SOCIAL MEDIA

[Resensi] The Wrath and the Dawn - Renee Ahdieh

19 August 2017

"Dulu aku memiliki seribu hasrat, namun semuanya melebur dalam satu hasratku untuk mengenalmu." -Jalaluddin Rumi.
πŸŽ€ Detail Buku

πŸŽ€ Blurb


πŸŽ€ Sinopsis

"Aku akan hidup untuk menyaksikan matahari terbenam esok. Jangan buat kesalahan. Aku bersumpah akan tetap hidup untuk menyaksikan sebanyak mungkin matahari terbenam."

"Dan aku akan membunuhmu."

"Dengan kedua tanganku." -hlm. 12.

Kerajaan Khorasan memiliki seorang khalif yang masih muda namun sangat kejam. Seorang monster, Khalid Ibnu Al-Rashid. Dia menikahi seorang gadis setiap malam, lalu membunuhi mereka ketika fajar menjelang, memberikan kesedihan tak terperi bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan. Tiada yang tahu mengapa putri mereka harus mengalami nasib yang demikian tragis. Yang mereka tahu hanyalah, ketika pagi, putri mereka telah tiada.


Dibakar oleh amarah dan dendam akibat kematian sahabatnya, Shahrzad Al-Khayzuran, seorang gadis yang masih sangat belia, mengajukan diri untuk menjadi pengantin sang khalif selanjutnya. Dia rela meninggalkan ayahnya, adiknya, dan lelaki yang dicintainya, agar bisa masuk ke istana sang khalif. Ayah Shazi begitu sedih, merasa yakin dia akan kehilangan putrinya untuk selamanya. Namun, Shazi tidak berniat menjadi korban kekejaman sang khalif yang entah sudah ke berapa. Shazi bertekad dia akan melihat matahari terbenam esok hari, dan esok hari, sepanjang hidupnya.


"Kupikir seseorang itu haruslah tidak takut kepadamu. Dan meskipun aku merasa... cemas di hadapanmu, semakin aku melihat segala sesuatu di sekitarku, semakin sedikit alasanku untuk takut kepadamu." -hlm. 82.

Shazi berencana membunuh si raja bocah dan mengakhiri rentetan tragedi ini, tetapi sebelum itu, dia harus bertahan hidup. Maka, di malam pertama mereka, Shazi menceritakan kisah yang begitu mendebarkan, sehingga bahkan seorang monster pun terpikat pada kisah itu.

Berkat kepiawaiannya dalam mendongeng, Shazi berhasil bertahan hidup, namun nyawanya tetap terancam. Tapi, bahaya yang mengancam nyawanya setiap saat itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang sedang berkecamuk di benaknya. Semakin lama, Shazi semakin tertarik pada suaminya yang menawan namun penuh rahasia itu. Sekeras apa pun dia menyangkal, dia tak mampu mengenyahkan cinta yang mulai tumbuh. Dan yang paling berbahaya adalah tekadnya untuk membunuh sang raja mulai goyah.



"...Cinta adalah kekuatan tersendiri, Sayyidi. Karena cinta, orang mampu memikirkan hal-hal mustahil... dan sering kali mencapai hal-hal mustahil. Aku tak akan meremehkan kekuatannya." -hlm. 88.


[Baca juga: Resensi Cinder]

πŸŽ€ Ulasan



Merasa familiar dengan sinopsis di atas? Yup! Kamu nggak salah. Ini memang retelling dari salah satu dongeng abadi di dunia, Kisah 1001 Malam.


Novel ini sangat berat di sisi romance daripada fantasinya. Sebagian besar cerita berpusat pada perkembangan hubungan Shahrzad dan Khalid. Shazi yang pada awalnya begitu membenci Khalid, perlahan-lahan mulai jatuh cinta pada sang raja. Dan Khalid yang selalu penuh rahasia, pelan-pelan mulai membuka diri pada Shazi. Romansa di antara mereka sukses bikin emak beranak dua ini baper. Gimana nggak baper, coba, lha wong mereka tengkar aja puitis banget gitu, apalagi pas waktu sayang-sayangan. Bikin mupeng *coleksuamidisamping *mintadipanggilpermaisurikujugak XD


"Apakah bukan kesombongan namanya kalau kau berpikir kau layak mendapatkan sesuatu yang melebihi cinta, Khalid Ibnu al-Rashid?"

"Apakah begitu sombong untuk menginginkan sesuatu yang tidak berubah karena angin? Yang tidak runtuk karena pertanda rintangan pertama?" -hlm. 254.
πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†Lagi tengkar tapi tetep puitis dooonk 🀣🀣🀣


Meski berat di romance dan berplot agak lambat, novel ini sama sekali nggak membosankan. Dengan tokoh-tokoh utama yang kuat, tokoh pendukung yang tak kalah memesonanya, bumbu sihir dan pertikaian politik, ancaman kudeta, serta setting budaya Timur Tengah nan eksotis, bikin aku susah banget melepaskan diri dari pesona novel ini. Selain itu, meski mudah ditebak, twist di novel ini menjadi kejutan yang cukup menyenangkan. Interaksi antartokoh pun asyik buat diikuti. Bahkan aku juga suka dengan Tariq yang gagah dan menyebalkan.


"Kau benar, Jenderal. Kau tidak mengerti. Tetapi, aku ingin memperkenalkanmu kepada Gunung Perkasa..."

Sang Khalif melirik Shahrzad, sekilas senyum bermain di bibirnya. "Permaisuriku."" -hlm. 94.

[Baca juga: Resensi An Ember in the Ashes]


πŸŽ€ Karakter


Daya tarik utama novel ini bagiku, tentu saja, the enigmatic Khalid. Sang Raja Bocah ini pendiam tapi mudah marah, cerdas, penuh misteri, namun ternyata juga sangat bijaksana, terlepas dari usianya yang masih sangat muda. Dia bisa sangat sabar ketika menghadapi ledakan emosi Shazi, tapi tak kenal kompromi terhadap musuh-musuhnya.


"Apa yang telah kau lakukan kepadaku, gadis pembawa bencana?" bisiknya.

"Jika aku bencana, maka kau harus menjaga jarak, kecuali jika kau ingin dihancurkan." Dengan senjata masih di dalam genggamannya, Shahrzad mendorong dada Khalid.

"Tidak." Tangan Khalid turun ke pinggang Shahrzad. "Hancurkan aku."" -hlm. 188-189.

Shahrzad yang pemberani dan agak ceroboh juga berhasil membuatku terpesona. Selain pandai mendongeng, Shazi juga seorang gadis yang cerdas. Dan dia digambarkan sebagai seorang gadis muda dengan kecantikan yang memikat hati.


Selain kedua tokoh utama, para tokoh pendukungnya pun sama memesonanya. Sebut saja Despina, dayang Shazi yang cantik jelita, dan Kapten Jalal al-Khoury, si tampan penggoda wanita. Dan jangan lupakan Tariq Imran al-Ziyad, lelaki gagah bermata perak dan berdarah panas yang menjadi cinta pertama Shazi.


"Jangan terlalu membencinya, Delam....." [...] "Bagaimanapun, di balik setiap kisah ada cerita." -hlm. 123.

πŸŽ€ Ending


Novel ini diakhiri dengan cliffhanger yang bikin aku geregetan, gemesh, trus ketagihan. Karena itu, kalo kamu mau beli novel ini, aku saranin langsung beli kedua bukunya. Daripada entar malah nggak bisa tidur gara-gara penasaran sama lanjutannya, kan 😁


πŸŽ€ Alih Bahasa dan Desain Sampul


Terjemahannya bagus. Diksi yang digunakan oleh penerjemah di novel ini indah dan mengena banget di hati. Puitis dan bikin meleleh klepek-klepek. Two thumbs up buat penerjemahnya. Tapi, aku lumayan sering nemu typo, meski nggak terlalu ganggu juga sih.


Desain sampulnya aku juga suka. Warna merah gonjreng dengan aksen emas yang cantik, bikin novel ini eye-catchy dan cantik banget pas difoto. Dan entah kenapa, aku ngerasanya warna merah dan aksen emasnya itu benar-benar menggambarkan karakter Shazi yang pemberani.


πŸŽ€ Kekurangan


Di awal cerita aku sering merasa bingung dengan istilah-istilah asing di novel ini. Nggak ada catatan kaki, sehingga aku sempat malas ngelanjutin bacanya. Tapi, ternyata ada glosarium di bagian akhir novel ini, yang mana tetap saja mengganggu proses baca, sebab aku harus sering bolak-balik buka halaman belakang untuk tau arti dari kata asing tadi. Mana glosariumnya disusun berdasarkan abjad, bukan urutan muncul sesuai halaman. Jadinya aku harus ngeliatin satu-satu deretan kata tersebut setiap kali aku nyari kata yang aku kepengen tau artinya. In short, glosarium itu nggak praktis, guys. Aku jauh lebih suka catatan kaki.


[Baca juga: Resensi The Iron King]


πŸŽ€ Overall


Walaupun plotnya sedikit lambat dan lebih berat ke sisi romance daripada fantasinya, novel ini tetap dapat memikat penggemar plot cepat seperti aku. Karakter Khalid yang bikin melting, Shahrzad yang berapi-api, Tariq yang nyebelin, Despina dan Jalal yang menyenangkan, sukses bikin aku hangover setelah baca novel ini. Buatku, ini salah satu novel terbaik yang kubaca tahun ini. Dan penulisnya, Renee Ahdieh, langsung masuk dalam my auto-buy author list. Jadi nggak sabar nunggu terjemahan Flame in the Mist 😍😍😍


πŸŽ€ Final verdict

Terlepas dari "gangguan glosarium" yang kusebutkan tadi, aku tetep ngasih novel ini lima bintang. Soalnya novel ini bener-bener bikin aku jatuh cinta.  I totally recommend this one to you, guys!


πŸŽ€ Rekomendasi


Aku rekomendasikan novel ini buat para penggemar romance dengan bumbu fantasi, khususnya yang suka dengan kisah-kisah retelling bersetting budaya Timur Tengah dan gegurunan. Oya, karena di novel ini terdapat beberapa adegan yang "nyerempet-nyerempet", sebaiknya yang belum berusia 18 tahun ke atas jangan baca dulu ya πŸ˜‰


"Aku mencintaimu, beribu kali lipat. Dan aku tidak akan meminta maaf untuk itu." -hlm. 443.


XOXO,



Gita 😘

20 comments :

  1. Ahh.. Mb gita bikin ak mau baca jg πŸ˜‚
    Ak udh lama pensiun baca2 jenis romance..*sbnrnya bkn penggemar romance lbh tepatnya.. πŸ˜…
    Tp ak suka dg fantasy.. Hihi..
    Btw, ak jg suka puisi2 rumi.. 😘
    Rumah mb jauh sih y.. Hrsnya bs modal minjem aja.. Wkwkwk.. πŸ˜‚

    ReplyDelete
  2. Ayo bacaaa. Bagus ini novelnya. Recommended romance, kalo kubilang. Bikin mood jadi romantis πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  3. aku belum pernah tahu euy endingnya kisah 1001 malam. btw nama penulisnya siapa ya?

    ReplyDelete
  4. Penulis 1001 Malam? Aku kurang tau juga πŸ˜…

    ReplyDelete
  5. Bukan. Penulis buku ini. Aku dari tadi nggak nemu namanya. He

    ReplyDelete
  6. Oh, nama penulisnya Renee Ahdieh. Aku tulis di judul nama penulisnya πŸ˜€

    ReplyDelete
  7. Ternyata ramee ya mba.... Seenggaknya dari sinopsis mba Gita buat. Boleh nih kalo ketemu... Tapi aku masih harus nyelesaian Tere Liye, masih ada 13 judul lagi yg masih harus dikejar. *teteuuup yaa *TLaddict

    ReplyDelete
  8. Iya, recommended romance ini. Romantis dan diksinya puitis 😍

    Aku belum pernah baca Tere Liye πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ Aku tertarik sih sama fantasinya yg serial Bumi itu, tapi mesti nabung dulu πŸ˜‚

    ReplyDelete
  9. 70k aja mba di olshop langganan... Kalo di gramed alamat 100k ...hehe. Aku dapat serial anak2 mamak barusan cm 34k malah gegara diskon ketimpa diskon

    ReplyDelete
  10. Iya, kalo buku aku lebih suka belanja online. Soalnya selisih harga dgn di gr*m*d** Banjarmasin juauh bgt 😒

    ReplyDelete
  11. Mba Gita jahat, bikin mupeng mau beli. Apa pinjem sama mba dulu aja ya *makinmupeng*

    ReplyDelete
  12. Aya suka baca, tapi kalau romantis nya berlebihan jadi ga suka πŸ˜‚ Takut baper wkwkwk πŸ˜‚. Tapi buku ini patut di coba 😍

    ReplyDelete
  13. Lha πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Ayo beli beliii. Bagus loh novelnya *makinngeracun 🀣

    ReplyDelete
  14. Kalo novel ini menurutku kadar romantisnya masih bisa ditolerir. Tapi emang bikin klepek2 sih 😁

    ReplyDelete
  15. Huaaa baca kutipan kutipannya yg puitis banget itu, kok aku jdi penasaran pen baca satu buku full yahhhh heheheh tp mesti kelarin buku yg ada dulu, mau masukin ke daftar calon bacaan dlu lah heheh

    ReplyDelete
  16. Iya, novel ini emang puitis banget diksinya. Bikin yg baca jadi terlena πŸ˜‚

    ReplyDelete
  17. Suka baca alur dan content blog nya, semoga semakin sukses dan terus berkarya. Saya baru belajar nih jadi blogger, semoga bisa sekeren ini

    ReplyDelete
  18. Makasih ya sudah berkunjung 😊

    ReplyDelete
  19. Penggemar romance dengan bumbu fantasy? Kok ini aku banget yak rasanya.

    ReplyDelete
  20. Berarti cocok nih buatmu, Ca. Ayok dibeli dibeliii *racun 🀣

    ReplyDelete