SOCIAL MEDIA


🌳 Detail Buku


🌳 Blurb


🌳 Sinopsis

"...Kau telah membebaskanku. Kau memberiku kisah cinta pertamaku, Peter. Kumohon jangan biarkan kisah ini berakhir dulu."

Lara Jean dan Peter Kavinsky kembali merajut kasih setelah hubungan mereka retak di buku pertama, To All the Boys I’ve Loved Before (TATBILB). Lara Jean sangat bahagia karena Peter cowok yang tampan dan manis sekali. Sayangnya, kebahagiaan sejoli ini ternoda dengan skandal yang dengan cepat menyebar di sekolah, sehingga menyebabkan Lara Jean dan Peter menjadi bulan-bulanan ejekan teman-teman mereka.


Lara Jean juga menyimpan kegelisahan mendalam karena keberadaan mantan pacar Peter sekaligus mantan sahabat Lara Jean, Genevieve. Gen terus-terusan hadir di antara mereka dan merebut perhatian Peter. Anehnya, Peter selalu datang jika Gen memintanya, membuat Lara Jean semakin galau. Lara Jean yang penasaran beberapa kali meminta penjelasan dari Peter, tapi cowok itu tidak mau memberitahunya, sehingga Lara Jean terpaksa menelan kejengkelannya sendiri dan berusaha memahami Peter.


"…Kau tidak bisa dekat dengan seseorang, tidak sepenuhnya, dengan rahasia di antara kalian berdua." –hlm. 32.


Di lain pihak, seseorang dari masa lalu Lara Jean kembali muncul. John Ambrose McLaren, cowok cerdas dan memesona yang menjadi salah satu penerima surat cinta Lara Jean. Dia tidak mengira akan mendapatkan balasan dari John. Dari suratnya, John menjelaskan bahwa karena satu dan lain hal, surat Lara Jean baru diterimanya baru-baru ini saja. Sejak saat itu, Lara Jean dan John menjadi sahabat pena.


Pertemanan Lara Jean dan John semakin akrab, sedangkan hubungannya dengan Peter semakin renggang. Lara Jean semakin tidak tahan dengan keberadaan Gen di antara mereka. Dan melalui sebuah permainan, Lara Jean bertekad untuk mengalahkan Gen dan membuktikan bahwa dirinya bukanlah pecundang.


🌳 Ulasan


Jadi, kalian #TeamPeter atau #TeamJohn ? Aku? Jelas #TeamJohn dooong. #SecondLeadMaleSyndrome ini kayaknya sudah jadi penyakit akutku. Tiap kali baca novel atau nonton film yang ada bau-bau cinta segitiganya, aku seringnya malah jatuh hati sama second lead-nya. Haha πŸ˜…


But anyway, aku cukup menikmati sekuel dari serial TATBILB ini. P.S. I Still Love You masih menyuguhkan cerita keseharian anak-anak SMA yang biasanya berpusat pada keluarga, persahabatan, dan cinta. Konflik yang dibangun pun ringan dan khas anak-anak remaja. Namun demikian, tetap ada pesan-pesan moral yang terselip di sana-sini.


""Hidup memang tidak menyamaratakan pria dan wanita. Kalau kau sampai hamil, hidupmulah yang akan berubah. Si pemuda tidak akan mengalami perubahan yang signifikan. Kau yang akan jadi bahan bisik-bisik semua orang. [...]"" -hlm. 142.

Berbeda dengan TATBILB yang terasa heboh karena kekacauan akibat surat-surat cinta Lara Jean yang terkirim dan hubungan pacaran pura-puranya dengan Peter Kavinsky, PSISLY terasa lebih tenang. Novel ini sepertinya menitikberatkan pada perkembangan si tokoh utama, Lara Jean, dan bagaimana cara dia menyelesaikan masalah-masalah yang menimpanya, yang tidak melulu menyangkut hubungannya dengan Peter. Hal ini terlihat dari Lara Jean yang tidak selalu bersama Peter meskipun mereka baru jadian. Bagian-bagian dia terlibat dalam pekerjaan sukarelanya di panti jompo pun dijabarkan dengan cukup detail. Memang di bagian awal kita langsung dihadapkan pada konflik skandal yang menimpa Lara Jean dan Peter, tapi setelah itu keadaan kembali menjadi tenang. Sampai John Ambrose McLaren datang.


Interaksi anggota keluarga Covey juga asik buat diikuti. Aku suka mengikuti interaksi Song Sisters yang akrab dan hangat. Mereka saling sayang, kemudian bertengkar, lalu saling menyayangi lagi. Sang Ayah, dr. Covey, juga bikin hati meleleh. Dia sosok ayah yang sangat memperhatikan putri-putrinya. Benar-benar kehidupan keluarga yang indah.


Selain kisah kehidupan anak SMA yang manis, yang paling aku suka juga dari novel ini adalah banyak nama makanan yang disebutkan di sepanjang cerita. Aku jadi ngiler deh, soalnya dari narasi Lara Jean, makanan-makanan tersebut lezat semua. Kalo dari nama dan penjelasan di catatan kaki, makanan-makanan tersebut berasal dari berbagai negara, bukan hanya dari Amerika dan Korea saja. Ini seperti belajar budaya dari berbagai negara secara tidak langsung #bacanovelberfaedah 🀣🀣🀣


🌳 Karakter


Lara Jean "Song" Covey adalah gadis yang manis dan unik. Dia juga cerdas dan kreatif. Aku suka dengan caranya berpikir. Tapi, aku terkadang sebel juga sama insecurity-nya dia, meskipun aku bisa memahami sih.


Peter Kavinsky masih digambarkan sebagai cowok keren yang senang menjadi pusat perhatian. Terus terang, sejak di TATBILB, aku bukan #TeamPeter. Aku sebal sama sikapnya yang plin-plan. Apalagi di PSISLY ini, keplinplanannya itu semakin menjadi-jadi. Walopun ada alasan kuat kenapa dia bersikap seperti itu, tapi tetep aja… Grrr…


John(ny) Ambrose McLaren, my boy. Dibandingkan Peter, aku jauh lebih suka sama John. Karakternya benar-benar memesona. Yang paling aku suka dari dia ini adalah ketegasannya dalam menyatakan perasaannya pada Lara Jean. Nggak pake jaim, nggak pake ragu apalagi plin-plan. Pokoknya, John menyatakan perasaannya dengan tegas dan lugas. Duh, Lara Jean, nggak bisa ya kamu jadian sama John aja? #TeamJohn #maksa 😍


""Kau juga memandangi Peter?"
John memandang lurus kepadaku, mata biru tuanya terlihat mantap dan penuh keyakinan. Dan napasku tertahan di dadaku. "Tidak. Aku memandangimu."" -hlm. 281.

""Aku suka padamu, Lara Jean. Aku suka padamu dulu dan aku lebih suka lagi padamu sekarang. [...] aku hanya mau menegaskan dan memperjelasnya."" -hlm. 281.

Oh, damn! This boy knows how to melt your heart. Unch 😚


Sayangnya, aku ngerasa penampilan John di buku ini kurang banyak. I need more John, please 😒


Song Sisters, Margot dan Kitty. Di antara Song Sisters, aku paling suka sama Kitty. Kelakuannya yang kadang dewasa kadang kekanak-kanakan bikin aku gemes banget pengen uyel-uyel kepalanya. Hahaha. Sedangkan Margot, hanya muncul di beberapa bab awal, karena dia sedang kuliah di Skotlandia.


"Semakin Kitty dewasa, aku lihat dia jauh lebih mirip dengan Margot daripada denganku.
Tapi kemudian dia bilang, “Bagaimana kalau kita pakai cetakan kue untuk membuat panekuk bentuk hati? Dan menambahkan pewarna merah ke adonannya?"
Aku berseri-seri menatapnya. "Anak pintar!" Jadi mungkin Kitty sedikit mirip denganku.
Kitty menambahkan. "Kita juga bisa mewarnai siropnya dengan pewarna merah, supaya kelihatan seperti darah. Hati yang berdarah!"
Tidak, tidak jadi. Kitty beda sendiri." –hlm. 151.

Aku ngakak baca dialog ini πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Genevieve tetap sama menyebalkannya dengan di buku pertama. Tapi, di buku kedua ini terungkap alasan kenapa dia bergantung banget sama Peter dan jahat banget sama Lara Jean. Dan aku lega setelah tau penyebabnya. Macam bisul yang akhirnya pecah setelah berminggu-minggu bikin tersiksa 🀣🀣🀣


Stormy adalah karakter favoritku yang lain. Walaupun sudah tua, Stormy tetap berjiwa muda. Petualangan cinta semasa mudanya seru. Dan aku sepakat dengan caranya memandang hubungan percintaan 😁


""Maksudku kau harus hati-hati. Kau harus sangat berhati-hati seolah ini masalah hidup dan mati, karena memang begitulah kenyataannya." Stormy menatapku penuh arti. "Dan jangan pernah memercayakan pemuda itu untuk melindungimu. Seorang wanita selalu bisa melindungi dirinya sendiri."" -hlm. 142-143.

🌳 Ending


Novel ini ditutup dengan adegan yang emosional sekaligus heart-warming. Terus terang, menurutku kalau serial ini tamat di buku kedua ini aja sudah oke, kok. Tapi aku penasaran juga, di buku ketiganya nanti akan ada konflik yang seperti apa lagi. Dan aku masih berharap Lara Jean bakal mencampakkan Peter dan kembali ke pelukan John #agirlcandream #diamukmassa 🀣🀣🀣


🌳 Alih Bahasa dan Desain Sampul


Alih bahasa novel ini bagus sekali. Nyari nggak ada typo sama sekali. Dan penambahan catatan kaki untuk menjelaskan istilah-istilah asing serta nama-nama merek di Amerika sana benar-benar membuat proses membaca novel ini jadi menyenangkan.


Untuk kovernya sendiri nggak ada masalah. Aku suka sama desainnya yang terkesan feminin dan manis, persis seperti isi novelnya. Menurutku, Penerbit Spring mengambil keputusan yang tepat dengan mempertahankan kover aslinya. Dan bookmark-nya unyuuuh 😍😍😍



Ilustrasi berupa kertas surat dan amplop di setiap pembuka bab juga bagus. Cocok dengan karakter Lara Jean yang suka banget nulis surat. Good job, Mas TeguhraπŸ‘


🌳 Overall


Aku cukup suka dengan novel ini. Membaca PSISLY membuatku bernostalgia mengenang masa-masa SMA-ku dulu, tentang keluarga, persahabatan, dan cinta pertama. Novel ini manis, dengan gaya narasi yang ringan dan mengalir. Ditambah lagi, terjemahan yang bagus sekali dan catatan-catatan kaki yang sangat membantu dalam memahami kata-kata asing, bikin aku betah banget bacanya. Tapi, kalo disuruh milih, aku lebih suka buku pertamanya sih, soalnya lebih seru 😁


🌳 Final Verdict

🌳 Rekomendasi


Novel ini memang ditujukan untuk pembaca remaja. Konflik yang dihadapi para tokoh khas permasalahan yang biasa dihadapi anak-anak SMA pada umumnya. Aku merekomendasikan novel ini untuk pembaca 16+ dan pembaca dewasa yang menyukai novel-novel dengan konflik yang ringan.


"Banyak orang yang keluar masuk di hidupmu. Untuk satu masa, mereka adalah duniamu, mereka segalanya. Lalu suatu hari mereka bukan lagi apa-apa bagimu. Kau tidak bisa tahu seberapa lama mereka akan berada di dekatmu." –hlm. 347.

🌸🌸🌸🌸🌸



Nah, sudah tau dong kalo di akhir rangkaian blog tour nanti Penerbit Spring bakal ngadain giveaway di fans page mereka? Nanti bakalan ada teka-teki silang yang pertanyaan-pertanyaannya akan diberikan oleh setiap host. Jadi, pastikan kalian kunjungi blog-blog mereka sesuai jadwal di banner ya.


Ini dia rules-nya.
  1. Follow semua media sosial Penerbit Spring (FP Penerbit Spring, IG  & Twitter @penerbitspring).

  2. Kalo kamu mau, kamu juga boleh follow Twitter-ku @gitaputeri_y, IG-ku @gitaputeri.y, dan blogku melalui email atau Wordpress.com. Yang di IG, kalo kamu bookstagrammer, aku bakalan follback.

  3. Share resensi ini di media sosial kamu dan mention aku dan Penerbit Spring. Share-nya boleh di Twitter atau IG (feed atau story).

  4. Jawab semua pertanyaan dari semua host. Jawabannya ditulis di FP Penerbit Spring SETELAH rangkaian blog tour ini berakhir. Jadi jawabnya BUKAN di sini dan NGGAK SEKARANG ya πŸ˜‰
Pertanyaanku sebagai berikut.
Siapa nama Ilustrator Isi di novel ini?

Gampang banget, kaaan. Kalo kamu baca ulasanku tadi, pasti langsung tau deh jawabannya πŸ˜™


Terima kasih buat Penerbit Spring yang sudah memberikan kepercayaan padaku untuk menjadi host blog tour buat novel P.S. I Still Love You yang manis ini. Semoga kita bisa bekerja sama lagi di lain waktu #kode *winkwink πŸ˜‚


See you in my next post, fellas!

XOXO,

Gita 😘

[Resensi] P.S. I Still Love You – Jenny Han: Blog Tour + Giveaway

27 August 2017


🌳 Detail Buku


🌳 Blurb


🌳 Sinopsis

"...Kau telah membebaskanku. Kau memberiku kisah cinta pertamaku, Peter. Kumohon jangan biarkan kisah ini berakhir dulu."

Lara Jean dan Peter Kavinsky kembali merajut kasih setelah hubungan mereka retak di buku pertama, To All the Boys I’ve Loved Before (TATBILB). Lara Jean sangat bahagia karena Peter cowok yang tampan dan manis sekali. Sayangnya, kebahagiaan sejoli ini ternoda dengan skandal yang dengan cepat menyebar di sekolah, sehingga menyebabkan Lara Jean dan Peter menjadi bulan-bulanan ejekan teman-teman mereka.


Lara Jean juga menyimpan kegelisahan mendalam karena keberadaan mantan pacar Peter sekaligus mantan sahabat Lara Jean, Genevieve. Gen terus-terusan hadir di antara mereka dan merebut perhatian Peter. Anehnya, Peter selalu datang jika Gen memintanya, membuat Lara Jean semakin galau. Lara Jean yang penasaran beberapa kali meminta penjelasan dari Peter, tapi cowok itu tidak mau memberitahunya, sehingga Lara Jean terpaksa menelan kejengkelannya sendiri dan berusaha memahami Peter.


"…Kau tidak bisa dekat dengan seseorang, tidak sepenuhnya, dengan rahasia di antara kalian berdua." –hlm. 32.


Di lain pihak, seseorang dari masa lalu Lara Jean kembali muncul. John Ambrose McLaren, cowok cerdas dan memesona yang menjadi salah satu penerima surat cinta Lara Jean. Dia tidak mengira akan mendapatkan balasan dari John. Dari suratnya, John menjelaskan bahwa karena satu dan lain hal, surat Lara Jean baru diterimanya baru-baru ini saja. Sejak saat itu, Lara Jean dan John menjadi sahabat pena.


Pertemanan Lara Jean dan John semakin akrab, sedangkan hubungannya dengan Peter semakin renggang. Lara Jean semakin tidak tahan dengan keberadaan Gen di antara mereka. Dan melalui sebuah permainan, Lara Jean bertekad untuk mengalahkan Gen dan membuktikan bahwa dirinya bukanlah pecundang.


🌳 Ulasan


Jadi, kalian #TeamPeter atau #TeamJohn ? Aku? Jelas #TeamJohn dooong. #SecondLeadMaleSyndrome ini kayaknya sudah jadi penyakit akutku. Tiap kali baca novel atau nonton film yang ada bau-bau cinta segitiganya, aku seringnya malah jatuh hati sama second lead-nya. Haha πŸ˜…


But anyway, aku cukup menikmati sekuel dari serial TATBILB ini. P.S. I Still Love You masih menyuguhkan cerita keseharian anak-anak SMA yang biasanya berpusat pada keluarga, persahabatan, dan cinta. Konflik yang dibangun pun ringan dan khas anak-anak remaja. Namun demikian, tetap ada pesan-pesan moral yang terselip di sana-sini.


""Hidup memang tidak menyamaratakan pria dan wanita. Kalau kau sampai hamil, hidupmulah yang akan berubah. Si pemuda tidak akan mengalami perubahan yang signifikan. Kau yang akan jadi bahan bisik-bisik semua orang. [...]"" -hlm. 142.

Berbeda dengan TATBILB yang terasa heboh karena kekacauan akibat surat-surat cinta Lara Jean yang terkirim dan hubungan pacaran pura-puranya dengan Peter Kavinsky, PSISLY terasa lebih tenang. Novel ini sepertinya menitikberatkan pada perkembangan si tokoh utama, Lara Jean, dan bagaimana cara dia menyelesaikan masalah-masalah yang menimpanya, yang tidak melulu menyangkut hubungannya dengan Peter. Hal ini terlihat dari Lara Jean yang tidak selalu bersama Peter meskipun mereka baru jadian. Bagian-bagian dia terlibat dalam pekerjaan sukarelanya di panti jompo pun dijabarkan dengan cukup detail. Memang di bagian awal kita langsung dihadapkan pada konflik skandal yang menimpa Lara Jean dan Peter, tapi setelah itu keadaan kembali menjadi tenang. Sampai John Ambrose McLaren datang.


Interaksi anggota keluarga Covey juga asik buat diikuti. Aku suka mengikuti interaksi Song Sisters yang akrab dan hangat. Mereka saling sayang, kemudian bertengkar, lalu saling menyayangi lagi. Sang Ayah, dr. Covey, juga bikin hati meleleh. Dia sosok ayah yang sangat memperhatikan putri-putrinya. Benar-benar kehidupan keluarga yang indah.


Selain kisah kehidupan anak SMA yang manis, yang paling aku suka juga dari novel ini adalah banyak nama makanan yang disebutkan di sepanjang cerita. Aku jadi ngiler deh, soalnya dari narasi Lara Jean, makanan-makanan tersebut lezat semua. Kalo dari nama dan penjelasan di catatan kaki, makanan-makanan tersebut berasal dari berbagai negara, bukan hanya dari Amerika dan Korea saja. Ini seperti belajar budaya dari berbagai negara secara tidak langsung #bacanovelberfaedah 🀣🀣🀣


🌳 Karakter


Lara Jean "Song" Covey adalah gadis yang manis dan unik. Dia juga cerdas dan kreatif. Aku suka dengan caranya berpikir. Tapi, aku terkadang sebel juga sama insecurity-nya dia, meskipun aku bisa memahami sih.


Peter Kavinsky masih digambarkan sebagai cowok keren yang senang menjadi pusat perhatian. Terus terang, sejak di TATBILB, aku bukan #TeamPeter. Aku sebal sama sikapnya yang plin-plan. Apalagi di PSISLY ini, keplinplanannya itu semakin menjadi-jadi. Walopun ada alasan kuat kenapa dia bersikap seperti itu, tapi tetep aja… Grrr…


John(ny) Ambrose McLaren, my boy. Dibandingkan Peter, aku jauh lebih suka sama John. Karakternya benar-benar memesona. Yang paling aku suka dari dia ini adalah ketegasannya dalam menyatakan perasaannya pada Lara Jean. Nggak pake jaim, nggak pake ragu apalagi plin-plan. Pokoknya, John menyatakan perasaannya dengan tegas dan lugas. Duh, Lara Jean, nggak bisa ya kamu jadian sama John aja? #TeamJohn #maksa 😍


""Kau juga memandangi Peter?"
John memandang lurus kepadaku, mata biru tuanya terlihat mantap dan penuh keyakinan. Dan napasku tertahan di dadaku. "Tidak. Aku memandangimu."" -hlm. 281.

""Aku suka padamu, Lara Jean. Aku suka padamu dulu dan aku lebih suka lagi padamu sekarang. [...] aku hanya mau menegaskan dan memperjelasnya."" -hlm. 281.

Oh, damn! This boy knows how to melt your heart. Unch 😚


Sayangnya, aku ngerasa penampilan John di buku ini kurang banyak. I need more John, please 😒


Song Sisters, Margot dan Kitty. Di antara Song Sisters, aku paling suka sama Kitty. Kelakuannya yang kadang dewasa kadang kekanak-kanakan bikin aku gemes banget pengen uyel-uyel kepalanya. Hahaha. Sedangkan Margot, hanya muncul di beberapa bab awal, karena dia sedang kuliah di Skotlandia.


"Semakin Kitty dewasa, aku lihat dia jauh lebih mirip dengan Margot daripada denganku.
Tapi kemudian dia bilang, “Bagaimana kalau kita pakai cetakan kue untuk membuat panekuk bentuk hati? Dan menambahkan pewarna merah ke adonannya?"
Aku berseri-seri menatapnya. "Anak pintar!" Jadi mungkin Kitty sedikit mirip denganku.
Kitty menambahkan. "Kita juga bisa mewarnai siropnya dengan pewarna merah, supaya kelihatan seperti darah. Hati yang berdarah!"
Tidak, tidak jadi. Kitty beda sendiri." –hlm. 151.

Aku ngakak baca dialog ini πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Genevieve tetap sama menyebalkannya dengan di buku pertama. Tapi, di buku kedua ini terungkap alasan kenapa dia bergantung banget sama Peter dan jahat banget sama Lara Jean. Dan aku lega setelah tau penyebabnya. Macam bisul yang akhirnya pecah setelah berminggu-minggu bikin tersiksa 🀣🀣🀣


Stormy adalah karakter favoritku yang lain. Walaupun sudah tua, Stormy tetap berjiwa muda. Petualangan cinta semasa mudanya seru. Dan aku sepakat dengan caranya memandang hubungan percintaan 😁


""Maksudku kau harus hati-hati. Kau harus sangat berhati-hati seolah ini masalah hidup dan mati, karena memang begitulah kenyataannya." Stormy menatapku penuh arti. "Dan jangan pernah memercayakan pemuda itu untuk melindungimu. Seorang wanita selalu bisa melindungi dirinya sendiri."" -hlm. 142-143.

🌳 Ending


Novel ini ditutup dengan adegan yang emosional sekaligus heart-warming. Terus terang, menurutku kalau serial ini tamat di buku kedua ini aja sudah oke, kok. Tapi aku penasaran juga, di buku ketiganya nanti akan ada konflik yang seperti apa lagi. Dan aku masih berharap Lara Jean bakal mencampakkan Peter dan kembali ke pelukan John #agirlcandream #diamukmassa 🀣🀣🀣


🌳 Alih Bahasa dan Desain Sampul


Alih bahasa novel ini bagus sekali. Nyari nggak ada typo sama sekali. Dan penambahan catatan kaki untuk menjelaskan istilah-istilah asing serta nama-nama merek di Amerika sana benar-benar membuat proses membaca novel ini jadi menyenangkan.


Untuk kovernya sendiri nggak ada masalah. Aku suka sama desainnya yang terkesan feminin dan manis, persis seperti isi novelnya. Menurutku, Penerbit Spring mengambil keputusan yang tepat dengan mempertahankan kover aslinya. Dan bookmark-nya unyuuuh 😍😍😍



Ilustrasi berupa kertas surat dan amplop di setiap pembuka bab juga bagus. Cocok dengan karakter Lara Jean yang suka banget nulis surat. Good job, Mas TeguhraπŸ‘


🌳 Overall


Aku cukup suka dengan novel ini. Membaca PSISLY membuatku bernostalgia mengenang masa-masa SMA-ku dulu, tentang keluarga, persahabatan, dan cinta pertama. Novel ini manis, dengan gaya narasi yang ringan dan mengalir. Ditambah lagi, terjemahan yang bagus sekali dan catatan-catatan kaki yang sangat membantu dalam memahami kata-kata asing, bikin aku betah banget bacanya. Tapi, kalo disuruh milih, aku lebih suka buku pertamanya sih, soalnya lebih seru 😁


🌳 Final Verdict

🌳 Rekomendasi


Novel ini memang ditujukan untuk pembaca remaja. Konflik yang dihadapi para tokoh khas permasalahan yang biasa dihadapi anak-anak SMA pada umumnya. Aku merekomendasikan novel ini untuk pembaca 16+ dan pembaca dewasa yang menyukai novel-novel dengan konflik yang ringan.


"Banyak orang yang keluar masuk di hidupmu. Untuk satu masa, mereka adalah duniamu, mereka segalanya. Lalu suatu hari mereka bukan lagi apa-apa bagimu. Kau tidak bisa tahu seberapa lama mereka akan berada di dekatmu." –hlm. 347.

🌸🌸🌸🌸🌸



Nah, sudah tau dong kalo di akhir rangkaian blog tour nanti Penerbit Spring bakal ngadain giveaway di fans page mereka? Nanti bakalan ada teka-teki silang yang pertanyaan-pertanyaannya akan diberikan oleh setiap host. Jadi, pastikan kalian kunjungi blog-blog mereka sesuai jadwal di banner ya.


Ini dia rules-nya.
  1. Follow semua media sosial Penerbit Spring (FP Penerbit Spring, IG  & Twitter @penerbitspring).

  2. Kalo kamu mau, kamu juga boleh follow Twitter-ku @gitaputeri_y, IG-ku @gitaputeri.y, dan blogku melalui email atau Wordpress.com. Yang di IG, kalo kamu bookstagrammer, aku bakalan follback.

  3. Share resensi ini di media sosial kamu dan mention aku dan Penerbit Spring. Share-nya boleh di Twitter atau IG (feed atau story).

  4. Jawab semua pertanyaan dari semua host. Jawabannya ditulis di FP Penerbit Spring SETELAH rangkaian blog tour ini berakhir. Jadi jawabnya BUKAN di sini dan NGGAK SEKARANG ya πŸ˜‰
Pertanyaanku sebagai berikut.
Siapa nama Ilustrator Isi di novel ini?

Gampang banget, kaaan. Kalo kamu baca ulasanku tadi, pasti langsung tau deh jawabannya πŸ˜™


Terima kasih buat Penerbit Spring yang sudah memberikan kepercayaan padaku untuk menjadi host blog tour buat novel P.S. I Still Love You yang manis ini. Semoga kita bisa bekerja sama lagi di lain waktu #kode *winkwink πŸ˜‚


See you in my next post, fellas!

XOXO,

Gita 😘
"Dulu aku memiliki seribu hasrat, namun semuanya melebur dalam satu hasratku untuk mengenalmu." -Jalaluddin Rumi.
πŸŽ€ Detail Buku

πŸŽ€ Blurb


πŸŽ€ Sinopsis

"Aku akan hidup untuk menyaksikan matahari terbenam esok. Jangan buat kesalahan. Aku bersumpah akan tetap hidup untuk menyaksikan sebanyak mungkin matahari terbenam."

"Dan aku akan membunuhmu."

"Dengan kedua tanganku." -hlm. 12.

Kerajaan Khorasan memiliki seorang khalif yang masih muda namun sangat kejam. Seorang monster, Khalid Ibnu Al-Rashid. Dia menikahi seorang gadis setiap malam, lalu membunuhi mereka ketika fajar menjelang, memberikan kesedihan tak terperi bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan. Tiada yang tahu mengapa putri mereka harus mengalami nasib yang demikian tragis. Yang mereka tahu hanyalah, ketika pagi, putri mereka telah tiada.


Dibakar oleh amarah dan dendam akibat kematian sahabatnya, Shahrzad Al-Khayzuran, seorang gadis yang masih sangat belia, mengajukan diri untuk menjadi pengantin sang khalif selanjutnya. Dia rela meninggalkan ayahnya, adiknya, dan lelaki yang dicintainya, agar bisa masuk ke istana sang khalif. Ayah Shazi begitu sedih, merasa yakin dia akan kehilangan putrinya untuk selamanya. Namun, Shazi tidak berniat menjadi korban kekejaman sang khalif yang entah sudah ke berapa. Shazi bertekad dia akan melihat matahari terbenam esok hari, dan esok hari, sepanjang hidupnya.


"Kupikir seseorang itu haruslah tidak takut kepadamu. Dan meskipun aku merasa... cemas di hadapanmu, semakin aku melihat segala sesuatu di sekitarku, semakin sedikit alasanku untuk takut kepadamu." -hlm. 82.

Shazi berencana membunuh si raja bocah dan mengakhiri rentetan tragedi ini, tetapi sebelum itu, dia harus bertahan hidup. Maka, di malam pertama mereka, Shazi menceritakan kisah yang begitu mendebarkan, sehingga bahkan seorang monster pun terpikat pada kisah itu.

Berkat kepiawaiannya dalam mendongeng, Shazi berhasil bertahan hidup, namun nyawanya tetap terancam. Tapi, bahaya yang mengancam nyawanya setiap saat itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang sedang berkecamuk di benaknya. Semakin lama, Shazi semakin tertarik pada suaminya yang menawan namun penuh rahasia itu. Sekeras apa pun dia menyangkal, dia tak mampu mengenyahkan cinta yang mulai tumbuh. Dan yang paling berbahaya adalah tekadnya untuk membunuh sang raja mulai goyah.



"...Cinta adalah kekuatan tersendiri, Sayyidi. Karena cinta, orang mampu memikirkan hal-hal mustahil... dan sering kali mencapai hal-hal mustahil. Aku tak akan meremehkan kekuatannya." -hlm. 88.


[Baca juga: Resensi Cinder]

πŸŽ€ Ulasan



Merasa familiar dengan sinopsis di atas? Yup! Kamu nggak salah. Ini memang retelling dari salah satu dongeng abadi di dunia, Kisah 1001 Malam.


Novel ini sangat berat di sisi romance daripada fantasinya. Sebagian besar cerita berpusat pada perkembangan hubungan Shahrzad dan Khalid. Shazi yang pada awalnya begitu membenci Khalid, perlahan-lahan mulai jatuh cinta pada sang raja. Dan Khalid yang selalu penuh rahasia, pelan-pelan mulai membuka diri pada Shazi. Romansa di antara mereka sukses bikin emak beranak dua ini baper. Gimana nggak baper, coba, lha wong mereka tengkar aja puitis banget gitu, apalagi pas waktu sayang-sayangan. Bikin mupeng *coleksuamidisamping *mintadipanggilpermaisurikujugak XD


"Apakah bukan kesombongan namanya kalau kau berpikir kau layak mendapatkan sesuatu yang melebihi cinta, Khalid Ibnu al-Rashid?"

"Apakah begitu sombong untuk menginginkan sesuatu yang tidak berubah karena angin? Yang tidak runtuk karena pertanda rintangan pertama?" -hlm. 254.
πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†Lagi tengkar tapi tetep puitis dooonk 🀣🀣🀣


Meski berat di romance dan berplot agak lambat, novel ini sama sekali nggak membosankan. Dengan tokoh-tokoh utama yang kuat, tokoh pendukung yang tak kalah memesonanya, bumbu sihir dan pertikaian politik, ancaman kudeta, serta setting budaya Timur Tengah nan eksotis, bikin aku susah banget melepaskan diri dari pesona novel ini. Selain itu, meski mudah ditebak, twist di novel ini menjadi kejutan yang cukup menyenangkan. Interaksi antartokoh pun asyik buat diikuti. Bahkan aku juga suka dengan Tariq yang gagah dan menyebalkan.


"Kau benar, Jenderal. Kau tidak mengerti. Tetapi, aku ingin memperkenalkanmu kepada Gunung Perkasa..."

Sang Khalif melirik Shahrzad, sekilas senyum bermain di bibirnya. "Permaisuriku."" -hlm. 94.

[Baca juga: Resensi An Ember in the Ashes]


πŸŽ€ Karakter


Daya tarik utama novel ini bagiku, tentu saja, the enigmatic Khalid. Sang Raja Bocah ini pendiam tapi mudah marah, cerdas, penuh misteri, namun ternyata juga sangat bijaksana, terlepas dari usianya yang masih sangat muda. Dia bisa sangat sabar ketika menghadapi ledakan emosi Shazi, tapi tak kenal kompromi terhadap musuh-musuhnya.


"Apa yang telah kau lakukan kepadaku, gadis pembawa bencana?" bisiknya.

"Jika aku bencana, maka kau harus menjaga jarak, kecuali jika kau ingin dihancurkan." Dengan senjata masih di dalam genggamannya, Shahrzad mendorong dada Khalid.

"Tidak." Tangan Khalid turun ke pinggang Shahrzad. "Hancurkan aku."" -hlm. 188-189.

Shahrzad yang pemberani dan agak ceroboh juga berhasil membuatku terpesona. Selain pandai mendongeng, Shazi juga seorang gadis yang cerdas. Dan dia digambarkan sebagai seorang gadis muda dengan kecantikan yang memikat hati.


Selain kedua tokoh utama, para tokoh pendukungnya pun sama memesonanya. Sebut saja Despina, dayang Shazi yang cantik jelita, dan Kapten Jalal al-Khoury, si tampan penggoda wanita. Dan jangan lupakan Tariq Imran al-Ziyad, lelaki gagah bermata perak dan berdarah panas yang menjadi cinta pertama Shazi.


"Jangan terlalu membencinya, Delam....." [...] "Bagaimanapun, di balik setiap kisah ada cerita." -hlm. 123.

πŸŽ€ Ending


Novel ini diakhiri dengan cliffhanger yang bikin aku geregetan, gemesh, trus ketagihan. Karena itu, kalo kamu mau beli novel ini, aku saranin langsung beli kedua bukunya. Daripada entar malah nggak bisa tidur gara-gara penasaran sama lanjutannya, kan 😁


πŸŽ€ Alih Bahasa dan Desain Sampul


Terjemahannya bagus. Diksi yang digunakan oleh penerjemah di novel ini indah dan mengena banget di hati. Puitis dan bikin meleleh klepek-klepek. Two thumbs up buat penerjemahnya. Tapi, aku lumayan sering nemu typo, meski nggak terlalu ganggu juga sih.


Desain sampulnya aku juga suka. Warna merah gonjreng dengan aksen emas yang cantik, bikin novel ini eye-catchy dan cantik banget pas difoto. Dan entah kenapa, aku ngerasanya warna merah dan aksen emasnya itu benar-benar menggambarkan karakter Shazi yang pemberani.


πŸŽ€ Kekurangan


Di awal cerita aku sering merasa bingung dengan istilah-istilah asing di novel ini. Nggak ada catatan kaki, sehingga aku sempat malas ngelanjutin bacanya. Tapi, ternyata ada glosarium di bagian akhir novel ini, yang mana tetap saja mengganggu proses baca, sebab aku harus sering bolak-balik buka halaman belakang untuk tau arti dari kata asing tadi. Mana glosariumnya disusun berdasarkan abjad, bukan urutan muncul sesuai halaman. Jadinya aku harus ngeliatin satu-satu deretan kata tersebut setiap kali aku nyari kata yang aku kepengen tau artinya. In short, glosarium itu nggak praktis, guys. Aku jauh lebih suka catatan kaki.


[Baca juga: Resensi The Iron King]


πŸŽ€ Overall


Walaupun plotnya sedikit lambat dan lebih berat ke sisi romance daripada fantasinya, novel ini tetap dapat memikat penggemar plot cepat seperti aku. Karakter Khalid yang bikin melting, Shahrzad yang berapi-api, Tariq yang nyebelin, Despina dan Jalal yang menyenangkan, sukses bikin aku hangover setelah baca novel ini. Buatku, ini salah satu novel terbaik yang kubaca tahun ini. Dan penulisnya, Renee Ahdieh, langsung masuk dalam my auto-buy author list. Jadi nggak sabar nunggu terjemahan Flame in the Mist 😍😍😍


πŸŽ€ Final verdict

Terlepas dari "gangguan glosarium" yang kusebutkan tadi, aku tetep ngasih novel ini lima bintang. Soalnya novel ini bener-bener bikin aku jatuh cinta.  I totally recommend this one to you, guys!


πŸŽ€ Rekomendasi


Aku rekomendasikan novel ini buat para penggemar romance dengan bumbu fantasi, khususnya yang suka dengan kisah-kisah retelling bersetting budaya Timur Tengah dan gegurunan. Oya, karena di novel ini terdapat beberapa adegan yang "nyerempet-nyerempet", sebaiknya yang belum berusia 18 tahun ke atas jangan baca dulu ya πŸ˜‰


"Aku mencintaimu, beribu kali lipat. Dan aku tidak akan meminta maaf untuk itu." -hlm. 443.


XOXO,



Gita 😘

[Resensi] The Wrath and the Dawn - Renee Ahdieh

19 August 2017

"Dulu aku memiliki seribu hasrat, namun semuanya melebur dalam satu hasratku untuk mengenalmu." -Jalaluddin Rumi.
πŸŽ€ Detail Buku

πŸŽ€ Blurb


πŸŽ€ Sinopsis

"Aku akan hidup untuk menyaksikan matahari terbenam esok. Jangan buat kesalahan. Aku bersumpah akan tetap hidup untuk menyaksikan sebanyak mungkin matahari terbenam."

"Dan aku akan membunuhmu."

"Dengan kedua tanganku." -hlm. 12.

Kerajaan Khorasan memiliki seorang khalif yang masih muda namun sangat kejam. Seorang monster, Khalid Ibnu Al-Rashid. Dia menikahi seorang gadis setiap malam, lalu membunuhi mereka ketika fajar menjelang, memberikan kesedihan tak terperi bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan. Tiada yang tahu mengapa putri mereka harus mengalami nasib yang demikian tragis. Yang mereka tahu hanyalah, ketika pagi, putri mereka telah tiada.


Dibakar oleh amarah dan dendam akibat kematian sahabatnya, Shahrzad Al-Khayzuran, seorang gadis yang masih sangat belia, mengajukan diri untuk menjadi pengantin sang khalif selanjutnya. Dia rela meninggalkan ayahnya, adiknya, dan lelaki yang dicintainya, agar bisa masuk ke istana sang khalif. Ayah Shazi begitu sedih, merasa yakin dia akan kehilangan putrinya untuk selamanya. Namun, Shazi tidak berniat menjadi korban kekejaman sang khalif yang entah sudah ke berapa. Shazi bertekad dia akan melihat matahari terbenam esok hari, dan esok hari, sepanjang hidupnya.


"Kupikir seseorang itu haruslah tidak takut kepadamu. Dan meskipun aku merasa... cemas di hadapanmu, semakin aku melihat segala sesuatu di sekitarku, semakin sedikit alasanku untuk takut kepadamu." -hlm. 82.

Shazi berencana membunuh si raja bocah dan mengakhiri rentetan tragedi ini, tetapi sebelum itu, dia harus bertahan hidup. Maka, di malam pertama mereka, Shazi menceritakan kisah yang begitu mendebarkan, sehingga bahkan seorang monster pun terpikat pada kisah itu.

Berkat kepiawaiannya dalam mendongeng, Shazi berhasil bertahan hidup, namun nyawanya tetap terancam. Tapi, bahaya yang mengancam nyawanya setiap saat itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang sedang berkecamuk di benaknya. Semakin lama, Shazi semakin tertarik pada suaminya yang menawan namun penuh rahasia itu. Sekeras apa pun dia menyangkal, dia tak mampu mengenyahkan cinta yang mulai tumbuh. Dan yang paling berbahaya adalah tekadnya untuk membunuh sang raja mulai goyah.



"...Cinta adalah kekuatan tersendiri, Sayyidi. Karena cinta, orang mampu memikirkan hal-hal mustahil... dan sering kali mencapai hal-hal mustahil. Aku tak akan meremehkan kekuatannya." -hlm. 88.


[Baca juga: Resensi Cinder]

πŸŽ€ Ulasan



Merasa familiar dengan sinopsis di atas? Yup! Kamu nggak salah. Ini memang retelling dari salah satu dongeng abadi di dunia, Kisah 1001 Malam.


Novel ini sangat berat di sisi romance daripada fantasinya. Sebagian besar cerita berpusat pada perkembangan hubungan Shahrzad dan Khalid. Shazi yang pada awalnya begitu membenci Khalid, perlahan-lahan mulai jatuh cinta pada sang raja. Dan Khalid yang selalu penuh rahasia, pelan-pelan mulai membuka diri pada Shazi. Romansa di antara mereka sukses bikin emak beranak dua ini baper. Gimana nggak baper, coba, lha wong mereka tengkar aja puitis banget gitu, apalagi pas waktu sayang-sayangan. Bikin mupeng *coleksuamidisamping *mintadipanggilpermaisurikujugak XD


"Apakah bukan kesombongan namanya kalau kau berpikir kau layak mendapatkan sesuatu yang melebihi cinta, Khalid Ibnu al-Rashid?"

"Apakah begitu sombong untuk menginginkan sesuatu yang tidak berubah karena angin? Yang tidak runtuk karena pertanda rintangan pertama?" -hlm. 254.
πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†Lagi tengkar tapi tetep puitis dooonk 🀣🀣🀣


Meski berat di romance dan berplot agak lambat, novel ini sama sekali nggak membosankan. Dengan tokoh-tokoh utama yang kuat, tokoh pendukung yang tak kalah memesonanya, bumbu sihir dan pertikaian politik, ancaman kudeta, serta setting budaya Timur Tengah nan eksotis, bikin aku susah banget melepaskan diri dari pesona novel ini. Selain itu, meski mudah ditebak, twist di novel ini menjadi kejutan yang cukup menyenangkan. Interaksi antartokoh pun asyik buat diikuti. Bahkan aku juga suka dengan Tariq yang gagah dan menyebalkan.


"Kau benar, Jenderal. Kau tidak mengerti. Tetapi, aku ingin memperkenalkanmu kepada Gunung Perkasa..."

Sang Khalif melirik Shahrzad, sekilas senyum bermain di bibirnya. "Permaisuriku."" -hlm. 94.

[Baca juga: Resensi An Ember in the Ashes]


πŸŽ€ Karakter


Daya tarik utama novel ini bagiku, tentu saja, the enigmatic Khalid. Sang Raja Bocah ini pendiam tapi mudah marah, cerdas, penuh misteri, namun ternyata juga sangat bijaksana, terlepas dari usianya yang masih sangat muda. Dia bisa sangat sabar ketika menghadapi ledakan emosi Shazi, tapi tak kenal kompromi terhadap musuh-musuhnya.


"Apa yang telah kau lakukan kepadaku, gadis pembawa bencana?" bisiknya.

"Jika aku bencana, maka kau harus menjaga jarak, kecuali jika kau ingin dihancurkan." Dengan senjata masih di dalam genggamannya, Shahrzad mendorong dada Khalid.

"Tidak." Tangan Khalid turun ke pinggang Shahrzad. "Hancurkan aku."" -hlm. 188-189.

Shahrzad yang pemberani dan agak ceroboh juga berhasil membuatku terpesona. Selain pandai mendongeng, Shazi juga seorang gadis yang cerdas. Dan dia digambarkan sebagai seorang gadis muda dengan kecantikan yang memikat hati.


Selain kedua tokoh utama, para tokoh pendukungnya pun sama memesonanya. Sebut saja Despina, dayang Shazi yang cantik jelita, dan Kapten Jalal al-Khoury, si tampan penggoda wanita. Dan jangan lupakan Tariq Imran al-Ziyad, lelaki gagah bermata perak dan berdarah panas yang menjadi cinta pertama Shazi.


"Jangan terlalu membencinya, Delam....." [...] "Bagaimanapun, di balik setiap kisah ada cerita." -hlm. 123.

πŸŽ€ Ending


Novel ini diakhiri dengan cliffhanger yang bikin aku geregetan, gemesh, trus ketagihan. Karena itu, kalo kamu mau beli novel ini, aku saranin langsung beli kedua bukunya. Daripada entar malah nggak bisa tidur gara-gara penasaran sama lanjutannya, kan 😁


πŸŽ€ Alih Bahasa dan Desain Sampul


Terjemahannya bagus. Diksi yang digunakan oleh penerjemah di novel ini indah dan mengena banget di hati. Puitis dan bikin meleleh klepek-klepek. Two thumbs up buat penerjemahnya. Tapi, aku lumayan sering nemu typo, meski nggak terlalu ganggu juga sih.


Desain sampulnya aku juga suka. Warna merah gonjreng dengan aksen emas yang cantik, bikin novel ini eye-catchy dan cantik banget pas difoto. Dan entah kenapa, aku ngerasanya warna merah dan aksen emasnya itu benar-benar menggambarkan karakter Shazi yang pemberani.


πŸŽ€ Kekurangan


Di awal cerita aku sering merasa bingung dengan istilah-istilah asing di novel ini. Nggak ada catatan kaki, sehingga aku sempat malas ngelanjutin bacanya. Tapi, ternyata ada glosarium di bagian akhir novel ini, yang mana tetap saja mengganggu proses baca, sebab aku harus sering bolak-balik buka halaman belakang untuk tau arti dari kata asing tadi. Mana glosariumnya disusun berdasarkan abjad, bukan urutan muncul sesuai halaman. Jadinya aku harus ngeliatin satu-satu deretan kata tersebut setiap kali aku nyari kata yang aku kepengen tau artinya. In short, glosarium itu nggak praktis, guys. Aku jauh lebih suka catatan kaki.


[Baca juga: Resensi The Iron King]


πŸŽ€ Overall


Walaupun plotnya sedikit lambat dan lebih berat ke sisi romance daripada fantasinya, novel ini tetap dapat memikat penggemar plot cepat seperti aku. Karakter Khalid yang bikin melting, Shahrzad yang berapi-api, Tariq yang nyebelin, Despina dan Jalal yang menyenangkan, sukses bikin aku hangover setelah baca novel ini. Buatku, ini salah satu novel terbaik yang kubaca tahun ini. Dan penulisnya, Renee Ahdieh, langsung masuk dalam my auto-buy author list. Jadi nggak sabar nunggu terjemahan Flame in the Mist 😍😍😍


πŸŽ€ Final verdict

Terlepas dari "gangguan glosarium" yang kusebutkan tadi, aku tetep ngasih novel ini lima bintang. Soalnya novel ini bener-bener bikin aku jatuh cinta.  I totally recommend this one to you, guys!


πŸŽ€ Rekomendasi


Aku rekomendasikan novel ini buat para penggemar romance dengan bumbu fantasi, khususnya yang suka dengan kisah-kisah retelling bersetting budaya Timur Tengah dan gegurunan. Oya, karena di novel ini terdapat beberapa adegan yang "nyerempet-nyerempet", sebaiknya yang belum berusia 18 tahun ke atas jangan baca dulu ya πŸ˜‰


"Aku mencintaimu, beribu kali lipat. Dan aku tidak akan meminta maaf untuk itu." -hlm. 443.


XOXO,



Gita 😘