap acara-acara book fair yang menjual buku-buku murah tapi berkualitas semacam ini akan semakin sering diadakan di Banjarmasin dan daerah-daerah lainnya di Kal-Sel. Soalnya ini lumayan banget membantu kita-kita yang kepengen beli banyak buku tapi bajet terbatas. Secara ya harga buku di sini tuh mahal-mahal. Walau sudah diskon pun tetep aja mahal. Sedih akutu, Bang 😭

Selain itu, harus diakui bahwa minat baca masyarakat Banjarmasin pada khususnya dan Kal-Sel pada umumnya masih agak rendah. Jadi, dengan seringnya diadakan acara book fair, semoga saja bisa membantu meningkatkan minat baca masyarakat di provinsi kita yang tercinta ini 😊


See you on my next post,

Gita 😘