SOCIAL MEDIA

banner-ember-blogtour

Hai, hai ^_^

Udah lama nunggu ya? Maap, maap. Si bayi entah kenapa “pinter” banget hari ini. Minta gendong terusss :’( #curcol

Oke, sebelum curhatnya lanjut ke mana-mana, kita langsung aja ya. Jawaban yang masuk berjumlah 21 orang. Jawaban kalian bagus-bagus semua sehingga bikin aku kesulitan buat memutuskan pemenangnya. Tapi satu pemenang harus dipilih, dan setelah bertapa semalaman (sambil gendong bayi, tentunya), akhirnya kudapatkan juga pemenang #GAEmberRakNovelGita persembahan dari Penerbit Spring.

Congratulations to:

Wanda Istiqomah Z.

a. Jika aku menjadi Laia, aku akan memilih Keenan. Menurutku, Elias memang memiliki beberapa persamaan sekaligus perbedaan dengan Laia yang membuat cerita di antara mereka semakin menarik. Namun, Laia tidak membutuhkan sosok pemberontak yang glamour. Dia justru lebih membutuhkan sosok pemuda baik hati seperti Keenan yang akan mampu membantu dan melindunginya tanpa harus terlibat jauh dengan beban yang dimiliki pria itu, karena dalam diri Laia sendiri dia telah memiliki banyak beban. Lagi pula, dalam sebuah cerita, kedua tokoh utama (dalam hal ini Laia dan Elias) tidak harus selalu berakhir bersama, bukan?

b. Jika aku menjadi Helene, aku akan lebih mengutamakan cinta setelah melalui beberapa pertimbangan. Helene memang digambarkan sebagai sosok yang kuat dan patuh. Tapi bagaimanapun dia juga seorang gadis yang menginginkan cinta. Apalagi, yang dicintainya adalah seseorang yang tumbuh dewasa bersama dirinya.


Kamu berhak mendapatkan satu buah bookmark set An Ember in the Ashes persembahan dari Penerbit Spring. Mohon untuk mengirimkan data diri berikut.

Nama lengkap:

Alamat lengkap:

No. Telp./HP:

Kirimkan ke email giittaa@gmail.com atau DM via IG @gitaputeri.y atau FB Gita Puteri Yani. Aku tunggu sampai tanggal 27 Desember 2016 pukul 16.00 WIB ya.

Terima kasih buat semua peserta #GAEmberRakNovelGita ini. Jangan kecewa karena nggak menang ya sebab masih ada giveaway utama yang berlangsung di FP Penerbit Spring dengan hadiah satu eksemplar novel An Ember in the Ashes dan satu buah merchandise keren. Terima kasih juga buat teman-teman host lainnya, Gea, Tya, Ratna, dan Nay. Dari kalian aku belajar banyak buat jadi seorang book reviewer plus host blogtour.

Finally, terima kasih banyak buat Penerbit Spring yang sudah ngasih kesempatan padaku untuk jadi host blogtour novel keren An Ember in the Ashes. Semoga kita bisa bekerja sama lagi di lain waktu :)

Nantikan blogtour lainnya di Rak Novel Gita.


Until next time, Fellas!

Gita

[Blog Tour] Pengumuman Pemenang Mini Giveaway An Ember in the Ashes

27 December 2016

banner-ember-blogtour

Hai, hai ^_^

Udah lama nunggu ya? Maap, maap. Si bayi entah kenapa “pinter” banget hari ini. Minta gendong terusss :’( #curcol

Oke, sebelum curhatnya lanjut ke mana-mana, kita langsung aja ya. Jawaban yang masuk berjumlah 21 orang. Jawaban kalian bagus-bagus semua sehingga bikin aku kesulitan buat memutuskan pemenangnya. Tapi satu pemenang harus dipilih, dan setelah bertapa semalaman (sambil gendong bayi, tentunya), akhirnya kudapatkan juga pemenang #GAEmberRakNovelGita persembahan dari Penerbit Spring.

Congratulations to:

Wanda Istiqomah Z.

a. Jika aku menjadi Laia, aku akan memilih Keenan. Menurutku, Elias memang memiliki beberapa persamaan sekaligus perbedaan dengan Laia yang membuat cerita di antara mereka semakin menarik. Namun, Laia tidak membutuhkan sosok pemberontak yang glamour. Dia justru lebih membutuhkan sosok pemuda baik hati seperti Keenan yang akan mampu membantu dan melindunginya tanpa harus terlibat jauh dengan beban yang dimiliki pria itu, karena dalam diri Laia sendiri dia telah memiliki banyak beban. Lagi pula, dalam sebuah cerita, kedua tokoh utama (dalam hal ini Laia dan Elias) tidak harus selalu berakhir bersama, bukan?

b. Jika aku menjadi Helene, aku akan lebih mengutamakan cinta setelah melalui beberapa pertimbangan. Helene memang digambarkan sebagai sosok yang kuat dan patuh. Tapi bagaimanapun dia juga seorang gadis yang menginginkan cinta. Apalagi, yang dicintainya adalah seseorang yang tumbuh dewasa bersama dirinya.


Kamu berhak mendapatkan satu buah bookmark set An Ember in the Ashes persembahan dari Penerbit Spring. Mohon untuk mengirimkan data diri berikut.

Nama lengkap:

Alamat lengkap:

No. Telp./HP:

Kirimkan ke email giittaa@gmail.com atau DM via IG @gitaputeri.y atau FB Gita Puteri Yani. Aku tunggu sampai tanggal 27 Desember 2016 pukul 16.00 WIB ya.

Terima kasih buat semua peserta #GAEmberRakNovelGita ini. Jangan kecewa karena nggak menang ya sebab masih ada giveaway utama yang berlangsung di FP Penerbit Spring dengan hadiah satu eksemplar novel An Ember in the Ashes dan satu buah merchandise keren. Terima kasih juga buat teman-teman host lainnya, Gea, Tya, Ratna, dan Nay. Dari kalian aku belajar banyak buat jadi seorang book reviewer plus host blogtour.

Finally, terima kasih banyak buat Penerbit Spring yang sudah ngasih kesempatan padaku untuk jadi host blogtour novel keren An Ember in the Ashes. Semoga kita bisa bekerja sama lagi di lain waktu :)

Nantikan blogtour lainnya di Rak Novel Gita.


Until next time, Fellas!

Gita
Medan pertempuran adalah kuilku. Ujung pedang adalah pendetaku. Tarian kematian adalah doaku. Pukulan mematikan adalah pembebasku.

—Elias Veturius

Detail Buku

Seri: An Ember in the Ashes #1Genre: young adult, fantasy, dystopian,Penerbit: SpringPenerjemah: Yudith ListiandriPenyunting: Mery RiansyahTerbit: Desember 2016Bahasa: IndonesiaJumlah halaman: 520ISBN: 978-602-74322-8-4

Blurb

Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.


Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias.


Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackcliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas.


Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka.
*****
"Lima ratus tahun yang lalu, bangsa Martial menaklukkan wilayah Scholar, dan sejak itu kami ditindas dan diperbudak. Dahulu, Kekaisaran Scholar merupakan rumah bagi universitas dan perpustakaan terbaik di dunia. Sekarang, sebagian besar rakyat kami tidak bisa membedakan antara sekolah dan gudang senjata." -hlm. 9-10.

Laia, seorang gadis remaja Scholar berusia tujuh belas tahun, mendapati hidupnya yang tenang mendadak jungkir balik. Kakak lelakinya, Darin, ditangkap karena dituduh memberontak, kakek dan neneknya dibunuh, dan rumahnya dibakar habis. Laia yang ketakutan melarikan diri dan pada akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pemberontak, Resistance. Oleh sang pemimpin kelompok, Mazen, Laia ditugaskan untuk memata-matai Komandan sekolah militer Blackcliff yang terkenal kejam, brutal, dan senang menyiksa. Sebagai gantinya, sang pemimpin berjanji untuk membantu Laia membebaskan kakaknya yang ditahan dipenjara yang paling dijaga ketat di Imperium. Segera saja, Laia yang pengecut menjalani hari-hari menegangkan sebagai budak-garis-miring-mata-mata Komandan Blackcliff.


Laia berusaha keras melaksanakan tugas mata-matanya sambil menyelesaikan pekerjaannya sebagai budak dengan harapan apa yang dia lakukan dapat menolong kakaknya keluar dari penjara. Namun yang tidak dia sangka, dia mendapati sejumlah kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini dia ketahui. Tentang orang tuanya, Darin, Resistance, dan sang Komandan itu sendiri. Dia jadi tidak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya.


Di lain pihak, Elias Veturius sudah muak dengan kehidupan yang dijalaninya. Sebagai salah seorang prajurit Mask paling berbakat di Blackcliff, Elias memiliki masa depan yang cerah. Namun, dia merasa terkekang dengan semua itu. Yang dia inginkan hanyalah kebebasan untuk menjalani hidupnya. Rasa muaknya semakin tak tertahankan sehingga dia memutuskan untuk melarikan diri walaupun risikonya adalah dihukum cambuk sampai mati oleh sang Komandan yang juga ibu kandungnya sendiri, Keris Veturia.


Usaha pelariannya tidak berhasil, dan itu membuat Elias semakin frustrasi. Di tengah kegalauannya, dia diberi tahu oleh Augur bahwa dia boleh melarikan diri namun tak akan bisa lepas dari takdirnya. Bahwa jika dia tetap nekat melarikan diri, maka dia akan berubah menjadi jahat, tanpa ampun, dan kejam.


"...Kau adalah bara di tengah abu, Elias Veturius. Kau akan menyala dan membakar, merusak dan menghancurkan. Kau tak bisa mengubahnya. Kau tak bisa menghentikannya." —hlm. 80.

Augur juga memberi tahu Elias bahwa dia terpilih sebagai salah satu kandidat kaisar dan harus mengikuti empat ujian bersama tiga kandidat lainnya untuk menentukan siapa yang layak menjadi kaisar selanjutnya.


"...Kau boleh melarikan diri. Kau boleh meninggalkan tugasmu. Tapi, kau tidak bisa lepas dari takdirmu."  —hlm. 80. 

Merasa tidak punya pilihan lagi, Elias akhirnya pasrah dan memutuskan untuk mengikuti perintah Augur untuk menjalani Ujian sebagai salah satu kandidat kaisar.


"Jadi, pilihanku adalah tetap tinggal dan menjadi jahat, atau melarikan diri dan menjadi jahat. Benar-benar hebat."—hal. 91.

*****
Kalau aku harus menggambarkan An Ember in the Ashes dalam dua kata sifat, maka itu adalah memikat sekaligus brutal. Sabaa Tahir telah menciptakan dunia dengan perpaduan budaya Timur Tengah yang eksotis dan Romawi Kuno yang memesona.


Buku ini emang tebel banget ya, but no worries¸ Ladies and Gents, soalnya novel ini sama sekali nggak bosenin. Di sini, Tahir lihai banget dalam membangun ketegangan dan menyisipkan teka-teki yang sedikit demi sedikit terpecahkan, sehingga aku nggak bosan membaca sebanyak 520 halaman. Yang ada malah nagih banget kepengen cepet-cepet namatin. Soalnya, aku penasaran, euy! Sejak awal cerita, aku sudah diseret ke dalam suasana yang tegang dan mencekam. Ketegangan semakin bertambah saat Laia menjalankan tugas mata-matanya. Salah satu scene yang bikin aku tegang banget adalah saat Laia menyelinap dari Blackcliff bersama Izzi untuk pergi ke Festival Bulan. Lagi asik-asiknya menikmati dansa, tiba-tiba pasukan Martial datang untuk membubarkan festival itu. Otomatis, Laia dan Izzi harus buru-buru kembali ke Blackcliff, sebab kalau sampai ketahuan, mereka bakalan dihukum habis-habisan oleh Komandan. Untungnya ada yang datang untuk menolong mereka, walaupun nyaris banget ketahuan sama Komandan.


Tahir menggunakan sudut pandang pertama dari kedua tokoh utama. Aku pribadi suka dengan cara penceritaan seperti ini, karena aku jadi bisa tahu apa yang ada di kepala masing-masing tokoh utama. Menurutku, Tahir melakukan pergantian sudut pandang dari Laia ke Elias dengan halus sehingga tidak menimbulkan kebingungan.


Alur cerita dalam novel ini bergerak maju dengan beberapa kilas balik dalam narasinya. Agak lambat untuk seleraku. Mungkin karena ini buku pertama sehingga fokus utama adalah pengenalan tokoh dan world-building. Dunia dalam buku ini cukup detail. Aku bisa merasakan betapa kerasnya kehidupan di Imperium, betapa mencekamnya malam-malam yang harus mereka lalui. Cerita semakin memikat dengan kemunculan makhluk-makhluk mistis dari dongeng seribu satu malam seperti jin, ifrit, ghul, dan Nightbringer. Oh, ya, aku memang penggemar dongeng seribu satu malam :D


Image result for Nightbringer
Nightbringer sang dewa kematian dan kehancuran
Sayangnya, aku agak kecewa di sisi romansanya. Sebagai penggemar genre romance, aku mengharapkan interaksi yang lebih banyak antara Laia dan Elias, atau Helene dan Elias. Atau Laia dan Keenan aja juga ngga papa deh, asalkan romance-nya ditambahin dikiiit lagi #ngarep XD Ketertarikan antara Laia dan Elias menurutku dangkal, karena hanya berdasarkan fisik semata, tanpa ada elaborasi lebih jauh.

"Tepukan di bahuku semakin keras, dan aku berbalik, berniat mengusir Cadet itu. Namun, aku berhadapan dengan seorang gadis-budak yang mendongak menatapku melalui bulu matanya yang lentik. Getaran panas dan mendalam berkobar dalam diriku melihat matanya yang hitam cemerlang. Untuk sesaat, aku lupa namaku sendiri."—hal. 151-152.

Beda halnya dengan hubungan Elias dan Helene. Mereka sudah bersahabat selama 14 tahun, dan selama itu mereka sudah mengalami berbagai hal bersama. Aku memang terbelah dalam hal ini. Aku mau Laia dan Elias jadian karena sepertinya mereka memang ditakdirkan bersama. Tapi aku juga senang kalau Elias akhirnya memilih Helene karena mereka serasi banget. Intinya, sama siapa pun Elias nanti, aku tetap dukung. Gimana dengan Laia dan Keenan? Yah, well, Keenan is a sweet boy, tapi aku nggak ngerasain chemistry yang berarti antara dia dan Laia. Jadi, aku lebih memilih untuk melihat dulu maaauuu dibaaawa ke mannaaa hubungan kitaaa #eaaaaa #malahnyanyik

Terus, menurutku tokoh utama wanita di buku ini adalah Helene, bukan Laia. Sebab, cerita lebih banyak berkisar di kehidupan Blackcliff serta Ujian yang sedang berlangsung, yang artinya lebih banyak menceritakan Helene, sedangkan Laia seakan stuck dalam tugas budak-garis-miring-mata-mata-nya. Tapi, aku senang mengikuti interaksi dia dengan Izzi, terasa alami layaknya gadis-gadis muda yang senang bergosip, walaupun yang mereka gosipkan adalah sang Komandan yang mengerikan.


Another downside, banyak adegan kekerasan di sini. Rape, slavery, abuse, you name it. Meski bikin aku sering mengernyit, aku bisa memahami karena latar cerita ini terinspirasi dari kehidupan Sparta yang keras.

Karakter


Tokoh sentral dalam novel ini secara garis besar ada lima, yaitu Laia, Elias, Keenan, Helene, dan Komandan Keris Veturia.


Laia digambarkan sebagai seorang gadis cantik yang memiliki rambut gelap dan mata emas. Dia cenderung penakut tapi memiliki daya juang yang kuat. Honestly, aku nggak terlalu terkesan sama dia. Aku lebih suka sama tokoh-tokoh yang badass dan sassy macam Feyre di ACOMAF gitu deh. Tapi aku paham kenapa dia digambarkan seperti ini. Maksudku, di sini kan sudah ada Helene yang kuat. Kalau Laia jagoan juga, ditambah lagi Komandan, bisa pusing entar si Elias dikelilingi cewek-cewek tangguh. Hehehe…


Oke, serius. Meskipun penakut, Laia sangat setia sama kakaknya. Dia rela mengambil risiko terbunuh demi menyelamatkan kakaknya dari penjara Imperium. Ini bikin aku respek sama dia. Andai aku di posisi dia, belum tentu aku sanggup menjalani apa yang Laia hadapi. It’s just… she’s not my type of heroine.


Elias Veturius, terlepas dari kemampuan bertarungnya yang mematikan, adalah pribadi yang halus dan lembut. Dia juga berparas tampan dengan perawakan yang tinggi dan gagah. Cewek mana pun pasti tergila-gila sama dia. Masalahnya, karena kepribadiannya yang halus dan lembut itu, Elias jadi agak-agak kurang tegas gitu. Apalagi kalau menyangkut masalah cinta. Dia ini bimbang terus bawaannya. Duh! Kalo di dunia nyata, dia ini pasti termasuk dalam gerombolan cowok yang sering PHP nih, walaupun tanpa sengaja.


Betewe, kalian bisa bayangin nggak sih gimana rasanya pakai topeng yang terbuat dari perak cair setiap hari, setiap waktu, tanpa bisa melepaskannya? Pasti gerah banget ya. Tapi itulah nasib yang harus dijalani oleh prajurit Mask. Seorang Mask harus mengenakan topeng perak seumur hidupnya. Topeng ini tidak biasa, karena begitu dikenakan, maka semakin lama topeng itu akan semakin menyatu dengan kulit wajah seolah menjadi kulit kedua bagi pemakainya. Yang unik sekaligus bikin merinding adalah, tampaknya, semakin topeng ini menyatu dengan kulit, segala kebaikan yang ada di diri si pemakai pun akan semakin menghilang, sampai akhirnya mereka akan menjadi prajurit yang tidak memiliki belas kasih. Namun, rupanya, hal ini tidak berlaku bagi Elias, karena topengnya tidak bisa menyatu dengan kulitnya. Elias benci banget pokoknya sama topengnya itu.


"...Aku benci cara topeng itu menempel padaku seperti semacam parasit. Aku benci cara topeng itu menekan wajahku, membentuk wajahku sedemikian rupa."—hlm. 34.

Keenan di buku pertama ini masih misterius. Di awal pertemuan mereka, dia bersikap dingin pada Laia dan menentang keras saat Laia akan dikirim menjadi mata-mata Komandan. Menurutnya, Laia tidak akan mampu melakukan tugasnya dengan baik. Laia sebal karena Keenan meremehkannya. Tapi, lambat laun, cowok berambut merah ini mulai menunjukkan perhatian lebih pada Laia. Meski awalnya bersikap kasar, pada akhirnya dialah yang bersedia menolong Laia membebaskan kakaknya dan berusaha keras untuk mengeluarkan gadis itu dari Blackcliff.


Helene Aquilla adalah satu-satunya Mask perempuan di Blackcliff, selain sang Komandan. Dia juga salah satu prajurit terbaik di Blackcliff dan merupakan sahabat terdekat Elias. Saking dekatnya, Elias menganggap Helene sebagai dirinya yang lain. Namun demikian, Helene sangat berbeda dengan Elias yang cenderung memberontak. Helene sangat patuh pada peraturan dan setia pada Imperium. Dia gadis yang cantik dengan rambut pirang keperakannya yang menawan dan tubuhnya yang tinggi dan langsing.


Aku bersimpati banget sama Helene, soalnya dia ini kok malang banget ya. Laia masih punya kebebasan untuk memilih, tapi Helene tidak punya pilihan selain patuh dan setia pada Imperium. Yang paling bikin ngenes itu, tentu saja, cintanya pada Elias yang bertepuk sebelah tangan.


“Mencintaimu adalah hal terburuk yang pernah terjadi padaku—lebih buruk daripada cambukan Komandan, lebih buruk dari Ujian. Ini siksaan, Elias.”—hlm. 380.

Puk puk Helene :'(


Keris Veturia adalah tokoh yang paling bikin aku penasaran. Dia ini kayak yang tahu segala-galanya, padahal dia cuma manusia biasa, walaupun emang sih dia salah satu Mask paling kuat di Imperium. Terus, dia ini seperti punya agenda sendiri, entah apa motif dan tujuannya. Aku juga nggak habis pikir, kenapa dia benci banget sama Elias. Sekesal-kesalnya sama anak, yang namanya ibu pasti sayang donk ah sama anaknya #emakbaper -_-


Ending


Seperti halnya novel-novel serial lainnya, ending cerita ini menggantung. Tapi tenang aja, karena buku kedua versi English-nya sudah terbit, jadi seharusnya kita bisa berharap nggak perlu terlalu lama nungguin versi terjemahannya.


Alih Bahasa dan Desain Cover


Dari segi terjemahan, kuacungkan dua jempol buat Yudith Listiandri. For your information, sebelum versi bahasa Indonesia ini terbit, aku sudah baca versi English-nya, jadi aku bisa bandingin. Aku salut sama penerjemahnya karena berhasil mengalihbahasakan novel ini secara mengalir dan enak dibaca.


Cover buku ini cantik banget. Paling cantik dari semua versi yang ada, menurutku. Buat para bibliophile dan bookstagrammer di luar sana, buku ini pas banget buat kalian untuk dikoleksi karena very collectible and instagrammable. Ditambah lagi bookmark yang menjadi bonusnya juga keren banget.


Aku dapat Helene. Yaaay >o<
Overall


Ini salah satu novel young-adult paling keren yang pernah aku baca sampai saat ini. Cerita yang memukau, terjemahan yang mengalir lancar, plus desain cover dan bookmark yang cantik bikin novel ini layak menghuni rak novel kamu. Dan, kalo kamu penggemar genre distopia, thriller, misteri, dan nggak terlalu keberatan sama scene-scene yang agak sadis, then this one is definitely for you.


My rating: ♥♥♥♥♥


banner-ember-blogtour


And now, giveaway tiiiiime! ^_^

Oke, seperti yang mungkin sudah kalian tahu, bakalan ada giveaway di akhir blogtour ini. Akan ada satu buah buku An Ember in the Ashes untuk satu pemenang, dan satu buah merchandise keren untuk satu pemenang. Syarat untuk mengikuti giveaway ini sebagai berikut.

  1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y

  2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring

  3. Follow blog Rak Novel Gita.

  4. Jawab pertanyaan dari masing-masing host blogtour. Untuk mengetahui pertanyaan lainnya, silakan kunjungi blog Gea, Tya, Ratna, dan Nay.


Pertanyaan hari keempat:


Siapa nama lengkap ibu kandung Elias?

Gampang banget, kan. Jawabannya tuliskan di kolom komentar di FP Penerbit Spring bersama jawaban pertanyaan dari host blogtour lainnya pada tanggal 24 Desember 2016 nanti.

Sementara menunggu giveaway utama, ikutan mini giveaway dulu ya. Hadiahnya berupa collectible bookmark set An Ember in the Ashes untuk satu orang pemenang. Caranya sebagai berikut.

1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y

2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring

3. Follow blog Rak Novel Gita.

4. Share artikel ini ke media sosialmu dan beri hashtag #GAEmberRakNovelGita

5. Jawab pertanyaan berikut.

a. Kalo kamu jadi Laia, siapa yang kamu pilih, Elias atau Keenan? Kenapa?

b. Kalo kamu jadi Helene, mana yang lebih utama buat kamu, Imperium atau cinta? Kenapa?


6. Tuliskan data dan jawaban kalian di kolom komentar di bawah ini dengan format:

Nama:

Link share:

Jawaban:
Mini giveaway ini akan ditutup pada tanggal 25 Desember 2016 pukul 23.59 WIB. Pemenangnya akan aku umumin secepatnya di blog dan Instagram-ku.



Good luck and until my next post, Fellas!

Gita

[Resensi] An Ember in the Ashes - Sabaa Tahir: Blogtour + Giveaway

22 December 2016

Medan pertempuran adalah kuilku. Ujung pedang adalah pendetaku. Tarian kematian adalah doaku. Pukulan mematikan adalah pembebasku.

—Elias Veturius

Detail Buku

Seri: An Ember in the Ashes #1Genre: young adult, fantasy, dystopian,Penerbit: SpringPenerjemah: Yudith ListiandriPenyunting: Mery RiansyahTerbit: Desember 2016Bahasa: IndonesiaJumlah halaman: 520ISBN: 978-602-74322-8-4

Blurb

Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.


Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias.


Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackcliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas.


Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka.
*****
"Lima ratus tahun yang lalu, bangsa Martial menaklukkan wilayah Scholar, dan sejak itu kami ditindas dan diperbudak. Dahulu, Kekaisaran Scholar merupakan rumah bagi universitas dan perpustakaan terbaik di dunia. Sekarang, sebagian besar rakyat kami tidak bisa membedakan antara sekolah dan gudang senjata." -hlm. 9-10.

Laia, seorang gadis remaja Scholar berusia tujuh belas tahun, mendapati hidupnya yang tenang mendadak jungkir balik. Kakak lelakinya, Darin, ditangkap karena dituduh memberontak, kakek dan neneknya dibunuh, dan rumahnya dibakar habis. Laia yang ketakutan melarikan diri dan pada akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pemberontak, Resistance. Oleh sang pemimpin kelompok, Mazen, Laia ditugaskan untuk memata-matai Komandan sekolah militer Blackcliff yang terkenal kejam, brutal, dan senang menyiksa. Sebagai gantinya, sang pemimpin berjanji untuk membantu Laia membebaskan kakaknya yang ditahan dipenjara yang paling dijaga ketat di Imperium. Segera saja, Laia yang pengecut menjalani hari-hari menegangkan sebagai budak-garis-miring-mata-mata Komandan Blackcliff.


Laia berusaha keras melaksanakan tugas mata-matanya sambil menyelesaikan pekerjaannya sebagai budak dengan harapan apa yang dia lakukan dapat menolong kakaknya keluar dari penjara. Namun yang tidak dia sangka, dia mendapati sejumlah kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini dia ketahui. Tentang orang tuanya, Darin, Resistance, dan sang Komandan itu sendiri. Dia jadi tidak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya.


Di lain pihak, Elias Veturius sudah muak dengan kehidupan yang dijalaninya. Sebagai salah seorang prajurit Mask paling berbakat di Blackcliff, Elias memiliki masa depan yang cerah. Namun, dia merasa terkekang dengan semua itu. Yang dia inginkan hanyalah kebebasan untuk menjalani hidupnya. Rasa muaknya semakin tak tertahankan sehingga dia memutuskan untuk melarikan diri walaupun risikonya adalah dihukum cambuk sampai mati oleh sang Komandan yang juga ibu kandungnya sendiri, Keris Veturia.


Usaha pelariannya tidak berhasil, dan itu membuat Elias semakin frustrasi. Di tengah kegalauannya, dia diberi tahu oleh Augur bahwa dia boleh melarikan diri namun tak akan bisa lepas dari takdirnya. Bahwa jika dia tetap nekat melarikan diri, maka dia akan berubah menjadi jahat, tanpa ampun, dan kejam.


"...Kau adalah bara di tengah abu, Elias Veturius. Kau akan menyala dan membakar, merusak dan menghancurkan. Kau tak bisa mengubahnya. Kau tak bisa menghentikannya." —hlm. 80.

Augur juga memberi tahu Elias bahwa dia terpilih sebagai salah satu kandidat kaisar dan harus mengikuti empat ujian bersama tiga kandidat lainnya untuk menentukan siapa yang layak menjadi kaisar selanjutnya.


"...Kau boleh melarikan diri. Kau boleh meninggalkan tugasmu. Tapi, kau tidak bisa lepas dari takdirmu."  —hlm. 80. 

Merasa tidak punya pilihan lagi, Elias akhirnya pasrah dan memutuskan untuk mengikuti perintah Augur untuk menjalani Ujian sebagai salah satu kandidat kaisar.


"Jadi, pilihanku adalah tetap tinggal dan menjadi jahat, atau melarikan diri dan menjadi jahat. Benar-benar hebat."—hal. 91.

*****
Kalau aku harus menggambarkan An Ember in the Ashes dalam dua kata sifat, maka itu adalah memikat sekaligus brutal. Sabaa Tahir telah menciptakan dunia dengan perpaduan budaya Timur Tengah yang eksotis dan Romawi Kuno yang memesona.


Buku ini emang tebel banget ya, but no worries¸ Ladies and Gents, soalnya novel ini sama sekali nggak bosenin. Di sini, Tahir lihai banget dalam membangun ketegangan dan menyisipkan teka-teki yang sedikit demi sedikit terpecahkan, sehingga aku nggak bosan membaca sebanyak 520 halaman. Yang ada malah nagih banget kepengen cepet-cepet namatin. Soalnya, aku penasaran, euy! Sejak awal cerita, aku sudah diseret ke dalam suasana yang tegang dan mencekam. Ketegangan semakin bertambah saat Laia menjalankan tugas mata-matanya. Salah satu scene yang bikin aku tegang banget adalah saat Laia menyelinap dari Blackcliff bersama Izzi untuk pergi ke Festival Bulan. Lagi asik-asiknya menikmati dansa, tiba-tiba pasukan Martial datang untuk membubarkan festival itu. Otomatis, Laia dan Izzi harus buru-buru kembali ke Blackcliff, sebab kalau sampai ketahuan, mereka bakalan dihukum habis-habisan oleh Komandan. Untungnya ada yang datang untuk menolong mereka, walaupun nyaris banget ketahuan sama Komandan.


Tahir menggunakan sudut pandang pertama dari kedua tokoh utama. Aku pribadi suka dengan cara penceritaan seperti ini, karena aku jadi bisa tahu apa yang ada di kepala masing-masing tokoh utama. Menurutku, Tahir melakukan pergantian sudut pandang dari Laia ke Elias dengan halus sehingga tidak menimbulkan kebingungan.


Alur cerita dalam novel ini bergerak maju dengan beberapa kilas balik dalam narasinya. Agak lambat untuk seleraku. Mungkin karena ini buku pertama sehingga fokus utama adalah pengenalan tokoh dan world-building. Dunia dalam buku ini cukup detail. Aku bisa merasakan betapa kerasnya kehidupan di Imperium, betapa mencekamnya malam-malam yang harus mereka lalui. Cerita semakin memikat dengan kemunculan makhluk-makhluk mistis dari dongeng seribu satu malam seperti jin, ifrit, ghul, dan Nightbringer. Oh, ya, aku memang penggemar dongeng seribu satu malam :D


Image result for Nightbringer
Nightbringer sang dewa kematian dan kehancuran
Sayangnya, aku agak kecewa di sisi romansanya. Sebagai penggemar genre romance, aku mengharapkan interaksi yang lebih banyak antara Laia dan Elias, atau Helene dan Elias. Atau Laia dan Keenan aja juga ngga papa deh, asalkan romance-nya ditambahin dikiiit lagi #ngarep XD Ketertarikan antara Laia dan Elias menurutku dangkal, karena hanya berdasarkan fisik semata, tanpa ada elaborasi lebih jauh.

"Tepukan di bahuku semakin keras, dan aku berbalik, berniat mengusir Cadet itu. Namun, aku berhadapan dengan seorang gadis-budak yang mendongak menatapku melalui bulu matanya yang lentik. Getaran panas dan mendalam berkobar dalam diriku melihat matanya yang hitam cemerlang. Untuk sesaat, aku lupa namaku sendiri."—hal. 151-152.

Beda halnya dengan hubungan Elias dan Helene. Mereka sudah bersahabat selama 14 tahun, dan selama itu mereka sudah mengalami berbagai hal bersama. Aku memang terbelah dalam hal ini. Aku mau Laia dan Elias jadian karena sepertinya mereka memang ditakdirkan bersama. Tapi aku juga senang kalau Elias akhirnya memilih Helene karena mereka serasi banget. Intinya, sama siapa pun Elias nanti, aku tetap dukung. Gimana dengan Laia dan Keenan? Yah, well, Keenan is a sweet boy, tapi aku nggak ngerasain chemistry yang berarti antara dia dan Laia. Jadi, aku lebih memilih untuk melihat dulu maaauuu dibaaawa ke mannaaa hubungan kitaaa #eaaaaa #malahnyanyik

Terus, menurutku tokoh utama wanita di buku ini adalah Helene, bukan Laia. Sebab, cerita lebih banyak berkisar di kehidupan Blackcliff serta Ujian yang sedang berlangsung, yang artinya lebih banyak menceritakan Helene, sedangkan Laia seakan stuck dalam tugas budak-garis-miring-mata-mata-nya. Tapi, aku senang mengikuti interaksi dia dengan Izzi, terasa alami layaknya gadis-gadis muda yang senang bergosip, walaupun yang mereka gosipkan adalah sang Komandan yang mengerikan.


Another downside, banyak adegan kekerasan di sini. Rape, slavery, abuse, you name it. Meski bikin aku sering mengernyit, aku bisa memahami karena latar cerita ini terinspirasi dari kehidupan Sparta yang keras.

Karakter


Tokoh sentral dalam novel ini secara garis besar ada lima, yaitu Laia, Elias, Keenan, Helene, dan Komandan Keris Veturia.


Laia digambarkan sebagai seorang gadis cantik yang memiliki rambut gelap dan mata emas. Dia cenderung penakut tapi memiliki daya juang yang kuat. Honestly, aku nggak terlalu terkesan sama dia. Aku lebih suka sama tokoh-tokoh yang badass dan sassy macam Feyre di ACOMAF gitu deh. Tapi aku paham kenapa dia digambarkan seperti ini. Maksudku, di sini kan sudah ada Helene yang kuat. Kalau Laia jagoan juga, ditambah lagi Komandan, bisa pusing entar si Elias dikelilingi cewek-cewek tangguh. Hehehe…


Oke, serius. Meskipun penakut, Laia sangat setia sama kakaknya. Dia rela mengambil risiko terbunuh demi menyelamatkan kakaknya dari penjara Imperium. Ini bikin aku respek sama dia. Andai aku di posisi dia, belum tentu aku sanggup menjalani apa yang Laia hadapi. It’s just… she’s not my type of heroine.


Elias Veturius, terlepas dari kemampuan bertarungnya yang mematikan, adalah pribadi yang halus dan lembut. Dia juga berparas tampan dengan perawakan yang tinggi dan gagah. Cewek mana pun pasti tergila-gila sama dia. Masalahnya, karena kepribadiannya yang halus dan lembut itu, Elias jadi agak-agak kurang tegas gitu. Apalagi kalau menyangkut masalah cinta. Dia ini bimbang terus bawaannya. Duh! Kalo di dunia nyata, dia ini pasti termasuk dalam gerombolan cowok yang sering PHP nih, walaupun tanpa sengaja.


Betewe, kalian bisa bayangin nggak sih gimana rasanya pakai topeng yang terbuat dari perak cair setiap hari, setiap waktu, tanpa bisa melepaskannya? Pasti gerah banget ya. Tapi itulah nasib yang harus dijalani oleh prajurit Mask. Seorang Mask harus mengenakan topeng perak seumur hidupnya. Topeng ini tidak biasa, karena begitu dikenakan, maka semakin lama topeng itu akan semakin menyatu dengan kulit wajah seolah menjadi kulit kedua bagi pemakainya. Yang unik sekaligus bikin merinding adalah, tampaknya, semakin topeng ini menyatu dengan kulit, segala kebaikan yang ada di diri si pemakai pun akan semakin menghilang, sampai akhirnya mereka akan menjadi prajurit yang tidak memiliki belas kasih. Namun, rupanya, hal ini tidak berlaku bagi Elias, karena topengnya tidak bisa menyatu dengan kulitnya. Elias benci banget pokoknya sama topengnya itu.


"...Aku benci cara topeng itu menempel padaku seperti semacam parasit. Aku benci cara topeng itu menekan wajahku, membentuk wajahku sedemikian rupa."—hlm. 34.

Keenan di buku pertama ini masih misterius. Di awal pertemuan mereka, dia bersikap dingin pada Laia dan menentang keras saat Laia akan dikirim menjadi mata-mata Komandan. Menurutnya, Laia tidak akan mampu melakukan tugasnya dengan baik. Laia sebal karena Keenan meremehkannya. Tapi, lambat laun, cowok berambut merah ini mulai menunjukkan perhatian lebih pada Laia. Meski awalnya bersikap kasar, pada akhirnya dialah yang bersedia menolong Laia membebaskan kakaknya dan berusaha keras untuk mengeluarkan gadis itu dari Blackcliff.


Helene Aquilla adalah satu-satunya Mask perempuan di Blackcliff, selain sang Komandan. Dia juga salah satu prajurit terbaik di Blackcliff dan merupakan sahabat terdekat Elias. Saking dekatnya, Elias menganggap Helene sebagai dirinya yang lain. Namun demikian, Helene sangat berbeda dengan Elias yang cenderung memberontak. Helene sangat patuh pada peraturan dan setia pada Imperium. Dia gadis yang cantik dengan rambut pirang keperakannya yang menawan dan tubuhnya yang tinggi dan langsing.


Aku bersimpati banget sama Helene, soalnya dia ini kok malang banget ya. Laia masih punya kebebasan untuk memilih, tapi Helene tidak punya pilihan selain patuh dan setia pada Imperium. Yang paling bikin ngenes itu, tentu saja, cintanya pada Elias yang bertepuk sebelah tangan.


“Mencintaimu adalah hal terburuk yang pernah terjadi padaku—lebih buruk daripada cambukan Komandan, lebih buruk dari Ujian. Ini siksaan, Elias.”—hlm. 380.

Puk puk Helene :'(


Keris Veturia adalah tokoh yang paling bikin aku penasaran. Dia ini kayak yang tahu segala-galanya, padahal dia cuma manusia biasa, walaupun emang sih dia salah satu Mask paling kuat di Imperium. Terus, dia ini seperti punya agenda sendiri, entah apa motif dan tujuannya. Aku juga nggak habis pikir, kenapa dia benci banget sama Elias. Sekesal-kesalnya sama anak, yang namanya ibu pasti sayang donk ah sama anaknya #emakbaper -_-


Ending


Seperti halnya novel-novel serial lainnya, ending cerita ini menggantung. Tapi tenang aja, karena buku kedua versi English-nya sudah terbit, jadi seharusnya kita bisa berharap nggak perlu terlalu lama nungguin versi terjemahannya.


Alih Bahasa dan Desain Cover


Dari segi terjemahan, kuacungkan dua jempol buat Yudith Listiandri. For your information, sebelum versi bahasa Indonesia ini terbit, aku sudah baca versi English-nya, jadi aku bisa bandingin. Aku salut sama penerjemahnya karena berhasil mengalihbahasakan novel ini secara mengalir dan enak dibaca.


Cover buku ini cantik banget. Paling cantik dari semua versi yang ada, menurutku. Buat para bibliophile dan bookstagrammer di luar sana, buku ini pas banget buat kalian untuk dikoleksi karena very collectible and instagrammable. Ditambah lagi bookmark yang menjadi bonusnya juga keren banget.


Aku dapat Helene. Yaaay >o<
Overall


Ini salah satu novel young-adult paling keren yang pernah aku baca sampai saat ini. Cerita yang memukau, terjemahan yang mengalir lancar, plus desain cover dan bookmark yang cantik bikin novel ini layak menghuni rak novel kamu. Dan, kalo kamu penggemar genre distopia, thriller, misteri, dan nggak terlalu keberatan sama scene-scene yang agak sadis, then this one is definitely for you.


My rating: ♥♥♥♥♥


banner-ember-blogtour


And now, giveaway tiiiiime! ^_^

Oke, seperti yang mungkin sudah kalian tahu, bakalan ada giveaway di akhir blogtour ini. Akan ada satu buah buku An Ember in the Ashes untuk satu pemenang, dan satu buah merchandise keren untuk satu pemenang. Syarat untuk mengikuti giveaway ini sebagai berikut.

  1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y

  2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring

  3. Follow blog Rak Novel Gita.

  4. Jawab pertanyaan dari masing-masing host blogtour. Untuk mengetahui pertanyaan lainnya, silakan kunjungi blog Gea, Tya, Ratna, dan Nay.


Pertanyaan hari keempat:


Siapa nama lengkap ibu kandung Elias?

Gampang banget, kan. Jawabannya tuliskan di kolom komentar di FP Penerbit Spring bersama jawaban pertanyaan dari host blogtour lainnya pada tanggal 24 Desember 2016 nanti.

Sementara menunggu giveaway utama, ikutan mini giveaway dulu ya. Hadiahnya berupa collectible bookmark set An Ember in the Ashes untuk satu orang pemenang. Caranya sebagai berikut.

1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y

2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring

3. Follow blog Rak Novel Gita.

4. Share artikel ini ke media sosialmu dan beri hashtag #GAEmberRakNovelGita

5. Jawab pertanyaan berikut.

a. Kalo kamu jadi Laia, siapa yang kamu pilih, Elias atau Keenan? Kenapa?

b. Kalo kamu jadi Helene, mana yang lebih utama buat kamu, Imperium atau cinta? Kenapa?


6. Tuliskan data dan jawaban kalian di kolom komentar di bawah ini dengan format:

Nama:

Link share:

Jawaban:
Mini giveaway ini akan ditutup pada tanggal 25 Desember 2016 pukul 23.59 WIB. Pemenangnya akan aku umumin secepatnya di blog dan Instagram-ku.



Good luck and until my next post, Fellas!

Gita

[caption id="" align="aligncenter" width="317"]A Court of Wings and Ruin (A Court of Thorns and Roses, #3) Sumber[/caption]

Assalamu'alaikum.

Ya ampuuun, sudah lama banget nggak nyentuh blog ini. Padahal banyak banget buku yang mau diresensi. Apalah daya waktu yang nggak mencukupi.

Okelah, sebagai quick update, aku mau share buku-buku yang kutunggu banget dalam waktu dekat ini. Kebanyakan sih baru terbit tahun 2017 nanti, tapi ada juga yang terbitnya bulan ini. Berikut daftarnya.

1. A Court of Wings and Ruin by Sarah J. Maas. Terbit Mei 2017.



Ini novel yang paling kutunggu tahun depan. Ending buku keduanya, A Court of Mist and Fury, ngegantung banget. Bikin penasaran sampai ke ubun-ubun. Aku juga sudah nggak sabar pengen ketemuan lagi sama Feyre, Cassian, Azriel, Amren, Mor, dan, tentu saja, sang High Lord of the Night Court yang memikat, Rhysand.

Betewe, adakah penerbit yang mau nerbitin edisi terjemahan serial ini? Pengen banget ngoleksi bukunya, tapi nggak tega liat harga versi English-nya ini. Kasian dompetku. Huhuhu...

2. King's Cage by Victoria Aveyard. Terbit Februari 2017.



[caption id="" align="aligncenter" width="315"]30226723 Sumber[/caption]
King's Cage?? KING'S CAGE??? Oh, yes, Maven. You're BACK!!! Biar kata psiko, tapi aku tetep cinta kamuh #teamMavenforLife #abaikan

Sebenernya, aku nggak gitu ngefans sih sama serial Red Queen, tapi tokoh Maven bikin aku jatuh cinta. Walaupun di sini dia adalah tokoh antagonis, aku masih berharap dia bakalan tobat trus balikan lagi sama Mare #ngarepdotcom #agirlcandream

3. Jingga untuk Matahari oleh Esti Kinasih.

Image result for jingga untuk matahari

Aku sebenernya sudah lupa kalo serial Jingga dan Senja itu masih belum tamat. Habisnya lama banget. Dari zaman masih
unyu-unyu belum punya anak sampai sekarang sudah punya dua buntut, masih belum terbit juga ini novel. Buku keduanya, Jingga dalam Elegi, terbit tahun 2011. Berarti sudah lima tahun yang lalu bok! Ckckck...

Aku sebenernya nggak tau juga tanggal terbit pastinya itu kapan. Aku cuma liat pengumuman di twitter-nya Gramedia bahwa JUM bakalan terbit dalam waktu dekat ini. Semoga aja bukan PHP yak.

4. Origin by Dan Brown. Terbit September 2017.



[caption id="" align="aligncenter" width="309"]Origin (Robert Langdon, #5) Sumber[/caption]
Oh, yes! My fave author is back! Aku cinta banget sama karya-karyanya Dan Brown. Semua novelnya aku sukak. Ini penulis jenius banget gilak! Pokoknya setiap kali dia nerbitin novel, aku pasti baca. Nggak pernah ketinggalan.

5. An Ember in the Ashes (versi bahasa Indonesian) by Sabaa Tahir. Terbit Desember 2016.





[caption id="" align="aligncenter" width="318"]An Ember in the Ashes (An Ember in the Ashes, #1) Sumber[/caption]
Aku sudah baca versi bahasa Inggrisnya. Aku bahkan nyaris beli paperback-nya saking sukanya sama novel ini. Untung keburu liat pengumuman Penerbit Spring di IG mereka bahwa mereka bakalan nerbitin terjemahannya. Alhamdulillah ya, soalnya versi English-nya mahal na'udzubillah.

Sedikit bocoran, aku juga sudah baca buku keduanya, dan ceritanya keren banget. Bahkan lebih keren dari buku pertamanya. Insya Allah bakalan aku tulis resensinya, tapi nunggu buku pertamanya sampai di tanganku dulu. Biar resensinya sinkron, gitu. Nggak loncat-loncat.

Udah ah, segitu aja wishlist-nya. Takut dompet
suamiaku jebol XD


Until the next post, Fellas!

Gita

[Wishlist] Most Anticipated Books

02 December 2016


[caption id="" align="aligncenter" width="317"]A Court of Wings and Ruin (A Court of Thorns and Roses, #3) Sumber[/caption]

Assalamu'alaikum.

Ya ampuuun, sudah lama banget nggak nyentuh blog ini. Padahal banyak banget buku yang mau diresensi. Apalah daya waktu yang nggak mencukupi.

Okelah, sebagai quick update, aku mau share buku-buku yang kutunggu banget dalam waktu dekat ini. Kebanyakan sih baru terbit tahun 2017 nanti, tapi ada juga yang terbitnya bulan ini. Berikut daftarnya.

1. A Court of Wings and Ruin by Sarah J. Maas. Terbit Mei 2017.



Ini novel yang paling kutunggu tahun depan. Ending buku keduanya, A Court of Mist and Fury, ngegantung banget. Bikin penasaran sampai ke ubun-ubun. Aku juga sudah nggak sabar pengen ketemuan lagi sama Feyre, Cassian, Azriel, Amren, Mor, dan, tentu saja, sang High Lord of the Night Court yang memikat, Rhysand.

Betewe, adakah penerbit yang mau nerbitin edisi terjemahan serial ini? Pengen banget ngoleksi bukunya, tapi nggak tega liat harga versi English-nya ini. Kasian dompetku. Huhuhu...

2. King's Cage by Victoria Aveyard. Terbit Februari 2017.



[caption id="" align="aligncenter" width="315"]30226723 Sumber[/caption]
King's Cage?? KING'S CAGE??? Oh, yes, Maven. You're BACK!!! Biar kata psiko, tapi aku tetep cinta kamuh #teamMavenforLife #abaikan

Sebenernya, aku nggak gitu ngefans sih sama serial Red Queen, tapi tokoh Maven bikin aku jatuh cinta. Walaupun di sini dia adalah tokoh antagonis, aku masih berharap dia bakalan tobat trus balikan lagi sama Mare #ngarepdotcom #agirlcandream

3. Jingga untuk Matahari oleh Esti Kinasih.

Image result for jingga untuk matahari

Aku sebenernya sudah lupa kalo serial Jingga dan Senja itu masih belum tamat. Habisnya lama banget. Dari zaman masih
unyu-unyu belum punya anak sampai sekarang sudah punya dua buntut, masih belum terbit juga ini novel. Buku keduanya, Jingga dalam Elegi, terbit tahun 2011. Berarti sudah lima tahun yang lalu bok! Ckckck...

Aku sebenernya nggak tau juga tanggal terbit pastinya itu kapan. Aku cuma liat pengumuman di twitter-nya Gramedia bahwa JUM bakalan terbit dalam waktu dekat ini. Semoga aja bukan PHP yak.

4. Origin by Dan Brown. Terbit September 2017.



[caption id="" align="aligncenter" width="309"]Origin (Robert Langdon, #5) Sumber[/caption]
Oh, yes! My fave author is back! Aku cinta banget sama karya-karyanya Dan Brown. Semua novelnya aku sukak. Ini penulis jenius banget gilak! Pokoknya setiap kali dia nerbitin novel, aku pasti baca. Nggak pernah ketinggalan.

5. An Ember in the Ashes (versi bahasa Indonesian) by Sabaa Tahir. Terbit Desember 2016.





[caption id="" align="aligncenter" width="318"]An Ember in the Ashes (An Ember in the Ashes, #1) Sumber[/caption]
Aku sudah baca versi bahasa Inggrisnya. Aku bahkan nyaris beli paperback-nya saking sukanya sama novel ini. Untung keburu liat pengumuman Penerbit Spring di IG mereka bahwa mereka bakalan nerbitin terjemahannya. Alhamdulillah ya, soalnya versi English-nya mahal na'udzubillah.

Sedikit bocoran, aku juga sudah baca buku keduanya, dan ceritanya keren banget. Bahkan lebih keren dari buku pertamanya. Insya Allah bakalan aku tulis resensinya, tapi nunggu buku pertamanya sampai di tanganku dulu. Biar resensinya sinkron, gitu. Nggak loncat-loncat.

Udah ah, segitu aja wishlist-nya. Takut dompet
suamiaku jebol XD


Until the next post, Fellas!

Gita