SOCIAL MEDIA

banner-ember-blogtour

Hai, hai ^_^

Udah lama nunggu ya? Maap, maap. Si bayi entah kenapa “pinter” banget hari ini. Minta gendong terusss :’( #curcol

Oke, sebelum curhatnya lanjut ke mana-mana, kita langsung aja ya. Jawaban yang masuk berjumlah 21 orang. Jawaban kalian bagus-bagus semua sehingga bikin aku kesulitan buat memutuskan pemenangnya. Tapi satu pemenang harus dipilih, dan setelah bertapa semalaman (sambil gendong bayi, tentunya), akhirnya kudapatkan juga pemenang #GAEmberRakNovelGita persembahan dari Penerbit Spring.

Congratulations to:

Wanda Istiqomah Z.

a. Jika aku menjadi Laia, aku akan memilih Keenan. Menurutku, Elias memang memiliki beberapa persamaan sekaligus perbedaan dengan Laia yang membuat cerita di antara mereka semakin menarik. Namun, Laia tidak membutuhkan sosok pemberontak yang glamour. Dia justru lebih membutuhkan sosok pemuda baik hati seperti Keenan yang akan mampu membantu dan melindunginya tanpa harus terlibat jauh dengan beban yang dimiliki pria itu, karena dalam diri Laia sendiri dia telah memiliki banyak beban. Lagi pula, dalam sebuah cerita, kedua tokoh utama (dalam hal ini Laia dan Elias) tidak harus selalu berakhir bersama, bukan?

b. Jika aku menjadi Helene, aku akan lebih mengutamakan cinta setelah melalui beberapa pertimbangan. Helene memang digambarkan sebagai sosok yang kuat dan patuh. Tapi bagaimanapun dia juga seorang gadis yang menginginkan cinta. Apalagi, yang dicintainya adalah seseorang yang tumbuh dewasa bersama dirinya.


Kamu berhak mendapatkan satu buah bookmark set An Ember in the Ashes persembahan dari Penerbit Spring. Mohon untuk mengirimkan data diri berikut.

Nama lengkap:

Alamat lengkap:

No. Telp./HP:

Kirimkan ke email giittaa@gmail.com atau DM via IG @gitaputeri.y atau FB Gita Puteri Yani. Aku tunggu sampai tanggal 27 Desember 2016 pukul 16.00 WIB ya.

Terima kasih buat semua peserta #GAEmberRakNovelGita ini. Jangan kecewa karena nggak menang ya sebab masih ada giveaway utama yang berlangsung di FP Penerbit Spring dengan hadiah satu eksemplar novel An Ember in the Ashes dan satu buah merchandise keren. Terima kasih juga buat teman-teman host lainnya, Gea, Tya, Ratna, dan Nay. Dari kalian aku belajar banyak buat jadi seorang book reviewer plus host blogtour.

Finally, terima kasih banyak buat Penerbit Spring yang sudah ngasih kesempatan padaku untuk jadi host blogtour novel keren An Ember in the Ashes. Semoga kita bisa bekerja sama lagi di lain waktu :)

Nantikan blogtour lainnya di Rak Novel Gita.


Until next time, Fellas!

Gita

[Blog Tour] Pengumuman Pemenang Mini Giveaway An Ember in the Ashes

27 December 2016

banner-ember-blogtour

Hai, hai ^_^

Udah lama nunggu ya? Maap, maap. Si bayi entah kenapa “pinter” banget hari ini. Minta gendong terusss :’( #curcol

Oke, sebelum curhatnya lanjut ke mana-mana, kita langsung aja ya. Jawaban yang masuk berjumlah 21 orang. Jawaban kalian bagus-bagus semua sehingga bikin aku kesulitan buat memutuskan pemenangnya. Tapi satu pemenang harus dipilih, dan setelah bertapa semalaman (sambil gendong bayi, tentunya), akhirnya kudapatkan juga pemenang #GAEmberRakNovelGita persembahan dari Penerbit Spring.

Congratulations to:

Wanda Istiqomah Z.

a. Jika aku menjadi Laia, aku akan memilih Keenan. Menurutku, Elias memang memiliki beberapa persamaan sekaligus perbedaan dengan Laia yang membuat cerita di antara mereka semakin menarik. Namun, Laia tidak membutuhkan sosok pemberontak yang glamour. Dia justru lebih membutuhkan sosok pemuda baik hati seperti Keenan yang akan mampu membantu dan melindunginya tanpa harus terlibat jauh dengan beban yang dimiliki pria itu, karena dalam diri Laia sendiri dia telah memiliki banyak beban. Lagi pula, dalam sebuah cerita, kedua tokoh utama (dalam hal ini Laia dan Elias) tidak harus selalu berakhir bersama, bukan?

b. Jika aku menjadi Helene, aku akan lebih mengutamakan cinta setelah melalui beberapa pertimbangan. Helene memang digambarkan sebagai sosok yang kuat dan patuh. Tapi bagaimanapun dia juga seorang gadis yang menginginkan cinta. Apalagi, yang dicintainya adalah seseorang yang tumbuh dewasa bersama dirinya.


Kamu berhak mendapatkan satu buah bookmark set An Ember in the Ashes persembahan dari Penerbit Spring. Mohon untuk mengirimkan data diri berikut.

Nama lengkap:

Alamat lengkap:

No. Telp./HP:

Kirimkan ke email giittaa@gmail.com atau DM via IG @gitaputeri.y atau FB Gita Puteri Yani. Aku tunggu sampai tanggal 27 Desember 2016 pukul 16.00 WIB ya.

Terima kasih buat semua peserta #GAEmberRakNovelGita ini. Jangan kecewa karena nggak menang ya sebab masih ada giveaway utama yang berlangsung di FP Penerbit Spring dengan hadiah satu eksemplar novel An Ember in the Ashes dan satu buah merchandise keren. Terima kasih juga buat teman-teman host lainnya, Gea, Tya, Ratna, dan Nay. Dari kalian aku belajar banyak buat jadi seorang book reviewer plus host blogtour.

Finally, terima kasih banyak buat Penerbit Spring yang sudah ngasih kesempatan padaku untuk jadi host blogtour novel keren An Ember in the Ashes. Semoga kita bisa bekerja sama lagi di lain waktu :)

Nantikan blogtour lainnya di Rak Novel Gita.


Until next time, Fellas!

Gita
Medan pertempuran adalah kuilku. Ujung pedang adalah pendetaku. Tarian kematian adalah doaku. Pukulan mematikan adalah pembebasku.

—Elias Veturius

Detail Buku

Seri: An Ember in the Ashes #1Genre: young adult, fantasy, dystopian,Penerbit: SpringPenerjemah: Yudith ListiandriPenyunting: Mery RiansyahTerbit: Desember 2016Bahasa: IndonesiaJumlah halaman: 520ISBN: 978-602-74322-8-4

Blurb

Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.


Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias.


Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackcliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas.


Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka.
*****
"Lima ratus tahun yang lalu, bangsa Martial menaklukkan wilayah Scholar, dan sejak itu kami ditindas dan diperbudak. Dahulu, Kekaisaran Scholar merupakan rumah bagi universitas dan perpustakaan terbaik di dunia. Sekarang, sebagian besar rakyat kami tidak bisa membedakan antara sekolah dan gudang senjata." -hlm. 9-10.

Laia, seorang gadis remaja Scholar berusia tujuh belas tahun, mendapati hidupnya yang tenang mendadak jungkir balik. Kakak lelakinya, Darin, ditangkap karena dituduh memberontak, kakek dan neneknya dibunuh, dan rumahnya dibakar habis. Laia yang ketakutan melarikan diri dan pada akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pemberontak, Resistance. Oleh sang pemimpin kelompok, Mazen, Laia ditugaskan untuk memata-matai Komandan sekolah militer Blackcliff yang terkenal kejam, brutal, dan senang menyiksa. Sebagai gantinya, sang pemimpin berjanji untuk membantu Laia membebaskan kakaknya yang ditahan dipenjara yang paling dijaga ketat di Imperium. Segera saja, Laia yang pengecut menjalani hari-hari menegangkan sebagai budak-garis-miring-mata-mata Komandan Blackcliff.


Laia berusaha keras melaksanakan tugas mata-matanya sambil menyelesaikan pekerjaannya sebagai budak dengan harapan apa yang dia lakukan dapat menolong kakaknya keluar dari penjara. Namun yang tidak dia sangka, dia mendapati sejumlah kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini dia ketahui. Tentang orang tuanya, Darin, Resistance, dan sang Komandan itu sendiri. Dia jadi tidak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya.


Di lain pihak, Elias Veturius sudah muak dengan kehidupan yang dijalaninya. Sebagai salah seorang prajurit Mask paling berbakat di Blackcliff, Elias memiliki masa depan yang cerah. Namun, dia merasa terkekang dengan semua itu. Yang dia inginkan hanyalah kebebasan untuk menjalani hidupnya. Rasa muaknya semakin tak tertahankan sehingga dia memutuskan untuk melarikan diri walaupun risikonya adalah dihukum cambuk sampai mati oleh sang Komandan yang juga ibu kandungnya sendiri, Keris Veturia.


Usaha pelariannya tidak berhasil, dan itu membuat Elias semakin frustrasi. Di tengah kegalauannya, dia diberi tahu oleh Augur bahwa dia boleh melarikan diri namun tak akan bisa lepas dari takdirnya. Bahwa jika dia tetap nekat melarikan diri, maka dia akan berubah menjadi jahat, tanpa ampun, dan kejam.


"...Kau adalah bara di tengah abu, Elias Veturius. Kau akan menyala dan membakar, merusak dan menghancurkan. Kau tak bisa mengubahnya. Kau tak bisa menghentikannya." —hlm. 80.

Augur juga memberi tahu Elias bahwa dia terpilih sebagai salah satu kandidat kaisar dan harus mengikuti empat ujian bersama tiga kandidat lainnya untuk menentukan siapa yang layak menjadi kaisar selanjutnya.


"...Kau boleh melarikan diri. Kau boleh meninggalkan tugasmu. Tapi, kau tidak bisa lepas dari takdirmu."  —hlm. 80. 

Merasa tidak punya pilihan lagi, Elias akhirnya pasrah dan memutuskan untuk mengikuti perintah Augur untuk menjalani Ujian sebagai salah satu kandidat kaisar.


"Jadi, pilihanku adalah tetap tinggal dan menjadi jahat, atau melarikan diri dan menjadi jahat. Benar-benar hebat."—hal. 91.

*****
Kalau aku harus menggambarkan An Ember in the Ashes dalam dua kata sifat, maka itu adalah memikat sekaligus brutal. Sabaa Tahir telah menciptakan dunia dengan perpaduan budaya Timur Tengah yang eksotis dan Romawi Kuno yang memesona.


Buku ini emang tebel banget ya, but no worries¸ Ladies and Gents, soalnya novel ini sama sekali nggak bosenin. Di sini, Tahir lihai banget dalam membangun ketegangan dan menyisipkan teka-teki yang sedikit demi sedikit terpecahkan, sehingga aku nggak bosan membaca sebanyak 520 halaman. Yang ada malah nagih banget kepengen cepet-cepet namatin. Soalnya, aku penasaran, euy! Sejak awal cerita, aku sudah diseret ke dalam suasana yang tegang dan mencekam. Ketegangan semakin bertambah saat Laia menjalankan tugas mata-matanya. Salah satu scene yang bikin aku tegang banget adalah saat Laia menyelinap dari Blackcliff bersama Izzi untuk pergi ke Festival Bulan. Lagi asik-asiknya menikmati dansa, tiba-tiba pasukan Martial datang untuk membubarkan festival itu. Otomatis, Laia dan Izzi harus buru-buru kembali ke Blackcliff, sebab kalau sampai ketahuan, mereka bakalan dihukum habis-habisan oleh Komandan. Untungnya ada yang datang untuk menolong mereka, walaupun nyaris banget ketahuan sama Komandan.


Tahir menggunakan sudut pandang pertama dari kedua tokoh utama. Aku pribadi suka dengan cara penceritaan seperti ini, karena aku jadi bisa tahu apa yang ada di kepala masing-masing tokoh utama. Menurutku, Tahir melakukan pergantian sudut pandang dari Laia ke Elias dengan halus sehingga tidak menimbulkan kebingungan.


Alur cerita dalam novel ini bergerak maju dengan beberapa kilas balik dalam narasinya. Agak lambat untuk seleraku. Mungkin karena ini buku pertama sehingga fokus utama adalah pengenalan tokoh dan world-building. Dunia dalam buku ini cukup detail. Aku bisa merasakan betapa kerasnya kehidupan di Imperium, betapa mencekamnya malam-malam yang harus mereka lalui. Cerita semakin memikat dengan kemunculan makhluk-makhluk mistis dari dongeng seribu satu malam seperti jin, ifrit, ghul, dan Nightbringer. Oh, ya, aku memang penggemar dongeng seribu satu malam :D


Image result for Nightbringer
Nightbringer sang dewa kematian dan kehancuran
Sayangnya, aku agak kecewa di sisi romansanya. Sebagai penggemar genre romance, aku mengharapkan interaksi yang lebih banyak antara Laia dan Elias, atau Helene dan Elias. Atau Laia dan Keenan aja juga ngga papa deh, asalkan romance-nya ditambahin dikiiit lagi #ngarep XD Ketertarikan antara Laia dan Elias menurutku dangkal, karena hanya berdasarkan fisik semata, tanpa ada elaborasi lebih jauh.

"Tepukan di bahuku semakin keras, dan aku berbalik, berniat mengusir Cadet itu. Namun, aku berhadapan dengan seorang gadis-budak yang mendongak menatapku melalui bulu matanya yang lentik. Getaran panas dan mendalam berkobar dalam diriku melihat matanya yang hitam cemerlang. Untuk sesaat, aku lupa namaku sendiri."—hal. 151-152.

Beda halnya dengan hubungan Elias dan Helene. Mereka sudah bersahabat selama 14 tahun, dan selama itu mereka sudah mengalami berbagai hal bersama. Aku memang terbelah dalam hal ini. Aku mau Laia dan Elias jadian karena sepertinya mereka memang ditakdirkan bersama. Tapi aku juga senang kalau Elias akhirnya memilih Helene karena mereka serasi banget. Intinya, sama siapa pun Elias nanti, aku tetap dukung. Gimana dengan Laia dan Keenan? Yah, well, Keenan is a sweet boy, tapi aku nggak ngerasain chemistry yang berarti antara dia dan Laia. Jadi, aku lebih memilih untuk melihat dulu maaauuu dibaaawa ke mannaaa hubungan kitaaa #eaaaaa #malahnyanyik

Terus, menurutku tokoh utama wanita di buku ini adalah Helene, bukan Laia. Sebab, cerita lebih banyak berkisar di kehidupan Blackcliff serta Ujian yang sedang berlangsung, yang artinya lebih banyak menceritakan Helene, sedangkan Laia seakan stuck dalam tugas budak-garis-miring-mata-mata-nya. Tapi, aku senang mengikuti interaksi dia dengan Izzi, terasa alami layaknya gadis-gadis muda yang senang bergosip, walaupun yang mereka gosipkan adalah sang Komandan yang mengerikan.


Another downside, banyak adegan kekerasan di sini. Rape, slavery, abuse, you name it. Meski bikin aku sering mengernyit, aku bisa memahami karena latar cerita ini terinspirasi dari kehidupan Sparta yang keras.

Karakter


Tokoh sentral dalam novel ini secara garis besar ada lima, yaitu Laia, Elias, Keenan, Helene, dan Komandan Keris Veturia.


Laia digambarkan sebagai seorang gadis cantik yang memiliki rambut gelap dan mata emas. Dia cenderung penakut tapi memiliki daya juang yang kuat. Honestly, aku nggak terlalu terkesan sama dia. Aku lebih suka sama tokoh-tokoh yang badass dan sassy macam Feyre di ACOMAF gitu deh. Tapi aku paham kenapa dia digambarkan seperti ini. Maksudku, di sini kan sudah ada Helene yang kuat. Kalau Laia jagoan juga, ditambah lagi Komandan, bisa pusing entar si Elias dikelilingi cewek-cewek tangguh. Hehehe…


Oke, serius. Meskipun penakut, Laia sangat setia sama kakaknya. Dia rela mengambil risiko terbunuh demi menyelamatkan kakaknya dari penjara Imperium. Ini bikin aku respek sama dia. Andai aku di posisi dia, belum tentu aku sanggup menjalani apa yang Laia hadapi. It’s just… she’s not my type of heroine.


Elias Veturius, terlepas dari kemampuan bertarungnya yang mematikan, adalah pribadi yang halus dan lembut. Dia juga berparas tampan dengan perawakan yang tinggi dan gagah. Cewek mana pun pasti tergila-gila sama dia. Masalahnya, karena kepribadiannya yang halus dan lembut itu, Elias jadi agak-agak kurang tegas gitu. Apalagi kalau menyangkut masalah cinta. Dia ini bimbang terus bawaannya. Duh! Kalo di dunia nyata, dia ini pasti termasuk dalam gerombolan cowok yang sering PHP nih, walaupun tanpa sengaja.


Betewe, kalian bisa bayangin nggak sih gimana rasanya pakai topeng yang terbuat dari perak cair setiap hari, setiap waktu, tanpa bisa melepaskannya? Pasti gerah banget ya. Tapi itulah nasib yang harus dijalani oleh prajurit Mask. Seorang Mask harus mengenakan topeng perak seumur hidupnya. Topeng ini tidak biasa, karena begitu dikenakan, maka semakin lama topeng itu akan semakin menyatu dengan kulit wajah seolah menjadi kulit kedua bagi pemakainya. Yang unik sekaligus bikin merinding adalah, tampaknya, semakin topeng ini menyatu dengan kulit, segala kebaikan yang ada di diri si pemakai pun akan semakin menghilang, sampai akhirnya mereka akan menjadi prajurit yang tidak memiliki belas kasih. Namun, rupanya, hal ini tidak berlaku bagi Elias, karena topengnya tidak bisa menyatu dengan kulitnya. Elias benci banget pokoknya sama topengnya itu.


"...Aku benci cara topeng itu menempel padaku seperti semacam parasit. Aku benci cara topeng itu menekan wajahku, membentuk wajahku sedemikian rupa."—hlm. 34.

Keenan di buku pertama ini masih misterius. Di awal pertemuan mereka, dia bersikap dingin pada Laia dan menentang keras saat Laia akan dikirim menjadi mata-mata Komandan. Menurutnya, Laia tidak akan mampu melakukan tugasnya dengan baik. Laia sebal karena Keenan meremehkannya. Tapi, lambat laun, cowok berambut merah ini mulai menunjukkan perhatian lebih pada Laia. Meski awalnya bersikap kasar, pada akhirnya dialah yang bersedia menolong Laia membebaskan kakaknya dan berusaha keras untuk mengeluarkan gadis itu dari Blackcliff.


Helene Aquilla adalah satu-satunya Mask perempuan di Blackcliff, selain sang Komandan. Dia juga salah satu prajurit terbaik di Blackcliff dan merupakan sahabat terdekat Elias. Saking dekatnya, Elias menganggap Helene sebagai dirinya yang lain. Namun demikian, Helene sangat berbeda dengan Elias yang cenderung memberontak. Helene sangat patuh pada peraturan dan setia pada Imperium. Dia gadis yang cantik dengan rambut pirang keperakannya yang menawan dan tubuhnya yang tinggi dan langsing.


Aku bersimpati banget sama Helene, soalnya dia ini kok malang banget ya. Laia masih punya kebebasan untuk memilih, tapi Helene tidak punya pilihan selain patuh dan setia pada Imperium. Yang paling bikin ngenes itu, tentu saja, cintanya pada Elias yang bertepuk sebelah tangan.


“Mencintaimu adalah hal terburuk yang pernah terjadi padaku—lebih buruk daripada cambukan Komandan, lebih buruk dari Ujian. Ini siksaan, Elias.”—hlm. 380.

Puk puk Helene :'(


Keris Veturia adalah tokoh yang paling bikin aku penasaran. Dia ini kayak yang tahu segala-galanya, padahal dia cuma manusia biasa, walaupun emang sih dia salah satu Mask paling kuat di Imperium. Terus, dia ini seperti punya agenda sendiri, entah apa motif dan tujuannya. Aku juga nggak habis pikir, kenapa dia benci banget sama Elias. Sekesal-kesalnya sama anak, yang namanya ibu pasti sayang donk ah sama anaknya #emakbaper -_-


Ending


Seperti halnya novel-novel serial lainnya, ending cerita ini menggantung. Tapi tenang aja, karena buku kedua versi English-nya sudah terbit, jadi seharusnya kita bisa berharap nggak perlu terlalu lama nungguin versi terjemahannya.


Alih Bahasa dan Desain Cover


Dari segi terjemahan, kuacungkan dua jempol buat Yudith Listiandri. For your information, sebelum versi bahasa Indonesia ini terbit, aku sudah baca versi English-nya, jadi aku bisa bandingin. Aku salut sama penerjemahnya karena berhasil mengalihbahasakan novel ini secara mengalir dan enak dibaca.


Cover buku ini cantik banget. Paling cantik dari semua versi yang ada, menurutku. Buat para bibliophile dan bookstagrammer di luar sana, buku ini pas banget buat kalian untuk dikoleksi karena very collectible and instagrammable. Ditambah lagi bookmark yang menjadi bonusnya juga keren banget.


Aku dapat Helene. Yaaay >o<
Overall


Ini salah satu novel young-adult paling keren yang pernah aku baca sampai saat ini. Cerita yang memukau, terjemahan yang mengalir lancar, plus desain cover dan bookmark yang cantik bikin novel ini layak menghuni rak novel kamu. Dan, kalo kamu penggemar genre distopia, thriller, misteri, dan nggak terlalu keberatan sama scene-scene yang agak sadis, then this one is definitely for you.


My rating: ♥♥♥♥♥


banner-ember-blogtour


And now, giveaway tiiiiime! ^_^

Oke, seperti yang mungkin sudah kalian tahu, bakalan ada giveaway di akhir blogtour ini. Akan ada satu buah buku An Ember in the Ashes untuk satu pemenang, dan satu buah merchandise keren untuk satu pemenang. Syarat untuk mengikuti giveaway ini sebagai berikut.

  1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y

  2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring

  3. Follow blog Rak Novel Gita.

  4. Jawab pertanyaan dari masing-masing host blogtour. Untuk mengetahui pertanyaan lainnya, silakan kunjungi blog Gea, Tya, Ratna, dan Nay.


Pertanyaan hari keempat:


Siapa nama lengkap ibu kandung Elias?

Gampang banget, kan. Jawabannya tuliskan di kolom komentar di FP Penerbit Spring bersama jawaban pertanyaan dari host blogtour lainnya pada tanggal 24 Desember 2016 nanti.

Sementara menunggu giveaway utama, ikutan mini giveaway dulu ya. Hadiahnya berupa collectible bookmark set An Ember in the Ashes untuk satu orang pemenang. Caranya sebagai berikut.

1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y

2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring

3. Follow blog Rak Novel Gita.

4. Share artikel ini ke media sosialmu dan beri hashtag #GAEmberRakNovelGita

5. Jawab pertanyaan berikut.

a. Kalo kamu jadi Laia, siapa yang kamu pilih, Elias atau Keenan? Kenapa?

b. Kalo kamu jadi Helene, mana yang lebih utama buat kamu, Imperium atau cinta? Kenapa?


6. Tuliskan data dan jawaban kalian di kolom komentar di bawah ini dengan format:

Nama:

Link share:

Jawaban:
Mini giveaway ini akan ditutup pada tanggal 25 Desember 2016 pukul 23.59 WIB. Pemenangnya akan aku umumin secepatnya di blog dan Instagram-ku.



Good luck and until my next post, Fellas!

Gita

[Resensi] An Ember in the Ashes - Sabaa Tahir: Blogtour + Giveaway

22 December 2016

Medan pertempuran adalah kuilku. Ujung pedang adalah pendetaku. Tarian kematian adalah doaku. Pukulan mematikan adalah pembebasku.

—Elias Veturius

Detail Buku

Seri: An Ember in the Ashes #1Genre: young adult, fantasy, dystopian,Penerbit: SpringPenerjemah: Yudith ListiandriPenyunting: Mery RiansyahTerbit: Desember 2016Bahasa: IndonesiaJumlah halaman: 520ISBN: 978-602-74322-8-4

Blurb

Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.


Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias.


Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackcliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas.


Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka.
*****
"Lima ratus tahun yang lalu, bangsa Martial menaklukkan wilayah Scholar, dan sejak itu kami ditindas dan diperbudak. Dahulu, Kekaisaran Scholar merupakan rumah bagi universitas dan perpustakaan terbaik di dunia. Sekarang, sebagian besar rakyat kami tidak bisa membedakan antara sekolah dan gudang senjata." -hlm. 9-10.

Laia, seorang gadis remaja Scholar berusia tujuh belas tahun, mendapati hidupnya yang tenang mendadak jungkir balik. Kakak lelakinya, Darin, ditangkap karena dituduh memberontak, kakek dan neneknya dibunuh, dan rumahnya dibakar habis. Laia yang ketakutan melarikan diri dan pada akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pemberontak, Resistance. Oleh sang pemimpin kelompok, Mazen, Laia ditugaskan untuk memata-matai Komandan sekolah militer Blackcliff yang terkenal kejam, brutal, dan senang menyiksa. Sebagai gantinya, sang pemimpin berjanji untuk membantu Laia membebaskan kakaknya yang ditahan dipenjara yang paling dijaga ketat di Imperium. Segera saja, Laia yang pengecut menjalani hari-hari menegangkan sebagai budak-garis-miring-mata-mata Komandan Blackcliff.


Laia berusaha keras melaksanakan tugas mata-matanya sambil menyelesaikan pekerjaannya sebagai budak dengan harapan apa yang dia lakukan dapat menolong kakaknya keluar dari penjara. Namun yang tidak dia sangka, dia mendapati sejumlah kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini dia ketahui. Tentang orang tuanya, Darin, Resistance, dan sang Komandan itu sendiri. Dia jadi tidak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya.


Di lain pihak, Elias Veturius sudah muak dengan kehidupan yang dijalaninya. Sebagai salah seorang prajurit Mask paling berbakat di Blackcliff, Elias memiliki masa depan yang cerah. Namun, dia merasa terkekang dengan semua itu. Yang dia inginkan hanyalah kebebasan untuk menjalani hidupnya. Rasa muaknya semakin tak tertahankan sehingga dia memutuskan untuk melarikan diri walaupun risikonya adalah dihukum cambuk sampai mati oleh sang Komandan yang juga ibu kandungnya sendiri, Keris Veturia.


Usaha pelariannya tidak berhasil, dan itu membuat Elias semakin frustrasi. Di tengah kegalauannya, dia diberi tahu oleh Augur bahwa dia boleh melarikan diri namun tak akan bisa lepas dari takdirnya. Bahwa jika dia tetap nekat melarikan diri, maka dia akan berubah menjadi jahat, tanpa ampun, dan kejam.


"...Kau adalah bara di tengah abu, Elias Veturius. Kau akan menyala dan membakar, merusak dan menghancurkan. Kau tak bisa mengubahnya. Kau tak bisa menghentikannya." —hlm. 80.

Augur juga memberi tahu Elias bahwa dia terpilih sebagai salah satu kandidat kaisar dan harus mengikuti empat ujian bersama tiga kandidat lainnya untuk menentukan siapa yang layak menjadi kaisar selanjutnya.


"...Kau boleh melarikan diri. Kau boleh meninggalkan tugasmu. Tapi, kau tidak bisa lepas dari takdirmu."  —hlm. 80. 

Merasa tidak punya pilihan lagi, Elias akhirnya pasrah dan memutuskan untuk mengikuti perintah Augur untuk menjalani Ujian sebagai salah satu kandidat kaisar.


"Jadi, pilihanku adalah tetap tinggal dan menjadi jahat, atau melarikan diri dan menjadi jahat. Benar-benar hebat."—hal. 91.

*****
Kalau aku harus menggambarkan An Ember in the Ashes dalam dua kata sifat, maka itu adalah memikat sekaligus brutal. Sabaa Tahir telah menciptakan dunia dengan perpaduan budaya Timur Tengah yang eksotis dan Romawi Kuno yang memesona.


Buku ini emang tebel banget ya, but no worries¸ Ladies and Gents, soalnya novel ini sama sekali nggak bosenin. Di sini, Tahir lihai banget dalam membangun ketegangan dan menyisipkan teka-teki yang sedikit demi sedikit terpecahkan, sehingga aku nggak bosan membaca sebanyak 520 halaman. Yang ada malah nagih banget kepengen cepet-cepet namatin. Soalnya, aku penasaran, euy! Sejak awal cerita, aku sudah diseret ke dalam suasana yang tegang dan mencekam. Ketegangan semakin bertambah saat Laia menjalankan tugas mata-matanya. Salah satu scene yang bikin aku tegang banget adalah saat Laia menyelinap dari Blackcliff bersama Izzi untuk pergi ke Festival Bulan. Lagi asik-asiknya menikmati dansa, tiba-tiba pasukan Martial datang untuk membubarkan festival itu. Otomatis, Laia dan Izzi harus buru-buru kembali ke Blackcliff, sebab kalau sampai ketahuan, mereka bakalan dihukum habis-habisan oleh Komandan. Untungnya ada yang datang untuk menolong mereka, walaupun nyaris banget ketahuan sama Komandan.


Tahir menggunakan sudut pandang pertama dari kedua tokoh utama. Aku pribadi suka dengan cara penceritaan seperti ini, karena aku jadi bisa tahu apa yang ada di kepala masing-masing tokoh utama. Menurutku, Tahir melakukan pergantian sudut pandang dari Laia ke Elias dengan halus sehingga tidak menimbulkan kebingungan.


Alur cerita dalam novel ini bergerak maju dengan beberapa kilas balik dalam narasinya. Agak lambat untuk seleraku. Mungkin karena ini buku pertama sehingga fokus utama adalah pengenalan tokoh dan world-building. Dunia dalam buku ini cukup detail. Aku bisa merasakan betapa kerasnya kehidupan di Imperium, betapa mencekamnya malam-malam yang harus mereka lalui. Cerita semakin memikat dengan kemunculan makhluk-makhluk mistis dari dongeng seribu satu malam seperti jin, ifrit, ghul, dan Nightbringer. Oh, ya, aku memang penggemar dongeng seribu satu malam :D


Image result for Nightbringer
Nightbringer sang dewa kematian dan kehancuran
Sayangnya, aku agak kecewa di sisi romansanya. Sebagai penggemar genre romance, aku mengharapkan interaksi yang lebih banyak antara Laia dan Elias, atau Helene dan Elias. Atau Laia dan Keenan aja juga ngga papa deh, asalkan romance-nya ditambahin dikiiit lagi #ngarep XD Ketertarikan antara Laia dan Elias menurutku dangkal, karena hanya berdasarkan fisik semata, tanpa ada elaborasi lebih jauh.

"Tepukan di bahuku semakin keras, dan aku berbalik, berniat mengusir Cadet itu. Namun, aku berhadapan dengan seorang gadis-budak yang mendongak menatapku melalui bulu matanya yang lentik. Getaran panas dan mendalam berkobar dalam diriku melihat matanya yang hitam cemerlang. Untuk sesaat, aku lupa namaku sendiri."—hal. 151-152.

Beda halnya dengan hubungan Elias dan Helene. Mereka sudah bersahabat selama 14 tahun, dan selama itu mereka sudah mengalami berbagai hal bersama. Aku memang terbelah dalam hal ini. Aku mau Laia dan Elias jadian karena sepertinya mereka memang ditakdirkan bersama. Tapi aku juga senang kalau Elias akhirnya memilih Helene karena mereka serasi banget. Intinya, sama siapa pun Elias nanti, aku tetap dukung. Gimana dengan Laia dan Keenan? Yah, well, Keenan is a sweet boy, tapi aku nggak ngerasain chemistry yang berarti antara dia dan Laia. Jadi, aku lebih memilih untuk melihat dulu maaauuu dibaaawa ke mannaaa hubungan kitaaa #eaaaaa #malahnyanyik

Terus, menurutku tokoh utama wanita di buku ini adalah Helene, bukan Laia. Sebab, cerita lebih banyak berkisar di kehidupan Blackcliff serta Ujian yang sedang berlangsung, yang artinya lebih banyak menceritakan Helene, sedangkan Laia seakan stuck dalam tugas budak-garis-miring-mata-mata-nya. Tapi, aku senang mengikuti interaksi dia dengan Izzi, terasa alami layaknya gadis-gadis muda yang senang bergosip, walaupun yang mereka gosipkan adalah sang Komandan yang mengerikan.


Another downside, banyak adegan kekerasan di sini. Rape, slavery, abuse, you name it. Meski bikin aku sering mengernyit, aku bisa memahami karena latar cerita ini terinspirasi dari kehidupan Sparta yang keras.

Karakter


Tokoh sentral dalam novel ini secara garis besar ada lima, yaitu Laia, Elias, Keenan, Helene, dan Komandan Keris Veturia.


Laia digambarkan sebagai seorang gadis cantik yang memiliki rambut gelap dan mata emas. Dia cenderung penakut tapi memiliki daya juang yang kuat. Honestly, aku nggak terlalu terkesan sama dia. Aku lebih suka sama tokoh-tokoh yang badass dan sassy macam Feyre di ACOMAF gitu deh. Tapi aku paham kenapa dia digambarkan seperti ini. Maksudku, di sini kan sudah ada Helene yang kuat. Kalau Laia jagoan juga, ditambah lagi Komandan, bisa pusing entar si Elias dikelilingi cewek-cewek tangguh. Hehehe…


Oke, serius. Meskipun penakut, Laia sangat setia sama kakaknya. Dia rela mengambil risiko terbunuh demi menyelamatkan kakaknya dari penjara Imperium. Ini bikin aku respek sama dia. Andai aku di posisi dia, belum tentu aku sanggup menjalani apa yang Laia hadapi. It’s just… she’s not my type of heroine.


Elias Veturius, terlepas dari kemampuan bertarungnya yang mematikan, adalah pribadi yang halus dan lembut. Dia juga berparas tampan dengan perawakan yang tinggi dan gagah. Cewek mana pun pasti tergila-gila sama dia. Masalahnya, karena kepribadiannya yang halus dan lembut itu, Elias jadi agak-agak kurang tegas gitu. Apalagi kalau menyangkut masalah cinta. Dia ini bimbang terus bawaannya. Duh! Kalo di dunia nyata, dia ini pasti termasuk dalam gerombolan cowok yang sering PHP nih, walaupun tanpa sengaja.


Betewe, kalian bisa bayangin nggak sih gimana rasanya pakai topeng yang terbuat dari perak cair setiap hari, setiap waktu, tanpa bisa melepaskannya? Pasti gerah banget ya. Tapi itulah nasib yang harus dijalani oleh prajurit Mask. Seorang Mask harus mengenakan topeng perak seumur hidupnya. Topeng ini tidak biasa, karena begitu dikenakan, maka semakin lama topeng itu akan semakin menyatu dengan kulit wajah seolah menjadi kulit kedua bagi pemakainya. Yang unik sekaligus bikin merinding adalah, tampaknya, semakin topeng ini menyatu dengan kulit, segala kebaikan yang ada di diri si pemakai pun akan semakin menghilang, sampai akhirnya mereka akan menjadi prajurit yang tidak memiliki belas kasih. Namun, rupanya, hal ini tidak berlaku bagi Elias, karena topengnya tidak bisa menyatu dengan kulitnya. Elias benci banget pokoknya sama topengnya itu.


"...Aku benci cara topeng itu menempel padaku seperti semacam parasit. Aku benci cara topeng itu menekan wajahku, membentuk wajahku sedemikian rupa."—hlm. 34.

Keenan di buku pertama ini masih misterius. Di awal pertemuan mereka, dia bersikap dingin pada Laia dan menentang keras saat Laia akan dikirim menjadi mata-mata Komandan. Menurutnya, Laia tidak akan mampu melakukan tugasnya dengan baik. Laia sebal karena Keenan meremehkannya. Tapi, lambat laun, cowok berambut merah ini mulai menunjukkan perhatian lebih pada Laia. Meski awalnya bersikap kasar, pada akhirnya dialah yang bersedia menolong Laia membebaskan kakaknya dan berusaha keras untuk mengeluarkan gadis itu dari Blackcliff.


Helene Aquilla adalah satu-satunya Mask perempuan di Blackcliff, selain sang Komandan. Dia juga salah satu prajurit terbaik di Blackcliff dan merupakan sahabat terdekat Elias. Saking dekatnya, Elias menganggap Helene sebagai dirinya yang lain. Namun demikian, Helene sangat berbeda dengan Elias yang cenderung memberontak. Helene sangat patuh pada peraturan dan setia pada Imperium. Dia gadis yang cantik dengan rambut pirang keperakannya yang menawan dan tubuhnya yang tinggi dan langsing.


Aku bersimpati banget sama Helene, soalnya dia ini kok malang banget ya. Laia masih punya kebebasan untuk memilih, tapi Helene tidak punya pilihan selain patuh dan setia pada Imperium. Yang paling bikin ngenes itu, tentu saja, cintanya pada Elias yang bertepuk sebelah tangan.


“Mencintaimu adalah hal terburuk yang pernah terjadi padaku—lebih buruk daripada cambukan Komandan, lebih buruk dari Ujian. Ini siksaan, Elias.”—hlm. 380.

Puk puk Helene :'(


Keris Veturia adalah tokoh yang paling bikin aku penasaran. Dia ini kayak yang tahu segala-galanya, padahal dia cuma manusia biasa, walaupun emang sih dia salah satu Mask paling kuat di Imperium. Terus, dia ini seperti punya agenda sendiri, entah apa motif dan tujuannya. Aku juga nggak habis pikir, kenapa dia benci banget sama Elias. Sekesal-kesalnya sama anak, yang namanya ibu pasti sayang donk ah sama anaknya #emakbaper -_-


Ending


Seperti halnya novel-novel serial lainnya, ending cerita ini menggantung. Tapi tenang aja, karena buku kedua versi English-nya sudah terbit, jadi seharusnya kita bisa berharap nggak perlu terlalu lama nungguin versi terjemahannya.


Alih Bahasa dan Desain Cover


Dari segi terjemahan, kuacungkan dua jempol buat Yudith Listiandri. For your information, sebelum versi bahasa Indonesia ini terbit, aku sudah baca versi English-nya, jadi aku bisa bandingin. Aku salut sama penerjemahnya karena berhasil mengalihbahasakan novel ini secara mengalir dan enak dibaca.


Cover buku ini cantik banget. Paling cantik dari semua versi yang ada, menurutku. Buat para bibliophile dan bookstagrammer di luar sana, buku ini pas banget buat kalian untuk dikoleksi karena very collectible and instagrammable. Ditambah lagi bookmark yang menjadi bonusnya juga keren banget.


Aku dapat Helene. Yaaay >o<
Overall


Ini salah satu novel young-adult paling keren yang pernah aku baca sampai saat ini. Cerita yang memukau, terjemahan yang mengalir lancar, plus desain cover dan bookmark yang cantik bikin novel ini layak menghuni rak novel kamu. Dan, kalo kamu penggemar genre distopia, thriller, misteri, dan nggak terlalu keberatan sama scene-scene yang agak sadis, then this one is definitely for you.


My rating: ♥♥♥♥♥


banner-ember-blogtour


And now, giveaway tiiiiime! ^_^

Oke, seperti yang mungkin sudah kalian tahu, bakalan ada giveaway di akhir blogtour ini. Akan ada satu buah buku An Ember in the Ashes untuk satu pemenang, dan satu buah merchandise keren untuk satu pemenang. Syarat untuk mengikuti giveaway ini sebagai berikut.

  1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y

  2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring

  3. Follow blog Rak Novel Gita.

  4. Jawab pertanyaan dari masing-masing host blogtour. Untuk mengetahui pertanyaan lainnya, silakan kunjungi blog Gea, Tya, Ratna, dan Nay.


Pertanyaan hari keempat:


Siapa nama lengkap ibu kandung Elias?

Gampang banget, kan. Jawabannya tuliskan di kolom komentar di FP Penerbit Spring bersama jawaban pertanyaan dari host blogtour lainnya pada tanggal 24 Desember 2016 nanti.

Sementara menunggu giveaway utama, ikutan mini giveaway dulu ya. Hadiahnya berupa collectible bookmark set An Ember in the Ashes untuk satu orang pemenang. Caranya sebagai berikut.

1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y

2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring

3. Follow blog Rak Novel Gita.

4. Share artikel ini ke media sosialmu dan beri hashtag #GAEmberRakNovelGita

5. Jawab pertanyaan berikut.

a. Kalo kamu jadi Laia, siapa yang kamu pilih, Elias atau Keenan? Kenapa?

b. Kalo kamu jadi Helene, mana yang lebih utama buat kamu, Imperium atau cinta? Kenapa?


6. Tuliskan data dan jawaban kalian di kolom komentar di bawah ini dengan format:

Nama:

Link share:

Jawaban:
Mini giveaway ini akan ditutup pada tanggal 25 Desember 2016 pukul 23.59 WIB. Pemenangnya akan aku umumin secepatnya di blog dan Instagram-ku.



Good luck and until my next post, Fellas!

Gita

[caption id="" align="aligncenter" width="317"]A Court of Wings and Ruin (A Court of Thorns and Roses, #3) Sumber[/caption]

Assalamu'alaikum.

Ya ampuuun, sudah lama banget nggak nyentuh blog ini. Padahal banyak banget buku yang mau diresensi. Apalah daya waktu yang nggak mencukupi.

Okelah, sebagai quick update, aku mau share buku-buku yang kutunggu banget dalam waktu dekat ini. Kebanyakan sih baru terbit tahun 2017 nanti, tapi ada juga yang terbitnya bulan ini. Berikut daftarnya.

1. A Court of Wings and Ruin by Sarah J. Maas. Terbit Mei 2017.



Ini novel yang paling kutunggu tahun depan. Ending buku keduanya, A Court of Mist and Fury, ngegantung banget. Bikin penasaran sampai ke ubun-ubun. Aku juga sudah nggak sabar pengen ketemuan lagi sama Feyre, Cassian, Azriel, Amren, Mor, dan, tentu saja, sang High Lord of the Night Court yang memikat, Rhysand.

Betewe, adakah penerbit yang mau nerbitin edisi terjemahan serial ini? Pengen banget ngoleksi bukunya, tapi nggak tega liat harga versi English-nya ini. Kasian dompetku. Huhuhu...

2. King's Cage by Victoria Aveyard. Terbit Februari 2017.



[caption id="" align="aligncenter" width="315"]30226723 Sumber[/caption]
King's Cage?? KING'S CAGE??? Oh, yes, Maven. You're BACK!!! Biar kata psiko, tapi aku tetep cinta kamuh #teamMavenforLife #abaikan

Sebenernya, aku nggak gitu ngefans sih sama serial Red Queen, tapi tokoh Maven bikin aku jatuh cinta. Walaupun di sini dia adalah tokoh antagonis, aku masih berharap dia bakalan tobat trus balikan lagi sama Mare #ngarepdotcom #agirlcandream

3. Jingga untuk Matahari oleh Esti Kinasih.

Image result for jingga untuk matahari

Aku sebenernya sudah lupa kalo serial Jingga dan Senja itu masih belum tamat. Habisnya lama banget. Dari zaman masih
unyu-unyu belum punya anak sampai sekarang sudah punya dua buntut, masih belum terbit juga ini novel. Buku keduanya, Jingga dalam Elegi, terbit tahun 2011. Berarti sudah lima tahun yang lalu bok! Ckckck...

Aku sebenernya nggak tau juga tanggal terbit pastinya itu kapan. Aku cuma liat pengumuman di twitter-nya Gramedia bahwa JUM bakalan terbit dalam waktu dekat ini. Semoga aja bukan PHP yak.

4. Origin by Dan Brown. Terbit September 2017.



[caption id="" align="aligncenter" width="309"]Origin (Robert Langdon, #5) Sumber[/caption]
Oh, yes! My fave author is back! Aku cinta banget sama karya-karyanya Dan Brown. Semua novelnya aku sukak. Ini penulis jenius banget gilak! Pokoknya setiap kali dia nerbitin novel, aku pasti baca. Nggak pernah ketinggalan.

5. An Ember in the Ashes (versi bahasa Indonesian) by Sabaa Tahir. Terbit Desember 2016.





[caption id="" align="aligncenter" width="318"]An Ember in the Ashes (An Ember in the Ashes, #1) Sumber[/caption]
Aku sudah baca versi bahasa Inggrisnya. Aku bahkan nyaris beli paperback-nya saking sukanya sama novel ini. Untung keburu liat pengumuman Penerbit Spring di IG mereka bahwa mereka bakalan nerbitin terjemahannya. Alhamdulillah ya, soalnya versi English-nya mahal na'udzubillah.

Sedikit bocoran, aku juga sudah baca buku keduanya, dan ceritanya keren banget. Bahkan lebih keren dari buku pertamanya. Insya Allah bakalan aku tulis resensinya, tapi nunggu buku pertamanya sampai di tanganku dulu. Biar resensinya sinkron, gitu. Nggak loncat-loncat.

Udah ah, segitu aja wishlist-nya. Takut dompet
suamiaku jebol XD


Until the next post, Fellas!

Gita

[Wishlist] Most Anticipated Books

02 December 2016


[caption id="" align="aligncenter" width="317"]A Court of Wings and Ruin (A Court of Thorns and Roses, #3) Sumber[/caption]

Assalamu'alaikum.

Ya ampuuun, sudah lama banget nggak nyentuh blog ini. Padahal banyak banget buku yang mau diresensi. Apalah daya waktu yang nggak mencukupi.

Okelah, sebagai quick update, aku mau share buku-buku yang kutunggu banget dalam waktu dekat ini. Kebanyakan sih baru terbit tahun 2017 nanti, tapi ada juga yang terbitnya bulan ini. Berikut daftarnya.

1. A Court of Wings and Ruin by Sarah J. Maas. Terbit Mei 2017.



Ini novel yang paling kutunggu tahun depan. Ending buku keduanya, A Court of Mist and Fury, ngegantung banget. Bikin penasaran sampai ke ubun-ubun. Aku juga sudah nggak sabar pengen ketemuan lagi sama Feyre, Cassian, Azriel, Amren, Mor, dan, tentu saja, sang High Lord of the Night Court yang memikat, Rhysand.

Betewe, adakah penerbit yang mau nerbitin edisi terjemahan serial ini? Pengen banget ngoleksi bukunya, tapi nggak tega liat harga versi English-nya ini. Kasian dompetku. Huhuhu...

2. King's Cage by Victoria Aveyard. Terbit Februari 2017.



[caption id="" align="aligncenter" width="315"]30226723 Sumber[/caption]
King's Cage?? KING'S CAGE??? Oh, yes, Maven. You're BACK!!! Biar kata psiko, tapi aku tetep cinta kamuh #teamMavenforLife #abaikan

Sebenernya, aku nggak gitu ngefans sih sama serial Red Queen, tapi tokoh Maven bikin aku jatuh cinta. Walaupun di sini dia adalah tokoh antagonis, aku masih berharap dia bakalan tobat trus balikan lagi sama Mare #ngarepdotcom #agirlcandream

3. Jingga untuk Matahari oleh Esti Kinasih.

Image result for jingga untuk matahari

Aku sebenernya sudah lupa kalo serial Jingga dan Senja itu masih belum tamat. Habisnya lama banget. Dari zaman masih
unyu-unyu belum punya anak sampai sekarang sudah punya dua buntut, masih belum terbit juga ini novel. Buku keduanya, Jingga dalam Elegi, terbit tahun 2011. Berarti sudah lima tahun yang lalu bok! Ckckck...

Aku sebenernya nggak tau juga tanggal terbit pastinya itu kapan. Aku cuma liat pengumuman di twitter-nya Gramedia bahwa JUM bakalan terbit dalam waktu dekat ini. Semoga aja bukan PHP yak.

4. Origin by Dan Brown. Terbit September 2017.



[caption id="" align="aligncenter" width="309"]Origin (Robert Langdon, #5) Sumber[/caption]
Oh, yes! My fave author is back! Aku cinta banget sama karya-karyanya Dan Brown. Semua novelnya aku sukak. Ini penulis jenius banget gilak! Pokoknya setiap kali dia nerbitin novel, aku pasti baca. Nggak pernah ketinggalan.

5. An Ember in the Ashes (versi bahasa Indonesian) by Sabaa Tahir. Terbit Desember 2016.





[caption id="" align="aligncenter" width="318"]An Ember in the Ashes (An Ember in the Ashes, #1) Sumber[/caption]
Aku sudah baca versi bahasa Inggrisnya. Aku bahkan nyaris beli paperback-nya saking sukanya sama novel ini. Untung keburu liat pengumuman Penerbit Spring di IG mereka bahwa mereka bakalan nerbitin terjemahannya. Alhamdulillah ya, soalnya versi English-nya mahal na'udzubillah.

Sedikit bocoran, aku juga sudah baca buku keduanya, dan ceritanya keren banget. Bahkan lebih keren dari buku pertamanya. Insya Allah bakalan aku tulis resensinya, tapi nunggu buku pertamanya sampai di tanganku dulu. Biar resensinya sinkron, gitu. Nggak loncat-loncat.

Udah ah, segitu aja wishlist-nya. Takut dompet
suamiaku jebol XD


Until the next post, Fellas!

Gita
10325697_651797381575241_2948501595714140646_n


Judul asli: Honor's Splendor
Judul Terjemahan: Cinta dan Kehormatan
Penerbit: Dastan Books
Penerjemah: Gita Puteri Yani
Tebal:  592 halaman
ISBN: 9786022471677
Harga: Rp. 75.000
Terbit: Mei 2014

Sinopsis

Menuntut balas dendam atas apa yang terjadi pada adik perempuannya, Baron Duncan of Wexton menyandera Lady Madelyne sebagai tawanan dari penaklukan benteng Baron Louddon. Namun setelah melihat kecantikan Madelyne yang sesungguhnya, Duncan pun menepikan rencana awalnya dan bersumpah untuk melindungi sang lady.

Lady Madelyne, yang telah bertahun-tahun hidup dalam penindasan Baron Louddon, sebenarnya telah bertekad untuk pergi ke tempat sepupunya di Skotlandia guna mencari rasa aman. Namun dalam masa penawanannya oleh Duncan, ia melihat sisi lain dari Duncan yang membuat hatinya bergetar oleh perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bahaya masih mengancam Madelyne, Louddon ternyata mempunyai niat keji pada Madelyne dan berusaha mendapatkannya kembali. Akankah Duncan membiarkan Madelyne yang ia cintai lepas dari pelukannya? Siapkah Madelyne menerima keterpikatannya pada Duncan yang semakin tak terbendung? Semua bahaya dan rintangan yang menghadang menuntut pembuktian kekuatan cinta mereka berdua.

[Terjemahanku] Honor's Splendour - Julie Garwood

15 September 2016

10325697_651797381575241_2948501595714140646_n


Judul asli: Honor's Splendor
Judul Terjemahan: Cinta dan Kehormatan
Penerbit: Dastan Books
Penerjemah: Gita Puteri Yani
Tebal:  592 halaman
ISBN: 9786022471677
Harga: Rp. 75.000
Terbit: Mei 2014

Sinopsis

Menuntut balas dendam atas apa yang terjadi pada adik perempuannya, Baron Duncan of Wexton menyandera Lady Madelyne sebagai tawanan dari penaklukan benteng Baron Louddon. Namun setelah melihat kecantikan Madelyne yang sesungguhnya, Duncan pun menepikan rencana awalnya dan bersumpah untuk melindungi sang lady.

Lady Madelyne, yang telah bertahun-tahun hidup dalam penindasan Baron Louddon, sebenarnya telah bertekad untuk pergi ke tempat sepupunya di Skotlandia guna mencari rasa aman. Namun dalam masa penawanannya oleh Duncan, ia melihat sisi lain dari Duncan yang membuat hatinya bergetar oleh perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bahaya masih mengancam Madelyne, Louddon ternyata mempunyai niat keji pada Madelyne dan berusaha mendapatkannya kembali. Akankah Duncan membiarkan Madelyne yang ia cintai lepas dari pelukannya? Siapkah Madelyne menerima keterpikatannya pada Duncan yang semakin tak terbendung? Semua bahaya dan rintangan yang menghadang menuntut pembuktian kekuatan cinta mereka berdua.
558009_449860595102255_1787247342_n


Judul asli: Castles in the Air
Penerbit: Dastan Books
Penerjemah: Gita Puteri Yani
Penyunting:
Tebal:  464 halaman
ISBN: 9786022470762
Harga: Rp. 59.900
Terbit: April 2013

Sinopsis

Dokumen yang ditandatangani dan dicap oleh King Henry mengharuskan Lady Juliana of Lofts menikah dengan Geoffroi Jean Louis Raymond, Count of AvrachΓ©. Namun Juliana enggan menerima pernikahan itu dan selalu menunda-nundanya dengan halus, meskipun dengan risiko dirinya akan dinilai melakukan pengkhianatan dengan menentang perintah tersebut.

Raymond pun akhirnya mendatangi Juliana untuk mengklaim apa yang menjadi haknya. Ternyata Raymond mendapati bahwa bukan hal yang mudah untuk melaksanakan niat tersebut, karena masa lalu Juliana membuat gadis itu berusaha menolaknya. Selain itu, Raymond juga harus menghadapi intrik istana yang mengintai bersama maut yang mengancam mereka berdua.

Akankah Juliana tetap menolak Raymond dengan semua usaha yang telah dilakukan sang count? Mampukah Raymond menaklukkan dan meluluhkan hati Juliana sehingga mendapatkan cintanya?

[Terjemahanku] Castle in the Air - Christina Dodd

558009_449860595102255_1787247342_n


Judul asli: Castles in the Air
Penerbit: Dastan Books
Penerjemah: Gita Puteri Yani
Penyunting:
Tebal:  464 halaman
ISBN: 9786022470762
Harga: Rp. 59.900
Terbit: April 2013

Sinopsis

Dokumen yang ditandatangani dan dicap oleh King Henry mengharuskan Lady Juliana of Lofts menikah dengan Geoffroi Jean Louis Raymond, Count of AvrachΓ©. Namun Juliana enggan menerima pernikahan itu dan selalu menunda-nundanya dengan halus, meskipun dengan risiko dirinya akan dinilai melakukan pengkhianatan dengan menentang perintah tersebut.

Raymond pun akhirnya mendatangi Juliana untuk mengklaim apa yang menjadi haknya. Ternyata Raymond mendapati bahwa bukan hal yang mudah untuk melaksanakan niat tersebut, karena masa lalu Juliana membuat gadis itu berusaha menolaknya. Selain itu, Raymond juga harus menghadapi intrik istana yang mengintai bersama maut yang mengancam mereka berdua.

Akankah Juliana tetap menolak Raymond dengan semua usaha yang telah dilakukan sang count? Mampukah Raymond menaklukkan dan meluluhkan hati Juliana sehingga mendapatkan cintanya?

13232499

Sinopsis

"Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku."

Ini adalah salah satu kisah yang terjadi di bawah langit kota New York...

Ini kisah tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan...

Tentang impian yang bertahan di antara keraguan...

Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.

Awalnya Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis yang itu—malaikat kegelapannya yang sudah membuatnya cacat. Kemudian Mia Clark tertawa dan Alex bertanya-tanya bagaimana ia dulu bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapannya.

Awalnya mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga. Kemudian Alex Hirano tersenyum dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.

*****

Akhirnya, kesampaian juga baca novel best-seller yang satu ini. Karena terbitnya udah dari kapan tahun, aku yakin banyak dari kalian yang sudah tahu jalan ceritanya. Jadi, di resensi kali ini, aku tidak akan menuliskan rangkuman ceritanya ya :)

Berkali-kali aku bilang aku nggak suka novel yang sad-ending, soalnya aku tipe yang susah move on setiap kali selesai baca novel, apalagi novel yang ceritanya emang keren. But this one… this one is so d*mn beautiful. Makanya aku nekat aja nerusin novel ini meski tau resikonya. Mau gimana lagi? Alex Hirano bikin aku klepek-klepek, Mia Clark bikin aku jatuh sayang. Dan selama baca novel ini, mau nggak mau aku jadi terus ngebayangin muka kiyutnya Herjunot Ali yang meranin Alex Hirano di versi layar lebarnya. Haha…



[caption id="attachment_198" align="alignnone" width="673"]090256100_1439372275-sby_1 Duh, Bang Junooot >_<[/caption]
Anyway, aku jadi ngerti kenapa novel-novel Ilana Tan selalu jadi best-seller. Sunshine Becomes You, meskipun mellow dan agak-agak klise, ceritanya indah. Jalinan kisahnya mengalir dengan cantik dan natural. Dan aku paling suka dengan hubungan Alex dan Mia yang berkembang secara alami. No fancy words, no exaggerated romantic scenes ala-ala drama Korea. Namun demikian, aku tetap ikutan berdebar-debar saat Alex dengan santainya bilang kalau dia mau menikah dengan Mia.



"Kurasa satu-satunya hal yang bisa membuatku memanggilmu nama depanmu adalah kalau kau menikah denganku."

Kali ini Mia merasa jantungnya melonjak dan ia menatap Alex dengan mata melebar kaget.

Alex balas menatapnya sambil tersenyum lebar. "Kalau itu terjadi, berarti kau menjadi Mia Hirano. Dan saat itu aku tidak mungkin memanggilmu dengan nama belakang, bukan?"

Mia tidak berkata apa-apa. Ia tidak sadar dirinya menahan napas. Ia hanya tahu jantungnya mendadak berdebar begitu cepat dan keras sampai ia takut akan mendapat serangan lagi.


Terus, di novel ini juga nyaris nggak ada pernyataan ‘aku cinta padamu’, ‘I love you’, ‘saranghae’, ‘wo ai ni’ de el el de es be ge yang biasanya selalu menghiasi novel-novel roman. Namun, ketiadaan ungkapan cinta tersebut justru menjadikan keseluruhan cerita Alex dan Mia ini semakin indah. Di sini Ilana Tan membuktikan bahwa cinta tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata manis dan sendu mendayu-dayu. Justru, cinta yang diungkapkan melalui sikap dan perbuatan itu lebih bermakna dan mengena di hati. Walaupun kalau disuruh milih sih, aku tetap aja mau suamiku nyatain cinta lewat kata-kata :D

Untuk plotnya sendiri memang lambat khas novel-novel roman dan cenderung membosankan. Kamu nggak bakalan deh nemu adegan ciat, ciat dalam novel ini. Ya jelas donk ah, emangnya novel silat pakek ciat, ciat segala. Bagi yang bukan penggemar cerita roman, mungkin novel ini bakalan bikin kamu ketiduran saking bosannya, tapi buat penggemar cerita cinta, novel ini akan membuatmu mendesah penuh khayal, membayangkan ada sosok cool seperti Herjunot Ali, eh, Alex Hirano yang jatuh cinta padamu. Setidaknya, itu yang terjadi padaku.



“Aku tidak bisa menunjukkan kelemahan seperti itu di hadapannya. Dia membutuhkan seseorang yang bisa mendukungnya, seseorang yang bisa membantunya ketika dibutuhkan, yang bisa diandalkannya, seseorang yang bisa meyakinkannya bahwa segalanya akan baik-baik saja. Jadi kuputuskan aku harus menjadi orang seperti itu.” Alex menoleh ke arah Ray dan tersenyum samar.

Sejenak Ray tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa terpana dalam diam ketika menyadari perasaan Alex. “Kau… sangat mencintainya, bukan?”

Alex mengerjap. Matanya yang muram terlihat berkaca-kaca ketika menggumamkan dua patah kata dari dasar jiwanya dengan lirih. “Sepenuh hati.”





Nggggg… bentar ya, aku mau meleleh dulu. Nggak ku-ku sama jawaban Alex yang ooohhh… :3

Nabilah-JKT48-dan-Herjunot-Ali-dalam-film-Sunshine-Becomes-You

Overall, buku ini memang recommended buat pecinta novel roman, walaupun pilihanku tetap pada novel-novel dengan happy-ending siiih. Dan meskipun di bagian akhirnya bikin termehek-mehek, buku ini cukup menghibur kok. Bisa lah dijadikan teman untuk menghabiskan waktu santai di akhir pekan.


My rate: ♥♥♥♥ (4 of 5)


Until my next post,

Gita


*Pictures credit to Google Images.

[Resensi] Sunshine Becomes You - Ilana Tan

10 September 2016

13232499

Sinopsis

"Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku."

Ini adalah salah satu kisah yang terjadi di bawah langit kota New York...

Ini kisah tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan...

Tentang impian yang bertahan di antara keraguan...

Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.

Awalnya Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis yang itu—malaikat kegelapannya yang sudah membuatnya cacat. Kemudian Mia Clark tertawa dan Alex bertanya-tanya bagaimana ia dulu bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapannya.

Awalnya mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga. Kemudian Alex Hirano tersenyum dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.

*****

Akhirnya, kesampaian juga baca novel best-seller yang satu ini. Karena terbitnya udah dari kapan tahun, aku yakin banyak dari kalian yang sudah tahu jalan ceritanya. Jadi, di resensi kali ini, aku tidak akan menuliskan rangkuman ceritanya ya :)

Berkali-kali aku bilang aku nggak suka novel yang sad-ending, soalnya aku tipe yang susah move on setiap kali selesai baca novel, apalagi novel yang ceritanya emang keren. But this one… this one is so d*mn beautiful. Makanya aku nekat aja nerusin novel ini meski tau resikonya. Mau gimana lagi? Alex Hirano bikin aku klepek-klepek, Mia Clark bikin aku jatuh sayang. Dan selama baca novel ini, mau nggak mau aku jadi terus ngebayangin muka kiyutnya Herjunot Ali yang meranin Alex Hirano di versi layar lebarnya. Haha…



[caption id="attachment_198" align="alignnone" width="673"]090256100_1439372275-sby_1 Duh, Bang Junooot >_<[/caption]
Anyway, aku jadi ngerti kenapa novel-novel Ilana Tan selalu jadi best-seller. Sunshine Becomes You, meskipun mellow dan agak-agak klise, ceritanya indah. Jalinan kisahnya mengalir dengan cantik dan natural. Dan aku paling suka dengan hubungan Alex dan Mia yang berkembang secara alami. No fancy words, no exaggerated romantic scenes ala-ala drama Korea. Namun demikian, aku tetap ikutan berdebar-debar saat Alex dengan santainya bilang kalau dia mau menikah dengan Mia.



"Kurasa satu-satunya hal yang bisa membuatku memanggilmu nama depanmu adalah kalau kau menikah denganku."

Kali ini Mia merasa jantungnya melonjak dan ia menatap Alex dengan mata melebar kaget.

Alex balas menatapnya sambil tersenyum lebar. "Kalau itu terjadi, berarti kau menjadi Mia Hirano. Dan saat itu aku tidak mungkin memanggilmu dengan nama belakang, bukan?"

Mia tidak berkata apa-apa. Ia tidak sadar dirinya menahan napas. Ia hanya tahu jantungnya mendadak berdebar begitu cepat dan keras sampai ia takut akan mendapat serangan lagi.


Terus, di novel ini juga nyaris nggak ada pernyataan ‘aku cinta padamu’, ‘I love you’, ‘saranghae’, ‘wo ai ni’ de el el de es be ge yang biasanya selalu menghiasi novel-novel roman. Namun, ketiadaan ungkapan cinta tersebut justru menjadikan keseluruhan cerita Alex dan Mia ini semakin indah. Di sini Ilana Tan membuktikan bahwa cinta tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata manis dan sendu mendayu-dayu. Justru, cinta yang diungkapkan melalui sikap dan perbuatan itu lebih bermakna dan mengena di hati. Walaupun kalau disuruh milih sih, aku tetap aja mau suamiku nyatain cinta lewat kata-kata :D

Untuk plotnya sendiri memang lambat khas novel-novel roman dan cenderung membosankan. Kamu nggak bakalan deh nemu adegan ciat, ciat dalam novel ini. Ya jelas donk ah, emangnya novel silat pakek ciat, ciat segala. Bagi yang bukan penggemar cerita roman, mungkin novel ini bakalan bikin kamu ketiduran saking bosannya, tapi buat penggemar cerita cinta, novel ini akan membuatmu mendesah penuh khayal, membayangkan ada sosok cool seperti Herjunot Ali, eh, Alex Hirano yang jatuh cinta padamu. Setidaknya, itu yang terjadi padaku.



“Aku tidak bisa menunjukkan kelemahan seperti itu di hadapannya. Dia membutuhkan seseorang yang bisa mendukungnya, seseorang yang bisa membantunya ketika dibutuhkan, yang bisa diandalkannya, seseorang yang bisa meyakinkannya bahwa segalanya akan baik-baik saja. Jadi kuputuskan aku harus menjadi orang seperti itu.” Alex menoleh ke arah Ray dan tersenyum samar.

Sejenak Ray tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa terpana dalam diam ketika menyadari perasaan Alex. “Kau… sangat mencintainya, bukan?”

Alex mengerjap. Matanya yang muram terlihat berkaca-kaca ketika menggumamkan dua patah kata dari dasar jiwanya dengan lirih. “Sepenuh hati.”





Nggggg… bentar ya, aku mau meleleh dulu. Nggak ku-ku sama jawaban Alex yang ooohhh… :3

Nabilah-JKT48-dan-Herjunot-Ali-dalam-film-Sunshine-Becomes-You

Overall, buku ini memang recommended buat pecinta novel roman, walaupun pilihanku tetap pada novel-novel dengan happy-ending siiih. Dan meskipun di bagian akhirnya bikin termehek-mehek, buku ini cukup menghibur kok. Bisa lah dijadikan teman untuk menghabiskan waktu santai di akhir pekan.


My rate: ♥♥♥♥ (4 of 5)


Until my next post,

Gita


*Pictures credit to Google Images.

Seri: The Iron Fey #1
Genre: Young Adult
Penerjemah: Angelic Zaizai
Penerbit: Kubika
Halaman: 462
Harga: Rp. 42.000,-

Sinopsis

[caption id="" align="aligncenter" width="240"] Klik untuk memperbesar[/caption]
Kayaknya telat banget ya ngulas novel ini sekarang. Secara buku ini kan terbitnya udah tahun 2011 kemarin. Ya mau gimana lagi dong, namanya juga
kudetbaru nemu. Itu pun juga nggak sengaja >.<

Serial ini mengisahkan tentang seorang remaja yang baru berumur 16 tahun kurang 24 jam, Meghan Chase. Kalau dilihat sekilas, Meghan tipe anak normal dan biasa saja. Dia pergi ke sekolah, dibebani pekerjaan rumah dan tugas sekolah, dan naksir cowok pemain football paling keren di sekolah. Dia bukan cewek populer di sekolahnya, tapi dia lumayan cerdas dan cantik. Namun, dia punya masa lalu yang suram, karena saat usianya enam tahun, ayahnya menghilang di depan matanya. Walaupun sekarang dia sudah punya ayah baru dan seorang adik tiri laki-laki yang manis, tetap saja kejadian itu meninggalkan luka yang mendalam pada dirinya.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-16, serangkaian peristiwa aneh dialaminya. Mulai dari sahabat baiknya, Robbie Goodfell, yang bersikap aneh dan overprotektif padanya, seorang pemuda tampan yang mengamatinya dari jauh, dan adiknya, Ethan, yang menyerangnya, padahal biasanya anak itu sangat manis dan penurut. Setelah mendesak Robbie agar mengatakan yang sebenarnya, akhirnya Meghan mengetahui bahwa Ethan yang menyerangnya adalah seekor changeling, sedangkan Ethan yang sebenarnya diculik ke Faeryland, negeri para faery, bahwa para faery itu benar-benar ada dan nyata, dan bahwa sahabatnya yang sudah dia kenal nyaris seumur hidupnya ternyata seorang faery legendaris bernama Robin Goodfellow alias Puck. Meski masih merasa sulit untuk percaya, Meghan memutuskan untuk pergi ke Faeryland demi mencari adiknya. Dan petualangan yang akan mengubah hidup Meghan selamanya pun dimulai.

Di Faeryland, Meghan mengalami berbagai macam kejadian yang menegangkan. Mulai dari nyaris jadi kudapan kelpie, dikejar-kejar anjing pemburu beserta pemiliknya yang bisa menembakkan panah es, membuat kesepakatan dengan seekor kucing menyebalkan, ditangkap sekelompok goblin yang ingin memasaknya hidup-hidup, nyaris tenggelam, dan berhadapan dengan seorang ratu faery paling bitchy yang pernah ada yang ingin mengubahnya menjadi kubis. Tapi, dari itu semua, tak ada yang lebih mengejutkannya selain mengetahui fakta bahwa dia ternyata seorang putri raja. Dan bukan sembarang raja, melainkan Oberon sang raja peri Musim Panas yang termahsyur, bahkan di dunia mortal sekalipun. Yep, ternyata Meghan separuh manusia-separuh faery, alias berdarah campuran.

Karena kenyataan ini, hidup Meghan jadi susah dan serba salah. Rencana awalnya datang ke Faeryland kan sederhana aja, cuman buat nyelametin adiknya. Kalo sudah selesai, ya dia pulang lagi. Etapi, dia malah terjebak dalam perang yang nyaris meletus di antara Kerajaan Musim Panas dan Musim Dingin. Dia mendapati semua pihak menginginkan dirinya untuk dijadikan pion untuk melawan ayahnya, Raja Oberon. Dia juga masih belum tahu siapa yang telah menculik adiknya. Ditambah lagi, dia harus menghadapi kemarahan ibu tirinya, Ratu Titania, dan seorang pangeran berhati es tapi seksi dari kerajaan Musim Dingin yang ingin membunuhnya.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Meghan menyadari ada sesuatu yang tengah mengancam Nevernever serta kehidupan seluruh faery, dan hanya dirinyalah yang mampu menghadapi bahaya tersebut. Apa sebenarnya bahaya itu? Dan siapa yang menculik adik Meghan? Langsung baca novelnya aja yah ^^

*****

Ada penggemar Shakespeare di sini? Para penggemar sang maestro asal Inggris ini pasti tahu deh kalo beberapa tokoh peri dalam novel ini diambil dari A Midsummer Night Dream. Aku sendiri bukan penggemarnya, tapi aku tahu A Midsummer Night Dream ini dari salah satu komik favoritku sepanjang masa, Topeng Kaca yang seri Sejuta Pelangi karya komikus Jepang, Suzue Miuchi. What a coincidence, karena kedua pengarang yang namanya sama-sama Japanesse ini menggunakan karya ini dalam buku mereka.

Anyway, kalo menurutku, novel The Iron King ini nyaris perfect. Kelebihannya ada pada cliffhanger yang bikin pembaca ketar-ketir. No wonder, soalnya Julie Kagawa memang terkenal sebagai queen of cliffhanger. Do’i juga nggak takut loh “membunuh” major character yang punya banyak fans. Tapi, justru di situlah kelebihan Julie Kagawa. Cliffhanger-nya yang ngeri-ngeri sedap itu justru bikin aku ketagihan. Bwahahaha… #masokis :p

Dari segi cerita juga nggak mengecewakan. Fantasi, romance, petualangan, semua ada dan imbang. Dan yang paling penting tuh adalah konsistensi cerita. Maksudku, jalan ceritanya nggak melenceng ke hal-hal yang nggak perlu. Fokus aja gitu. Plotnya yang lumayan cepat dan ditambah dengan aksi pertarungan sengit yang dilakoni Puck dan Ash demi melindungi Meghan, bikin novel ini dijamin nggak ngebosenin. Dan satu lagi, novel ini nggak bisa ditebak jalan ceritanya. Beberapa kali aku nebak kalo jalan ceritanya bakalan seperti ini, ternyata seperti itu. Bahwa si Oberon itu anu, eh ternyata nggak. Pokoknya, berkali-kali deh aku kecele sama novel ini :v


Untuk tokoh-tokohnya, harus kukatakan bahwa mereka semua perfect. Bukaaan, bukan sempurna yang flawless gitu yah. Maksud perfect di sini adalah semua tokoh membuatku merasakan perasaan yang tepat. Contohnya, Titania bikin aku sebel banget dengan ke-bitchy-annya, Mab bikin aku merinding dengan aura kegelapannya, Oberon bikin aku segan dengan kewibawaannya, dan sebagainya.

Para tokoh utamanya pun memiliki karakter yang bagus. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Meghan adalah tokoh paling lemah di buku ini karena dia nggak punya kekuatan faery maupun kemampuan bertarung. Bahkan, dia gadis yang cenderung ceroboh dan penakut. Tapi, di sepanjang buku ini—dan serial ini secara keseluruhan—dia menunjukkan perkembangan karakter yang bagus yang ditandai dengan kekuatan faery-nya yang sedikit demi sedikit bertambah. Dia juga lumayan cerdas dan mampu membuat keputusan sendiri. Dan dia bisa jadi sangat galak kalau sedang terdesak, which is fun to watch πŸ˜€

Ash, sang Pangeran Musim Dingin, putra bungsu Ratu Mab. This guy is sooo HOT! And cool. And sweet. And tormented. Seriously! Ini jenis cowok yang bikin cewek mana pun susah move on. Siapa pun yang pernah baca serial ini pasti klepek-klepek sama pangeran es ini. Kuat, tangguh, keren, dan setia. Oh, my! If I could have him, I wouldn’t ask for more #sigh #tendangpapanyaaryakelaut :v :v :v Ash ini walaupun keliatannya nafsu banget pengin ngebunuh Meghan, tapi dia rela jadi tameng Meghan setiap kali ada yang menyerang. Pokoknya sweet banget deh.

Puck adalah bawahan favorit Raja Oberon dan BFF-nya Meghan. Dia ini memang tipe cowok yang oke banget dijadiin sohib. Supel, ceria, usil dan mulut comelnya itu emang selalu bikin tertawa. Tapi, meskipun tingkahnya cuek dan konyol, dia ini ternyata petarung yang sangat tangguh loh. Dan dia nggak kalah setia dari Ash, serta rela banget berkorban demi Meghan. Definitely a lovable character deh pokoknya. Makanya, nggak heran kalo fans-nya bejubel.

The last but not least, is Grimalkin. Si kucing sinis nan cerdas ini adalah karakter favoritku dalam serial ini. Kata-katanya yang cenderung nyelekit itu refreshing banget dan bikin ngakak (okay, now I’m officially a masochist :v). Tapi, walaupun dia jengkelin banget, si kucing misterius ini selalu muncul di waktu yang tepat untuk memberikan pertolongan pada Meghan, Ash, dan Puck, meskipun tetep ya dengan gaya bosan dan angkuhnya yang gemesin banget itu. Oya, kalau ada yang bertanya-tanya Grim ini kucing yang kayak apa, inget Chesire Cat, tokoh kucing di Alice in Wonderland? Nah, Grim tuh kurang-lebih kayak gitu. Cuman sifat mereka jauuuuuh berbeda. Kalo Chesire Cat kan hobinya nyengir lebar, tapi kalo Grim sukanya menghela napas :v :v :v

As much as I love this book, tetap ya, tiada gading yang tak retak. Tentu saja, buku ini juga punya sisi yang, um… kurang. Yah, setidaknya kurang buatku. Aku ngerasa kurang greget aja pas pertarungan di bagian akhir buku ini. Sejujurnya aku mengharapkan scene yang lebih chaos, berdarah-darah kalo perlu. Tapi kalo begitu bukan young adult kali yah namanya, tapi horor. Wkwkwk… But, it’s not a big deal, really. Most readers won’t complain about it, I’m sure.

Sayangnya, untuk versi bahasa Indonesia, kayaknya stuck di buku pertama ini. Padahal di Amrik sana sudah sampai buku enam, plus enam novella. Yang buku pertama ini pun susah banget didapetnya. Aku sampe harus ngubek-ubek Tokopedia dan googling sampe mata jereng baru deh dapat yang jual. So, kalo kalian mau baca lanjutannya, kayaknya harus beli versi e-book-nya deh. Di Google Play Store ada kok. Oooh… how I love technology these days πŸ˜€

Fiuh… panjang ya, cyiiin. Ya udah deh, segitu ajah ulasannya. Kapan-kapan aku review juga lanjutannya. But, for now, aku mau lanjut ngubek-ubek Goodreads lagi. Sapa tau nemu young adult fantasy yang highly recommended lagi ^^

My rate: ♥♥♥♥½ (4.5 of 5)

Readers, have you read the book? What do you think about it? Do you have a recommendation for me to read? Kindly share your thoughts below ^^

The Series:

The Iron Fey

  1. The Iron King

  2. The Iron Daughter

  3. The Iron Queen

  4. The Iron Knight

The Iron Fey: Call of the Forgotten

  1. The Lost Prince

  2. The Iron Traitor

  3. The Iron Warrior

Novella

  1. The First Kiss (The Iron Fey #1.25)

  2. Winter’s Passing (The Iron Fey #1.5)

  3. Summer’s Crossing (The Iron Fey #3.5)

  4. Ash’s Letter to Meghan (The Iron Fey #3.6)

  5. An Iron Fey Valentine (The Iron Fey #4.4)

  6. Iron’s Prophecy (The Iron Fey #4.5)

[Resensi] The Iron King - Julie Kagawa

01 September 2016


Seri: The Iron Fey #1
Genre: Young Adult
Penerjemah: Angelic Zaizai
Penerbit: Kubika
Halaman: 462
Harga: Rp. 42.000,-

Sinopsis

[caption id="" align="aligncenter" width="240"] Klik untuk memperbesar[/caption]
Kayaknya telat banget ya ngulas novel ini sekarang. Secara buku ini kan terbitnya udah tahun 2011 kemarin. Ya mau gimana lagi dong, namanya juga
kudetbaru nemu. Itu pun juga nggak sengaja >.<

Serial ini mengisahkan tentang seorang remaja yang baru berumur 16 tahun kurang 24 jam, Meghan Chase. Kalau dilihat sekilas, Meghan tipe anak normal dan biasa saja. Dia pergi ke sekolah, dibebani pekerjaan rumah dan tugas sekolah, dan naksir cowok pemain football paling keren di sekolah. Dia bukan cewek populer di sekolahnya, tapi dia lumayan cerdas dan cantik. Namun, dia punya masa lalu yang suram, karena saat usianya enam tahun, ayahnya menghilang di depan matanya. Walaupun sekarang dia sudah punya ayah baru dan seorang adik tiri laki-laki yang manis, tetap saja kejadian itu meninggalkan luka yang mendalam pada dirinya.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-16, serangkaian peristiwa aneh dialaminya. Mulai dari sahabat baiknya, Robbie Goodfell, yang bersikap aneh dan overprotektif padanya, seorang pemuda tampan yang mengamatinya dari jauh, dan adiknya, Ethan, yang menyerangnya, padahal biasanya anak itu sangat manis dan penurut. Setelah mendesak Robbie agar mengatakan yang sebenarnya, akhirnya Meghan mengetahui bahwa Ethan yang menyerangnya adalah seekor changeling, sedangkan Ethan yang sebenarnya diculik ke Faeryland, negeri para faery, bahwa para faery itu benar-benar ada dan nyata, dan bahwa sahabatnya yang sudah dia kenal nyaris seumur hidupnya ternyata seorang faery legendaris bernama Robin Goodfellow alias Puck. Meski masih merasa sulit untuk percaya, Meghan memutuskan untuk pergi ke Faeryland demi mencari adiknya. Dan petualangan yang akan mengubah hidup Meghan selamanya pun dimulai.

Di Faeryland, Meghan mengalami berbagai macam kejadian yang menegangkan. Mulai dari nyaris jadi kudapan kelpie, dikejar-kejar anjing pemburu beserta pemiliknya yang bisa menembakkan panah es, membuat kesepakatan dengan seekor kucing menyebalkan, ditangkap sekelompok goblin yang ingin memasaknya hidup-hidup, nyaris tenggelam, dan berhadapan dengan seorang ratu faery paling bitchy yang pernah ada yang ingin mengubahnya menjadi kubis. Tapi, dari itu semua, tak ada yang lebih mengejutkannya selain mengetahui fakta bahwa dia ternyata seorang putri raja. Dan bukan sembarang raja, melainkan Oberon sang raja peri Musim Panas yang termahsyur, bahkan di dunia mortal sekalipun. Yep, ternyata Meghan separuh manusia-separuh faery, alias berdarah campuran.

Karena kenyataan ini, hidup Meghan jadi susah dan serba salah. Rencana awalnya datang ke Faeryland kan sederhana aja, cuman buat nyelametin adiknya. Kalo sudah selesai, ya dia pulang lagi. Etapi, dia malah terjebak dalam perang yang nyaris meletus di antara Kerajaan Musim Panas dan Musim Dingin. Dia mendapati semua pihak menginginkan dirinya untuk dijadikan pion untuk melawan ayahnya, Raja Oberon. Dia juga masih belum tahu siapa yang telah menculik adiknya. Ditambah lagi, dia harus menghadapi kemarahan ibu tirinya, Ratu Titania, dan seorang pangeran berhati es tapi seksi dari kerajaan Musim Dingin yang ingin membunuhnya.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Meghan menyadari ada sesuatu yang tengah mengancam Nevernever serta kehidupan seluruh faery, dan hanya dirinyalah yang mampu menghadapi bahaya tersebut. Apa sebenarnya bahaya itu? Dan siapa yang menculik adik Meghan? Langsung baca novelnya aja yah ^^

*****

Ada penggemar Shakespeare di sini? Para penggemar sang maestro asal Inggris ini pasti tahu deh kalo beberapa tokoh peri dalam novel ini diambil dari A Midsummer Night Dream. Aku sendiri bukan penggemarnya, tapi aku tahu A Midsummer Night Dream ini dari salah satu komik favoritku sepanjang masa, Topeng Kaca yang seri Sejuta Pelangi karya komikus Jepang, Suzue Miuchi. What a coincidence, karena kedua pengarang yang namanya sama-sama Japanesse ini menggunakan karya ini dalam buku mereka.

Anyway, kalo menurutku, novel The Iron King ini nyaris perfect. Kelebihannya ada pada cliffhanger yang bikin pembaca ketar-ketir. No wonder, soalnya Julie Kagawa memang terkenal sebagai queen of cliffhanger. Do’i juga nggak takut loh “membunuh” major character yang punya banyak fans. Tapi, justru di situlah kelebihan Julie Kagawa. Cliffhanger-nya yang ngeri-ngeri sedap itu justru bikin aku ketagihan. Bwahahaha… #masokis :p

Dari segi cerita juga nggak mengecewakan. Fantasi, romance, petualangan, semua ada dan imbang. Dan yang paling penting tuh adalah konsistensi cerita. Maksudku, jalan ceritanya nggak melenceng ke hal-hal yang nggak perlu. Fokus aja gitu. Plotnya yang lumayan cepat dan ditambah dengan aksi pertarungan sengit yang dilakoni Puck dan Ash demi melindungi Meghan, bikin novel ini dijamin nggak ngebosenin. Dan satu lagi, novel ini nggak bisa ditebak jalan ceritanya. Beberapa kali aku nebak kalo jalan ceritanya bakalan seperti ini, ternyata seperti itu. Bahwa si Oberon itu anu, eh ternyata nggak. Pokoknya, berkali-kali deh aku kecele sama novel ini :v


Untuk tokoh-tokohnya, harus kukatakan bahwa mereka semua perfect. Bukaaan, bukan sempurna yang flawless gitu yah. Maksud perfect di sini adalah semua tokoh membuatku merasakan perasaan yang tepat. Contohnya, Titania bikin aku sebel banget dengan ke-bitchy-annya, Mab bikin aku merinding dengan aura kegelapannya, Oberon bikin aku segan dengan kewibawaannya, dan sebagainya.

Para tokoh utamanya pun memiliki karakter yang bagus. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Meghan adalah tokoh paling lemah di buku ini karena dia nggak punya kekuatan faery maupun kemampuan bertarung. Bahkan, dia gadis yang cenderung ceroboh dan penakut. Tapi, di sepanjang buku ini—dan serial ini secara keseluruhan—dia menunjukkan perkembangan karakter yang bagus yang ditandai dengan kekuatan faery-nya yang sedikit demi sedikit bertambah. Dia juga lumayan cerdas dan mampu membuat keputusan sendiri. Dan dia bisa jadi sangat galak kalau sedang terdesak, which is fun to watch πŸ˜€

Ash, sang Pangeran Musim Dingin, putra bungsu Ratu Mab. This guy is sooo HOT! And cool. And sweet. And tormented. Seriously! Ini jenis cowok yang bikin cewek mana pun susah move on. Siapa pun yang pernah baca serial ini pasti klepek-klepek sama pangeran es ini. Kuat, tangguh, keren, dan setia. Oh, my! If I could have him, I wouldn’t ask for more #sigh #tendangpapanyaaryakelaut :v :v :v Ash ini walaupun keliatannya nafsu banget pengin ngebunuh Meghan, tapi dia rela jadi tameng Meghan setiap kali ada yang menyerang. Pokoknya sweet banget deh.

Puck adalah bawahan favorit Raja Oberon dan BFF-nya Meghan. Dia ini memang tipe cowok yang oke banget dijadiin sohib. Supel, ceria, usil dan mulut comelnya itu emang selalu bikin tertawa. Tapi, meskipun tingkahnya cuek dan konyol, dia ini ternyata petarung yang sangat tangguh loh. Dan dia nggak kalah setia dari Ash, serta rela banget berkorban demi Meghan. Definitely a lovable character deh pokoknya. Makanya, nggak heran kalo fans-nya bejubel.

The last but not least, is Grimalkin. Si kucing sinis nan cerdas ini adalah karakter favoritku dalam serial ini. Kata-katanya yang cenderung nyelekit itu refreshing banget dan bikin ngakak (okay, now I’m officially a masochist :v). Tapi, walaupun dia jengkelin banget, si kucing misterius ini selalu muncul di waktu yang tepat untuk memberikan pertolongan pada Meghan, Ash, dan Puck, meskipun tetep ya dengan gaya bosan dan angkuhnya yang gemesin banget itu. Oya, kalau ada yang bertanya-tanya Grim ini kucing yang kayak apa, inget Chesire Cat, tokoh kucing di Alice in Wonderland? Nah, Grim tuh kurang-lebih kayak gitu. Cuman sifat mereka jauuuuuh berbeda. Kalo Chesire Cat kan hobinya nyengir lebar, tapi kalo Grim sukanya menghela napas :v :v :v

As much as I love this book, tetap ya, tiada gading yang tak retak. Tentu saja, buku ini juga punya sisi yang, um… kurang. Yah, setidaknya kurang buatku. Aku ngerasa kurang greget aja pas pertarungan di bagian akhir buku ini. Sejujurnya aku mengharapkan scene yang lebih chaos, berdarah-darah kalo perlu. Tapi kalo begitu bukan young adult kali yah namanya, tapi horor. Wkwkwk… But, it’s not a big deal, really. Most readers won’t complain about it, I’m sure.

Sayangnya, untuk versi bahasa Indonesia, kayaknya stuck di buku pertama ini. Padahal di Amrik sana sudah sampai buku enam, plus enam novella. Yang buku pertama ini pun susah banget didapetnya. Aku sampe harus ngubek-ubek Tokopedia dan googling sampe mata jereng baru deh dapat yang jual. So, kalo kalian mau baca lanjutannya, kayaknya harus beli versi e-book-nya deh. Di Google Play Store ada kok. Oooh… how I love technology these days πŸ˜€

Fiuh… panjang ya, cyiiin. Ya udah deh, segitu ajah ulasannya. Kapan-kapan aku review juga lanjutannya. But, for now, aku mau lanjut ngubek-ubek Goodreads lagi. Sapa tau nemu young adult fantasy yang highly recommended lagi ^^

My rate: ♥♥♥♥½ (4.5 of 5)

Readers, have you read the book? What do you think about it? Do you have a recommendation for me to read? Kindly share your thoughts below ^^

The Series:

The Iron Fey

  1. The Iron King

  2. The Iron Daughter

  3. The Iron Queen

  4. The Iron Knight

The Iron Fey: Call of the Forgotten

  1. The Lost Prince

  2. The Iron Traitor

  3. The Iron Warrior

Novella

  1. The First Kiss (The Iron Fey #1.25)

  2. Winter’s Passing (The Iron Fey #1.5)

  3. Summer’s Crossing (The Iron Fey #3.5)

  4. Ash’s Letter to Meghan (The Iron Fey #3.6)

  5. An Iron Fey Valentine (The Iron Fey #4.4)

  6. Iron’s Prophecy (The Iron Fey #4.5)

Judul: Zero Class #3: Legacy

Pengarang: Pricillia A.W.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 296

Harga: Rp. 66.500,-

Hai, hai! Ini resensi pertamaku loh. Akhirnya, bisa juga aku pos-in di sini. Horeeeee… *tebarconfetti *maapkeunkelebayanku πŸ˜„

Oke, buku yang bakal aku ulas di pos pertama ini adalah novel teenlit karya pengarang muda Indonesia, Pricillia A.W.Zero Class #3: LegacyIni adalah buku terakhir dalam trilogi Zero Class. Aku pertama kali baca serial ini kalau nggak salah tahun 2013 deh. Dan sejak baca buku yang pertama itu, aku jatuh cinta sama tokoh Gita yang penuh semangat dan Radit yang oh-so-sweet banget. Makanya, aku bela-belain deh beli buku ketiga ini. Sayangnya, harus kukatakan, aku agak kecewa. Apa pasal? Aku ceritain di bawah ya. So, keep reading, guys!

Sinopsis

IMG20150830100030

Buat yang belum pernah baca serial Zero Classsinopsis buku 1 dan 2-nya silakan di-google sendiri yaaa. Dan buat kamu-kamu yang nggak suka dikasih tau akhir cerita sebuah novel tanpa membacanya terlebih dahulu, disarankan untuk tidak membaca ulasan ini dulu. Soalnya, di buku ketiga ini sebagian besar misteri sudah terpecahkan sih. Etapi, kalo kamu tetep mau baca juga nggak papa sih. Aku nggak ngelarang kok πŸ˜€


Oke, balik lagi ke review. Jadi, di buku ini si Arfa mulai melancarkan aksinya. Rencana-rencana liciknya mulai dijalankan untuk membalas dendam kepada Radit. Dia terutama menggunakan taktik psikologis, yaitu mengadu domba anak-anak kelas 11 IPS 4, agar mereka terpecah-belah dan saling mencurigai. Targetnya hanya satu, yaitu menghancurkan Radit. Dia bahkan tak segan-segan menyakiti mereka yang menghalanginya, termasuk Gita, walaupun Arfa sudah dilarang oleh Andro.

Di sini juga diungkapkan mengapa Arfa sangat dendam pada Radit. Rupanya, dia menyalahkan Radit atas hancurnya keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Karena dendam kesumatnya itu, dia akhirnya membentuk Zero Class untuk menyudutkan Radit. Etapi, kok bisa sih dia bikin kelas “buangan” itu? Kan, dia cuman murid SMA. Ya, bisa, dong, karena dia punya orang dalam yang bantuin dia. Siapa? Ya kamu baca sendiri aja di bukunya yah. Ntar kamu jadi nggak penasaran lagi :p

Seperti yang aku bilang di awal tadi, aku agak kecewa sama novel ini. Ada beberapa poin yang bikin aku nelangsa saat baca buku ini. Aku tulisin poin per poin biar lebih gampang jelasinnya.



  1. Terlalu banyak karakter yang dibahas, sehingga fokus jadi bergeser jauh dari tokoh utamanya, Gita dan Radit. Akibatnya, karakter Gita yang di buku pertama begitu kuat jadi melempem, dan karakter Radit jadi nggak berkembang sama sekali.


  1. Agak bertele-tele dalam menggambarkan serangkaian kasus yang menimpa anak kelas 11 IPS 4, sehingga bikin aku lumayan bosan bacanya.


  1. Konflik adu dombanya menggantung dan kurang greget. Sebenarnya taktik adu domba yang dipakai Arfa ini bagus. Dia sengaja mengembuskan kecurigaan terhadap Gita kepada Letta dan Raga. Sayangnya, Letta dan Raga nggak mengonfrontasi Gita, padahal mereka sangat yakin kalau Gita itu pengkhianat. Apalagi jika mengingat sifat temperamen Raga, rasanya wajar kalau cowok itu sampai melabrak Gita walaupun sudah dilarang Radit. Sayangnya, masalah adu domba ini nggak dikembangkan lagi.


  1. Kemunculan karakter Andro menurutku nggak penting banget buat kesuluruhan cerita. Mungkin pengarangnya bermaksud memberi Radit saingan cinta, tapi menurutku jadinya malah antiklimaks. Hubungan Andro dan Gita, dari saat jadian sampai akhirnya putus, terkesan dipaksakan dan klise. Kalo memang ini dimaksudkan sebagai cinta segitiga, konfliknya nggak terasa sama sekali. Tapi, kalo nggak, harusnya si Andro nggak usah dimunculin aja sekalian. Terus, gara-gara dia, momen-momen manis antara Gita dan Radit jadi menurun drastis yang malah bikin keseluruhan cerita jadi hambar. Padahal setelah buku pertama aku sangat mengharapkan ada gebrakan dahsyat dari Radit buat ngedapetin Gita. Apalagi di buku kedua Radit makin memperlihatkan perhatiannya ke Gita. Iya, Radit emang nembak Gita, tapi setelah itu jadi adem-ayem lagi, monoton lagi. Sayang sekali, karena chemistry Gita dan Radit di dua buku terdahulu sudah bagus banget, tapi jadi wasted di buku terakhir ini. Duh!

[caption id="" align="aligncenter" width="240"] Curhatannya Andro[/caption]

  1. Daripada cerita tentang jadiannya Gita-Andro, aku sebenernya berharap ada elaborasi lebih jauh lagi mengenai janji Gita ke Letta untuk nggak bakalan pernah nerima perasaan Radit. Sedikit pertentangan batin yang menguras tenaga, mungkin? Sedikit gontok-gontokkan antara Gita dan Letta gara-gara rebutan Radit juga boleh deh. Nggak sampe yang cakar-cakaran ato jambak-jambakkan juga sih. Tapi sedikit konfrontasi terbukalah mengenai perasaan masing-masing. Dan sedikit konfrontasi Radit ke Letta juga karena sudah bikin Gita janji kayak gitu (misal: “Emang elo sapa, Let? Emak gue?” gitu…) Daripada adem-ayem gitu, terus, BAM! Gita jadian sama Radit. Dan Letta pasrah aja nerima padahal sudah bela-belain menjauhkan Radit dari Gita. Kurang greget aja sih menurutku.Gara-gara kehadiran Andro juga, plot cerita malah jadi bergeser, nggak fokus ke acara balas dendam Arfa dan perkembangan hubungan Gita-Radit lagi. Malahan, aku ngerasa jadi baca dua cerita dalam satu novel selain tentang Zero Class, yaitu tentang masa lalu kelam Andro dan pergolakan batinnya setelah sang ibu meninggal. Ini malah bikin karakter Andro jadi lebih kuat dari Radit. Yang selalu melindungi Gita malah jadi si Andro. Padahal yang tokoh utama kan Radit. Seharusnya dia yang selalu melindungi Gita. Bahkan, Nathan saja menunjukkan perkembangan karakter. Jadi, menurutku, tokoh utama di buku ketiga ini malah si Andro. Which is mengecewakan buatku karena Andro bagaikan perusak suasana -_- Beda cerita ya kalo novel ini memang berkisah tentang Andro dan bukannya Radit, maka menurutku karakter Andro bakalan jadi keren banget deh.

Weleh, banyak amat ya yang bikin kecewa. But, please don’t get me wrong. Aku suka sama serial ini, tapi buku ketiga ini memang bukan favoritku. Aku suka sama buku kedua karena di situ misterinya sedikit demi sedikit mulai terungkap. Apalagi Radit mulai terang-terangan nunjukkin perhatian ke Gita. Tapi, aku kepincut habis-habisan sama buku pertama, soalnya Gita dan Radit bener-bener manis di situ. Meski demikian, karena ini trilogi, jadi buku ketiga harus dibaca juga dong. Masak nggak sih, kan nggantung jadinya. Pokoknya, asalkan happy ending, aku nggak keberatan ngerasa galau-galau dikit πŸ˜€

Oya, tentang diskriminasi di sekolah, aku sungguh berharap hanya terjadi di novel-novel saja. Nggak kebayang rasanya andaikata ini terjadi di dunia nyata. Apalagi para guru juga turut serta dalam tindakan tidak terpuji ini. Semoga nggak ada guru di Indonesia yang diskriminatif, menghakimi dengan cerita yang nggak berimbang, nggak adil, dan memusuhi para murid. Semoga guru yang seperti itu hanya ada di novel saja.

My rate: ♥♥

Will I recommend it? Kalo kamu sudah baca buku satu dan duanya, buku ketiga memang wajib dibaca sebagai penutupnya. Kalo belum baca sama sekali, ya baca aja. Lumayan menghibur, kok. Apalagi kalo kamu suka sama cerita-cerita cinta di sekolah. Tapi, buat adik-adik manis, acara balas dendam dan segala bentuk kekerasan di novel ini jangan ditiru yaaa. Kalo bahasa Banjarnya, don’t try this at home :p

Okeh, segitu dulu review-an sok tau dariku. Sampai jumpa di-review berikutnya ya.

Ciao ^_~

[Resensi] Zero Class #3: Legacy - Pricillia A.W.

31 August 2016


Judul: Zero Class #3: Legacy

Pengarang: Pricillia A.W.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 296

Harga: Rp. 66.500,-

Hai, hai! Ini resensi pertamaku loh. Akhirnya, bisa juga aku pos-in di sini. Horeeeee… *tebarconfetti *maapkeunkelebayanku πŸ˜„

Oke, buku yang bakal aku ulas di pos pertama ini adalah novel teenlit karya pengarang muda Indonesia, Pricillia A.W.Zero Class #3: LegacyIni adalah buku terakhir dalam trilogi Zero Class. Aku pertama kali baca serial ini kalau nggak salah tahun 2013 deh. Dan sejak baca buku yang pertama itu, aku jatuh cinta sama tokoh Gita yang penuh semangat dan Radit yang oh-so-sweet banget. Makanya, aku bela-belain deh beli buku ketiga ini. Sayangnya, harus kukatakan, aku agak kecewa. Apa pasal? Aku ceritain di bawah ya. So, keep reading, guys!

Sinopsis

IMG20150830100030

Buat yang belum pernah baca serial Zero Classsinopsis buku 1 dan 2-nya silakan di-google sendiri yaaa. Dan buat kamu-kamu yang nggak suka dikasih tau akhir cerita sebuah novel tanpa membacanya terlebih dahulu, disarankan untuk tidak membaca ulasan ini dulu. Soalnya, di buku ketiga ini sebagian besar misteri sudah terpecahkan sih. Etapi, kalo kamu tetep mau baca juga nggak papa sih. Aku nggak ngelarang kok πŸ˜€


Oke, balik lagi ke review. Jadi, di buku ini si Arfa mulai melancarkan aksinya. Rencana-rencana liciknya mulai dijalankan untuk membalas dendam kepada Radit. Dia terutama menggunakan taktik psikologis, yaitu mengadu domba anak-anak kelas 11 IPS 4, agar mereka terpecah-belah dan saling mencurigai. Targetnya hanya satu, yaitu menghancurkan Radit. Dia bahkan tak segan-segan menyakiti mereka yang menghalanginya, termasuk Gita, walaupun Arfa sudah dilarang oleh Andro.

Di sini juga diungkapkan mengapa Arfa sangat dendam pada Radit. Rupanya, dia menyalahkan Radit atas hancurnya keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Karena dendam kesumatnya itu, dia akhirnya membentuk Zero Class untuk menyudutkan Radit. Etapi, kok bisa sih dia bikin kelas “buangan” itu? Kan, dia cuman murid SMA. Ya, bisa, dong, karena dia punya orang dalam yang bantuin dia. Siapa? Ya kamu baca sendiri aja di bukunya yah. Ntar kamu jadi nggak penasaran lagi :p

Seperti yang aku bilang di awal tadi, aku agak kecewa sama novel ini. Ada beberapa poin yang bikin aku nelangsa saat baca buku ini. Aku tulisin poin per poin biar lebih gampang jelasinnya.



  1. Terlalu banyak karakter yang dibahas, sehingga fokus jadi bergeser jauh dari tokoh utamanya, Gita dan Radit. Akibatnya, karakter Gita yang di buku pertama begitu kuat jadi melempem, dan karakter Radit jadi nggak berkembang sama sekali.


  1. Agak bertele-tele dalam menggambarkan serangkaian kasus yang menimpa anak kelas 11 IPS 4, sehingga bikin aku lumayan bosan bacanya.


  1. Konflik adu dombanya menggantung dan kurang greget. Sebenarnya taktik adu domba yang dipakai Arfa ini bagus. Dia sengaja mengembuskan kecurigaan terhadap Gita kepada Letta dan Raga. Sayangnya, Letta dan Raga nggak mengonfrontasi Gita, padahal mereka sangat yakin kalau Gita itu pengkhianat. Apalagi jika mengingat sifat temperamen Raga, rasanya wajar kalau cowok itu sampai melabrak Gita walaupun sudah dilarang Radit. Sayangnya, masalah adu domba ini nggak dikembangkan lagi.


  1. Kemunculan karakter Andro menurutku nggak penting banget buat kesuluruhan cerita. Mungkin pengarangnya bermaksud memberi Radit saingan cinta, tapi menurutku jadinya malah antiklimaks. Hubungan Andro dan Gita, dari saat jadian sampai akhirnya putus, terkesan dipaksakan dan klise. Kalo memang ini dimaksudkan sebagai cinta segitiga, konfliknya nggak terasa sama sekali. Tapi, kalo nggak, harusnya si Andro nggak usah dimunculin aja sekalian. Terus, gara-gara dia, momen-momen manis antara Gita dan Radit jadi menurun drastis yang malah bikin keseluruhan cerita jadi hambar. Padahal setelah buku pertama aku sangat mengharapkan ada gebrakan dahsyat dari Radit buat ngedapetin Gita. Apalagi di buku kedua Radit makin memperlihatkan perhatiannya ke Gita. Iya, Radit emang nembak Gita, tapi setelah itu jadi adem-ayem lagi, monoton lagi. Sayang sekali, karena chemistry Gita dan Radit di dua buku terdahulu sudah bagus banget, tapi jadi wasted di buku terakhir ini. Duh!

[caption id="" align="aligncenter" width="240"] Curhatannya Andro[/caption]

  1. Daripada cerita tentang jadiannya Gita-Andro, aku sebenernya berharap ada elaborasi lebih jauh lagi mengenai janji Gita ke Letta untuk nggak bakalan pernah nerima perasaan Radit. Sedikit pertentangan batin yang menguras tenaga, mungkin? Sedikit gontok-gontokkan antara Gita dan Letta gara-gara rebutan Radit juga boleh deh. Nggak sampe yang cakar-cakaran ato jambak-jambakkan juga sih. Tapi sedikit konfrontasi terbukalah mengenai perasaan masing-masing. Dan sedikit konfrontasi Radit ke Letta juga karena sudah bikin Gita janji kayak gitu (misal: “Emang elo sapa, Let? Emak gue?” gitu…) Daripada adem-ayem gitu, terus, BAM! Gita jadian sama Radit. Dan Letta pasrah aja nerima padahal sudah bela-belain menjauhkan Radit dari Gita. Kurang greget aja sih menurutku.Gara-gara kehadiran Andro juga, plot cerita malah jadi bergeser, nggak fokus ke acara balas dendam Arfa dan perkembangan hubungan Gita-Radit lagi. Malahan, aku ngerasa jadi baca dua cerita dalam satu novel selain tentang Zero Class, yaitu tentang masa lalu kelam Andro dan pergolakan batinnya setelah sang ibu meninggal. Ini malah bikin karakter Andro jadi lebih kuat dari Radit. Yang selalu melindungi Gita malah jadi si Andro. Padahal yang tokoh utama kan Radit. Seharusnya dia yang selalu melindungi Gita. Bahkan, Nathan saja menunjukkan perkembangan karakter. Jadi, menurutku, tokoh utama di buku ketiga ini malah si Andro. Which is mengecewakan buatku karena Andro bagaikan perusak suasana -_- Beda cerita ya kalo novel ini memang berkisah tentang Andro dan bukannya Radit, maka menurutku karakter Andro bakalan jadi keren banget deh.

Weleh, banyak amat ya yang bikin kecewa. But, please don’t get me wrong. Aku suka sama serial ini, tapi buku ketiga ini memang bukan favoritku. Aku suka sama buku kedua karena di situ misterinya sedikit demi sedikit mulai terungkap. Apalagi Radit mulai terang-terangan nunjukkin perhatian ke Gita. Tapi, aku kepincut habis-habisan sama buku pertama, soalnya Gita dan Radit bener-bener manis di situ. Meski demikian, karena ini trilogi, jadi buku ketiga harus dibaca juga dong. Masak nggak sih, kan nggantung jadinya. Pokoknya, asalkan happy ending, aku nggak keberatan ngerasa galau-galau dikit πŸ˜€

Oya, tentang diskriminasi di sekolah, aku sungguh berharap hanya terjadi di novel-novel saja. Nggak kebayang rasanya andaikata ini terjadi di dunia nyata. Apalagi para guru juga turut serta dalam tindakan tidak terpuji ini. Semoga nggak ada guru di Indonesia yang diskriminatif, menghakimi dengan cerita yang nggak berimbang, nggak adil, dan memusuhi para murid. Semoga guru yang seperti itu hanya ada di novel saja.

My rate: ♥♥

Will I recommend it? Kalo kamu sudah baca buku satu dan duanya, buku ketiga memang wajib dibaca sebagai penutupnya. Kalo belum baca sama sekali, ya baca aja. Lumayan menghibur, kok. Apalagi kalo kamu suka sama cerita-cerita cinta di sekolah. Tapi, buat adik-adik manis, acara balas dendam dan segala bentuk kekerasan di novel ini jangan ditiru yaaa. Kalo bahasa Banjarnya, don’t try this at home :p

Okeh, segitu dulu review-an sok tau dariku. Sampai jumpa di-review berikutnya ya.

Ciao ^_~